Health

Depresi pasca persalinan biasanya terjadi setelah melahirkan
Posted on Jun 23, 2022   |   Branding
Cegah Depresi Pasca Persalinan

Depresi pasca persalinan biasanya dialami ibu setelah melahirkan dan itu bukan hanya perubahan mendadak dari gaya hidup yang menyebabkannya, tapi melibatkan ketidakseimbangan fisiologis yang mengatur keteraturan fungsi tubuh. 

Depresi pasca melahirkan merupakan kondisi yang cukup banyak dialami wanita setelah melahirkan. Diperkirakan sekitar 10–15% wanita mengalami kondisi ini. Meski demikian, banyak wanita yang baru melalui persalinan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami depresi. Depresi pasca melahirkan atau postpartum depression biasanya terjadi pada 6 minggu pertama setelah melahirkan. 

Para peneliti mencari penyebab dan alasan untuk kondisi yang melemahkan ini, dan mereka telah menemukan beberapa hasil yang sederhana dan menjanjikan. Ilmuwan dari University of California, Los Angeles (UCLA) melihat bahwa ketika perempuan memiliki jaringan dan dukungan yang baik dari keluarga mereka selama kehamilan, yang bersangkutan akan mengalami penurunan hormon stres tertentu, yaitu pCRH (placenta corticotropin-releasing hormone).

 "Sekarang kami memiliki beberapa petunjuk mengenai bagaimana dukungan orang dekat mungkin dapat meredam hormon stres seorang ibu, dan dengan demikian membantu mengurangi risiko terkena depresi pascapersalinan," kata Jennifer Hahn-Holbrook, ilmuwan dari National Institute of Mental Health UCLA dalam bidang psikologi dan rekan di Institute of Society and Genetics UCLA, dan penulis utama penelitian.

Dengan mengevaluasi 210 wanita hamil dari latar belakang yang berbeda pada usia kehamilan 19, 29 dan 37 minggu dan pada delapan minggu setelah kelahiran memberikan gambaran kepada peneliti mengenai struktur dukungan yang mereka miliki selama kehamilan dan mampu mengambil sampel darah untuk menguji kadar hormon yang berbeda. Studi ini menemukan bahwa wanita yang menerima jumlah dukungan terbesar memiliki gejala depresi lebih sedikit dan hormon stres pCRH yang lebih rendah selama trimester ketiga mereka. 

"Hasil penelitian kami, dan ilmuwan lainnya, menunjukkan bahwa dukungan yang rendah atau tidak adanya dukungan, merupakan faktor risiko yang signifikan untuk depresi pascapersalinan, dan bahwa dukungan yang kuat merupakan faktor protektif," kata Hahn-Holbrook. Laporan tersebut menunjukkan bahwa dukungan dari seluruh keluarga lebih kuat daripada pasangannya. 

Dr Hahn-Holbrook mengatakan bahwa tak ada keraguan bahwa ayah merupakan bagian penting dari kehamilan yang sehat. Bisa jadi dukungan dari ayah memengaruhi tingkat pCRH awal kehamilan, atau dukungan ayah dapat bertindak dengan jalur biologis atau perilaku yang berbeda sama sekali. Peningkatan tajam hormon pCRH selama kehamilan telah diketahui berkorelasi dengan kelahiran prematur, sebelum 37 minggu kehamilan, demikian menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Clinical Psychological. (red)