Baby & Kids

Anemia atau kurang darah pada anak bisa mengakibatkan si kecil menjadi lesu dan tidak bersemangat dalam beraktivitas.
Posted on May 15, 2022   |   Branding
Anemia Pada Anak-Anak Berbahayakah?

Anemia atau kurang darah pada anak bisa mengakibatkan si kecil menjadi lesu dan tidak bersemangat dalam beraktivitas. Jika anemia tidak segera diobati, hal ini bisa menyebabkan masalah pada tumbuh kembangnya dikemudian hari.

Untuk diketahui, Anemia adalah suatu kondisi ketika jumlah sel darah merah di dalam tubuh berkurang hingga di bawah batas normal. Penyakit ini bisa terjadi ketika tubuh kesulitan menghasilkan sel darah merah atau sel darah merah rusak. 

Di Indonesia sendiri permasalahan gizi merupakan momok yang menjadi salah satu penyebab timbulnya anemia. Anemia dapat terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga cadangan zat besi untuk pembentukan sel darah merah berkurang yang menyebabkan kadar hemoglobin (Hb) darah kurang dari normal.

Pada fase awal penyakit, anemia pada anak biasanya tidak menunjukkan gejala. Namun jika terus berlanjut atau kadar Hb sangat rendah, kurangnya sel darah merah yang membawa oksigen menyebabkan tubuh kekurangan pasokan oksigen dan organ tubuh tidak berfungsi dengan baik sehingga timbul berbagai gejala seperti anak menjadi mulai lemas, lelah, lesu, kulit terlihat pucat, kuku jari tangan pucat, sesak napas, berat badan tidak naik optimal bahkan dapat terjadi penurunan berat badan. Anak juga rentan terkena infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh.

Perilaku Tidak Biasa

Anemia pada anak juga dapat menimbulkan perilaku makan yang tidak biasa (yang disebut pica) seperti mengonsumsi es batu, tepung, tanah, rumput, dan daun-daunan. Kondisi ini biasanya pulih setelah anemia teratasi dan anak tumbuh dewasa. Pada  Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada anak akan memberikan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.

Penurunan Konsentrasi

Selain itu berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang. ADB juga berdampak buruk pada otak karena dapat menyebabkan transfer oksigen terhambat, kecepatan hantar impuls syaraf terganggu, serta gangguan perilaku dan konsentrasi sehingga anak akan ,mengalami penurunan daya konsentrasi, daya ingat rendah, dan tingkat IQ yang rendah. Akibatnya penurunan prestasi belajar dan kemampuan fisik pada anak.

Makanan dan Minuman Bergizi

Melihat dampak anemia yang cukup serius pada anak, perlu pendeteksi dini agar dapat segera diatasi dengan lebih baik. Kekurangan zat besi merupakan faktor utama anemia, sehingga untuk mencegahnya dengan cara mengajarkan dan membiasakan anak mengonsumsi makan sehat dan bervariasi. Dalam hal ini kita dapat memilih bahan makanan yang tinggi akan zat besi, folat, vitamin B12 dan vitamin C. Untuk makanan yang mengandung vitamin B12 kita dapat mengambilnya dari daging, susu dan hati. Sedangkan vitamin C banyak terdapat pada jambu biji, apel, jeruk, dan bayam. 

Untuk makanan yang mengandung zat besi banyak juga terkandung dari lauk-pauk seperti hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap. Dari kelompok zat tepung, dapat berupa gandum, jagung, kentang, ubi jalar, talas, beras merah atau putih, dan ketan hitam. Dari kelompok sayuran terdiri dari kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan dari kelompok buah, terdapat pada kurma, apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya.

Sedangkan untuk minuman, kita dapat memilih minuman yang memiliki komposisi zat besi dan zink yang tinggi. Namun bila Si Kecil masih menyusu, usahakan untuk tidak memberikan susu sapi sebelum dia berusia 1 tahun. ASI memang memiliki kandungan zat besi yang lebih rendah dibandingkan susu sapi, namun pencernaan bayi lebih mampu menyerap zat besi dari ASI daripada susu sapi. Sedangkan untuk anak usia sekolah kita harus memberikan minuman berdasarkan angka kecukupan gizi. Kebutuhan ideal anak usia sekolah adalah zat besi 10 mg dan zink 11,2 mg. Komposisi ini bisa dilihat kolom nutrisi di setiap minuman yang mereka konsumsi. (red)