Citybuzz

Beberapa saat lagi umat Islam di seluruh dunia memasuki bulan suci Ramadhan, dan keluarga Indonesia dihimbau melakukan persiapan kesehatan yang matang
Posted on Apr 01, 2022   |   Branding
Tetap jaga Kesehatan selama Puasa terutama Ibu Hamil dan Menyusui

Beberapa saat lagi umat Islam di seluruh dunia memasuki bulan suci Ramadhan, dan keluarga Indonesia dihimbau melakukan persiapan kesehatan yang matang agar dapat menjalankan puasa dengan tidak terhalang suatu apapun. Untuk diketahui berpuasa  memang dapat membawa perubahan terhadap tubuh dan tidak jarang menimbulkan berbagai masalah kesehatan terutama bagi ibu hamil dan menyusui.  Oleh karena itu, keseimbangan asupan nutrisi dan cairan sangat penting untuk diperhatikan. Masyarakat juga dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing agar dapat berpuasa dengan lancar.

Melihat hal ini dr. Yassin Yanuar MIB, SpOG,-KFER, M.Sc, Chief Executive Officer Bamed mengatakan, “Melihat kondisi Ramadhan yang akan datang di tahun ini akan perlahan kembali normal, penyebaran COVID19 dan penyakit yang timbul diluar COVID-19 pada cluster keluarga masih menjadi perhatian utama kami, walaupun mayoritas masyarakat sudah vaksin lengkap dan juga booster. Jangan sampai keluhan maupun pemeriksaan rutin bagi pasien dengan kondisi tertentu diabaikan.”

Pada kesempatan yang sama, dr. Adhimukti T. Sampurna, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, Chief Medical Ancillary Services Officer Bamed mengatakan, “Bulan suci ini kami akan berupaya untuk tetap menjaga pasien ketika melakukan kontrol dan memberikan edukasi secara online maupun offline. Agar masyarakat Indonesia dapat perlahan menjalani aktivitas yang normal di bulan suci tahun ini dengan rasa nyaman dan aman tanpa mengabaikan kesehatan keluarganya masing-masing.”

Berbicara tentang berpuasa bagi ibu hamil pada Virtual Media Briefing yang diselengarakan Bamed, dr. Muhammad Fadli, SpOG, Spesialis Kandungan dan Kebidanan Bamed mengatakan, “Sebuah penelitian menunjukkan berpuasa pada saat hamil di trimester kedua, dapat menurunkan risiko terkena penyakit gula pada saat kehamilan (Diabestes gestational) dan kenaikan berat badan yang berlebihan. Namun sebelum berpuasa, sebaiknya berkonsultasi ke Dokter spesialis kandungan terlebih dahulu untuk memastikan keadaan ibu dan janin dalam keadaan yang prima. Beberapa penelitian lainnya menunjukkan bahwa puasa juga tidak mengakibatkan bayi terlahir prematur ataupun bayi akan terlahir dengan berat badan lebih rendah dibandingkan yang tidak berpuasa. Namun demikian, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan ibu hamil sebelum puasa. Yang paling utama yaitu memastikan berat badan janin sesuai dengan usia kehamilan, air ketuban mencukupi dan mengetahui tanda-tanda yang wajib diperhatikan, seperti: berat badan ibu ataupun janin turun, tanda-tanda dehidrasi seperti haus yang berlebihan, pusing, air seni kuning pekat ataupun merasakan gerakan bayi yang berkurang. Penting untuk diperhatikan bahwa puasa saat hamil muda mungkin bisa sedikit berisiko bagi ibu hamil. Saat hamil muda, tubuh membutuhkan banyak nutrisi untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan bayi dalam kandungan. Hamil muda merupakan tahap di mana kehamilan sedang membutuhkan banyak sekali nutrisi penting. Apabila terdapat keluhan mual dan muntah pada trimester pertama dapat mengakibatkan resiko dehidrasi pada ibu dan berdampak pada janin. Namun selama ibu dan kandungannya dinyatakan sehat oleh dokter, ibu hamil diperbolehkan untuk melakukan puasa. Asalkan saat sahur dan berbuka ibu hamil harus memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ibu dan kandungannya

Pada kesempatan yang sama, dr. Melisa Lilisari, SpA, Mkes., Spesialis Anak Bamed menjelaskan, “Ibu menyusui tetap bisa berpuasa dengan catatan makanan yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka harus memenuhi kecukupan nutrisi dan juga kebutuhan cairan agar ibu tidak mengalami dehidrasi. Bagi ibu menyusui yang bayinya berusia di bawah 6 bulan, keputusan untuk berpuasa di bulan Ramadhan sebaiknya dilakukan dengan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu, mengingat pada usia tersebut bayi hanya mengkonsumsi ASI, berbeda dengan bayi yang lebih besar yang sudah mendapatkan MPASI.”

Tentang produksi ASI selama puasa, ia mengemukakan, “Produksi ASI tidak akan terganggu saat ibu menyusui berpuasa selama bayinya tetap menyusui, karena adanya rangsangan dari bayi melalui proses menghisap payudara saat menyusui dan tubuh ibu juga akan menyesuaikan saat berpuasa. Tubuh memiliki proses adaptasi dengan mengambil sumber cadangan lemak tubuh. Kandungan nutrisi mikronutrien pada ASI (kalium, magnesium, seng) bisa saja mengalami sedikit perubahan, namun tidak dengan nutrisi makronutrien (karbohidrat, protein, lemak). Namun hal ini tidak terlalu signifikan, bisa teratasi saat ibu sudah dapat makan kembali (saat berbuka dan sahur).”
“Selama bayi tetap disusui sesuai keinginannya, bayi tetap mendapatkan nutrisi yang cukup sebagaimana biasanya. Ibu menyusui dapat melanjutkan berpuasa bila bayi tidak lemas atau tetap terlihat aktif seperti biasa, tidak ada keluhan buang air kecil menjadi jarang dan berwarna kepekatan. Keluhan yang berkaitan dengan kemungkinan dehidrasi seperti pusing, bibir kering, lemas, pandangan berkunang-kunang, buang air kecil jarang dan berwarna kepekatan, harus diwaspadai. Bila hal ini terjadi, ibu menyusui dapat segera mengkonsumsi cairan dan elektrolit kembali.” (red)