Health

Siapa sangka jika ternyata brunch ternyata bisa menurunkan berat badan?
Posted on Jun 19, 2022   |   Branding
Brunch Ternyata Bisa Turunkan Berat Badan

Banyak orang bersantap di antara sarapan dan makan siang, atau yang kerap disebut dengan brunch. Mungkin mereka melewatkan sarapan dengan sejumlah alasan, sehingga brunch menjadi saat yang pas untuk mengisi perut. 

Brunch adalah istilah yang digunakan saat makan di antara waktu sarapan dan makan siang. Biasanya, konsep brunch banyak dilakukan oleh mereka yang tidak sempat sarapan di pagi hari dan baru bisa makan pada jam 10 atau jam 11 siang.

Untuk diketahui istilah ini berasal dari penggabungan kata breakfast (sarapan) dan lunch (makan siang). Menu yang dipilih untuk brunch ini biasanya makanan ringan alias camilan semacam kue. Siapa sangka strategi brunch ternyata membantu menurunkan berat badan, demikian menurut penelitian yang dilakukan para peneliti di University of Alabama di Amerika Serikat. 

Syaratnya adalah, brunch menjadi asupan terakhir di siang hari. Para peneliti mengamati dampak pengaturan jadwal makan, termasuk berpuasa 15 jam atau lebih. Hasil penelitian sebelumnya terhadap tikus memperlihatkan bahwa pola makan berdampak pada berat badan. 

Tidak hanya itu, dampak ini juga terlihat pada peningkatan pengeluaran energi dan penuruan massa lemak, pengurangan risiko penyakit kronis. Para peneliti melakukan pengujian yang sama terhadap manusia. 

Saat pengujian, 11 orang dewasa usia 20-45 tahun yang gemuk dibagi dua kelompok. Kelompok pertama makan pada pukul delapan pagi dan delapan malam. Kelompok kedua, makan pada pukul delapan pagi dan dua siang. Kedua kelompok mengonsumsi jumlah kalori yang sama. 

Para peneliti mendapati fakta bahwa mereka yang mengatur jadwal makan lebih awal, memperlihatkan efek positif pada metabolisme dan komposisi tubuh. Hasil penelitian tersebut juga memperlihatkan fleksibilitas metabolik, yaitu kemampuan tubuh untuk mengalihkan pembakaran kalori dan lemak, serta mengurangi perut kelaparan sepanjang siang hari. 

Courtney Peterson, PhD, kepala penelitian, menerangkan, pihaknya menemukan fakta bahwa makan antara jam delapan pagi dan dua siang dilanjutkan dengan puasa 18 jam mampu menahan keinginan makan sepanjang hari. Dale Schoeller, PhD, juru bicara The Obesity Society, menyatakan bahwa penelitian terhadap manusia, yang didahului penelitian terhadap hewan, memperlihatkan bahwa jadwal makan kala siang berdampak pada metabolisme. 

Dengan penelitian tambahan terhadap manusia terkait jadwal makan, menurut Dale, para peneliti bisa mengkreasikan gambaran lebih lengkap tentang metode inovatif terbaik untuk menghindarkan dan mengatasi obesitas alias kegemukan. (red)