Health

Proses penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi walaupun dapat terjadi selama masa kehamilan
Posted on Aug 10, 2016   |   Branding
Mengenali hepatitis dan pencegahannya


9 Agustus 2016, PT Johnson & Johnson Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan acara edukasi media terkait penyakit hepatitis. Acara edukasi ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Hepatitis Sedunia yang jatuh setiap tanggal 28 Juli dan turut diperingati oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
 
Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada organ hati manusia yang dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti virus, bakteri, obat-obatan, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.  Penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang umum terjadi di negara berkembang dan berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat.
 
Prof. DR. Dr. David Handojo Muljono SpPD, FINASIM, PhD. dari Komite Ahli Hepatitis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa beban penyakit hepatitis bagi negara cukup signifikan. Di samping menyebabkan kesakitan dan kematian, hepatitis B dan C mengakibatkan kerugian sosio-ekonomi yang besar. Keparahan penyakit yang justru terjadi pada usia produktif sehingga investasi keluarga dan negara dalam asuhan (sejak kecil menjadi dewasa), pendidikan, dan ekonomi, menjadi sia-sia dan menyebabkan hilangnya produktivitas generasi yang terinfeksi penyakit ini. Semua ini diperparah dengan beban keluarga dan negara merawat penderita, dan biaya pengobatan yang amat besar.
 
“Hal ini terjadi pada Indonesia, dengan kejadian dan pengidap hepatitis B yang tinggi, dan hepatitis C yang tidak kecil. Peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2016 dengan tema “Know Hepatitis-Act Now!” atau “Ketahui Hepatitis, Saatnya Bertindak!” merupakan ajakan bagi semua pihak untuk bersama-sama dengan Pemerintah Indonesia mewujudkan Indonesia yang bebas hepatitis,” ujar Prof. DR. Dr. David Handojo Muljono SpPD, FINASIM, PhD.
 
Menanggapi ajakan tersebut, Vishhnu Kalra, President  Director PT Johnson & Johnson Indonesia, menyatakan dukungannya terhadap upaya tersebut. “Johnson & Johnson memandang kesehatan sebagai aspek yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Sudah menjadi kredo Johnson & Johnson untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dimana kami beroperasi. Sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan, kami berkomitmen dalam mendukung Pemerintah Indonesia mewujudkan Indonesia yang bebas hepatitis. Kami berharap kegiatan edukasi yang kami lakukan dapat membantu Pemerintah Indonesia dalam upaya preventif dan promotif untuk menanggulangi penyakit hepatitis.”
 
Penanggulangan penyakit hepatitis merupakan sebuah rangkaian yang mencakup edukasi, pengawasan, deteksi, hingga penanganan atau pengobatan. Salah satu kunci penting penanggulangan hepatitis adalah memutus mata rantai penularan hepatitis, salah satunya adalah penularan hepatitis vertikal dari ‘ibu hamil dengan hepatitis’ atau ‘yang beresiko hepatitis’ kepada bayinya.
 
Dr. dr. Hanifah Oswari, SpA (K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan, “Proses penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi walaupun dapat terjadi selama masa kehamilan tetapi sebagian besar (95%) terjadi pada proses persalinan. Bayi yang tertular hepatitis B akan tumbuh dengan penyakit tersebut tanpa menunjukkan gejala, tetapi dapat berkembang menjadi hepatitis kronis atau sirosis hati pada saat anak-anak atau dewasa. Bahkan, kondisi tersebut sewaktu-waktu dapat menjadi kanker hati karena hepatitis B. Untuk itu, ibu hamil dengan resiko hepatitis sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan apakah dirinya HBsAg positif atau negatif.”
 
Selanjutnya, dr. Hanifah juga menjelaskan bahwa bayi dari ibu dengan status HBsAg negatif atau tidak diketahui akan diberikan imunisasi aktif dengan pemberian HB 0 kurang dari 24 jam setelah lahir bersamaan dengan pemberian vitamin K-1. Bayi dari ibu dengan HBsAg positif akan diberikan imunisasi immunoglobulin kurang dari 24 jam setelah lahir bersamaan dengan pemberian HB 0 pada paha yang berbeda kemudian diikuti dengan imunisasi hepatitis B sesuai dengan program imunisasi nasional yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Saat bayi ini berusia 9-12 bulan, akan dilakukan tes HBsAg serta titer anti HBs.
 
Sementara itu, dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia menjelaskan bahwa penyakit hepatitis sesungguhnya dapat dicegah dan diobati. “Tata laksana pengobatan hepatitis yang komprehensif sesungguhnya telah tersedia di Indonesia. Mulai dari vaksinasi, pemeriksaan HBV, biopsi hati, monitoring pasien, pencegahan umum dan khusus, hingga konseling dan terapi. Hampir seluruh jenis obat antivirus hepatitis B bisa diperoleh di Indonesia. Sebentar lagi, obat-obat antivirus hepatitis C yang menjanjikan kesembuhan 100% juga akan tersedia. Namun, upaya pencegahan seyogyanya lebih diutamakan. Kenali penyakit hepatitis, jagalah kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan, hindari faktor resiko, lakukan deteksi dini, dan lakukan pengobatan hingga Anda benar-benar bebas dari hepatitis.” (FG)