Health

Luten yang terdapat pada Sayuran hijau dipercaya bisa memanjakan fungsi kognitif pada manusia
Posted on Jun 10, 2022   |   Branding
Konsumsi Sayuran Hijau Bisa Cegah Penurunan Daya Ingat

Manfaat kesehatan dari mengkonsumsi sayuran hijau seperti brokoli, kangkung, bayam dan sayuran lainnya sudah banyak dibahas oleh banyak ahli gizi dari berbagai negara. Bahkan Pentingnya Luten (pigmen nutrisi dan organik atau karotenoid) yang terdapat pada Sayuran hijau dipercaya bisa memanjakan fungsi kognitif pada manusia. Bahkan dikatahui Luten disebut dapat mengurangi peradangan pada penyakit jantung.

Sebuah penelitian dari University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat bekerja sama dengan University of Georgia di Athena, telah mengungkap manfaat kesehatan Lutein lainnya yaitu kemampuan untuk melawan penurunan daya ingat akibat penuaan. Peneliti utama Dr. Naiman A. Khan, dari Department of Nutritional Sciences di University of Illinois, dan rekan-rekannya telah menerbitkan temuan mereka di jurnal Frontiers in Aging Neuroscience.

 Para peneliti menggunakan premis bahwa penuaan kognitif mungkin muncul lebih awal daripada yang diperkirakan. Penelitian sebelumnya hanya memonitor penuaan kognitif pada orang dewasa lanjut usia, namun Dr. Khan dan rekan-rekannya ingin melakukan pendekatan yang berbeda. "Dengan bertambah usia, orang mengalami penurunan yang khas.Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa proses ini dapat dimulai lebih awal dari yang diharapkan. Kita bahkan mulai dapat melihat beberapa perbedaan di tahun 30an," kata penulis studi Anne Walk, seorang peneliti postdoctoral di Universitas Illinois. Dengan pemikiran ini, para periset merekrut 60 peserta dewasa berusia antara 25 dan 45, untuk menyelidiki apakah asupan Lutein dapat berdampak pada daya ingat mereka.

Para peneliti menjelaskan bahwa Lutein adalah zat alami yang tidak dapat disintesis dalam tubuh manusia. Inilah sebabnya mengapa harus diserap dari makanan yang mensintesisnya, seperti kangkung, bayam dan sayuran berdaun hijau lainnya, atau melalui suplemen makanan. Sekali berasimilasi dalam tubuh manusia, Lutein dapat dideteksi di jaringan otak maupun di retina mata, yang membuat penilaian tingkat Lutein lebih nyaman, karena pengukuran non-invasif dapat dilakukan. "Jika Lutein dapat melindungi terhadap penurunan (daya ingat), kita harus mendorong orang untuk mengonsumsi makanan kaya Lutein pada satu titik dalam kehidupan mereka bila memiliki manfaat maksimal," kata Walk. 

Pada kesempatan ini, para peneliti mengukur tingkat lutein di mata peserta dengan meminta mereka untuk menanggapi rangsangan cahaya yang berkedip-kedip. Aktivitas saraf di otak peserta dinilai oleh elektroda yang menempel pada kulit kepala, karena masing-masing peserta diberi latihan perhatian yang dirancang untuk menguji perhatian selektif mereka, penghambatan attentional (kemampuan untuk mengabaikan rangsangan yang tidak relevan), atau penghambatan respons (kemampuan untuk menekan impuls yang tidak tepat). 

Dr. Khan dan koleganya menemukan bahwa peserta yang menunjukkan tingkat lutein lebih tinggi secara kognitif lebih mirip dengan individu yang lebih muda daripada individu dengan usia yang sama dengan tingkat lutein yang lebih rendah. "Tanda tangan neuro-listrik dari peserta yang lebih tua dengan tingkat lutein yang lebih tinggi tampak jauh lebih mirip rekan mereka yang lebih muda daripada teman sebayanya dengan lutein yang kurang. Lutein tampaknya memiliki peran protektif, karena datanya menunjukkan bahwa mereka yang memiliki lebih banyak lutein dapat melibatkan lebih banyak sumber daya kognitif untuk menyelesaikan tugas,” kata Walk. 

Setelah penelitian ini, para peneliti berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana asupan Lutein yang lebih besar dapat mempengaruhi tingkat akumulasi karotenoid di retina, dan sampai sejauh mana tingkat Lutein benar-benar mempengaruhi kapasitas kognitif. "Dalam penelitian ini kami memusatkan perhatian pada perhatian, tapi kami juga ingin memahami efek lutein pada pembelajaran dan memori," jelas Dr. Khan. (red)