Baby & Kids

Anemia atau yang kita kenal dengan kurang darah tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, melainkan juga dapat menyerang anak balita dan usia sekolah.
Posted on Jun 21, 2022   |   Branding
Anak Anemia Rentan Terhadap Infeksi dan Kekebalan Tubuh

Anemia atau yang kita kenal dengan kurang darah tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, melainkan juga dapat menyerang anak balita dan usia sekolah. Sebagai informasi, anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Hal ini mengakibatkan, organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen sehingga membuat penderita anemia pucat dan mudah lelah. Anemia dapat terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga cadangan zat besi untuk pembentukan sel darah merah berkurang yang menyebabkan kadar hemoglobin (bagian utama dari sel darah merah yang mengikat oksigen) darah kurang dari normal.

Pada fase awal penyakit, anemia pada anak biasanya tidak menunjukkan gejala. Namun jika terus berlanjut atau kadar hemeglobin sangat rendah, kurangnya sel darah merah yang membawa oksigen menyebabkan tubuh kekurangan pasokan oksigen dan organ tubuh tidak berfungsi dengan baik sehingga timbul berbagai gejala seperti anak menjadi mulai lemas, lelah, lesu, kulit terlihat pucat, kuku jari tangan pucat, sesak napas, berat badan tidak naik optimal bahkan dapat terjadi penurunan berat badan. Selain itu pada kondisi ini, anak juga rentan terkena infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh. 

Selain itu berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigen ke jaringan berkurang. Anemia juga berdampak buruk pada otak anak karena dapat menyebabkan transfer oksigen terhambat, kecepatan hantar impuls syaraf terganggu, serta gangguan perilaku dan konsentrasi sehingga anak akan ,mengalami penurunan daya konsentrasi, daya ingat rendah, dan tingkat IQ yang rendah. 

Pencegahan 

Melihat dampak anemia yang cukup serius pada anak, perlu pendeteksi dini agar dapat segera diatasi dengan lebih baik. Kekurangan zat besi merupakan faktor utama anemia, sehingga untuk mencegahnya dengan cara mengajarkan dan membiasakan anak mengonsumsi makan sehat dan bervariasi. Pilih bahan pangan yang tinggi akan zat besi, folat, vitamin B12 dan vitamin C. Vitamin B12 bermanfaat untuk melepaskan folat sehingga dapat membantu pembentukan sel darah merah.

Makanan sumber vitamin B12 adalah daging, susu, dan hati. Sedangkan vitamin C penting dikonsumsi penderita anemia karena dapat membantu penyerapan zat besi. Vitamin C banyak terdapat pada jambu biji, apel, jeruk, dan bayam. Zat besi paling banyak terkandung dalam kelompok lauk-pauk, seperti hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap.

Dari kelompok zat tepung, dapat berupa gandum, jagung, kentang, ubi jalar, talas, beras merah atau putih, dan ketan hitam. Dari kelompok sayuran terdiri dari kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan dari kelompok buah, terdapat pada kurma, apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya. Untuk minuman, pilihlah minuman yang memiliki komposisi zat besi dan zink yang tinggi. Berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG), kebutuhan ideal anak usia sekolah adalah zat besi 10 mg dan zink 11,2 mg. Komposisi ini bisa dilihat kolom nutrisi di setiap minuman. (red)