Citybuzz

Dalam rangka memperingati 11 tahun melayani masyarakat dalam bidang kesehatan, Bamed membuka Klinik terbarunya di Bintaro, Tangerang Selatan.
Posted on Dec 17, 2021   |   Branding
Selama Pandemi BAMED tetap berkomitmen untuk kesehatan Keluarga

Dalam rangka memperingati 11 tahun melayani masyarakat dalam bidang kesehatan, Bamed membuka Klinik terbarunya di Bintaro, Tangerang Selatan. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari kampanye Bamed #11TahunTumbuhMelayani sebagai wujud komitmen Bamed untuk memberikan kontribusi bagi kesehatan individu dan keluarga Indonesia.

dr. Yassin Yanuar MIB, SpOG,-KFER, M.Sc, Chief Executive Officer Bamed mengatakan, “Kami bersyukur selama masa pandemi ini Bamed masih tetap melayani masyarakat. Kami senantiasa berkomitmen menghadirkan layanan kesehatan bermutu yang mengutamakan kesehatan keluarga dengan tetap memperhatikan berbagai standar terbaru, yaitu adaptasi kebiasaan baru untuk memastikan keamanan dan kenyamanan setiap pengunjung, staf medis dan staf penunjang.”

Pada kesempatan yang sama, dr. Ratu Abigail Audity, B.Med.Sc., MSi, Chief Marketing Officer Bamed dalam sambutannya mengatakan, “Pada usia 11 tahun Bamed telah memiliki 8 fasilitas layanan kesehatan yaitu 4 layanan di Jakarta, 1 di Bekasi, 1 di Medan, serta 2 di Tangerang Selatan yaitu Alam Sutera dan Bintaro. Klinik Bamed Alam Sutera telah diresmikan pada bulan Agustus 2021 dan Klinik Bamed Bintaro diresmikan dan mulai membuka layanan untuk masyarakat pada tanggal 1 Desember 2021. Lokasi Bintaro dipilih untuk mempermudah mobilitas pasien kami yang tinggal dan beraktivitas di Tangerang Selatan. Tentunya kami berharap dengan hadirnya Klinik Bamed Bintaro, pelayanan kami dapat lebih meningkat, baik secara kuantitas dan kualitas untuk memenuhi kesehatan keluarga. Dalam rangka terus tumbuh melayani dan mendukung kesehatan di masyarakat, Bamed Bintaro menyediakan layanan kesehatan Bamed Skin Care, Bamed Women’s Clinic, Bamed Child & Baby, Akupunktur Medik, Farmasi dan KULA Coffee House.”

dr. Adhimukti T. Sampurna, Sp.KK (K), FINSDV, Chief Medical Officer Bamed mengatakan, “Sesuai dengan visi dan misi kami, layanan kesehatan di Bamed menghadirkan pendekatan yang holistik, dengan SDM yang kompeten serta teknologi yang inovatif.”

Berbicara tentang kesehatan kulit, dr. Mohammad Yoga Adi Waskito, SpDV, spesialis kulit dan kelamin Klinik Bamed Bintaro mengemukakan, “Pada masa pandemi ada 3 masalah kulit yang sering terjadi yaitu, dermatitis atau eksim, maskne atau jerawat akibat pemakaian masker dan kulit kusam akibat cara berjemur yang salah. Dermatitis merupakan peradangan pada kulit yang dapat menimbulkan gejala seperti ruam kemerahan, kulit terasa gatal, kering, dan bersisik. Terdapat berbagai macam dermatitis dengan berbagai penyebabnya dan ciri khas karakteristik yang berbeda-beda. Contohnya pada Dermatitis Atopik beberapa faktor dapat menjadi penyebabnya, yaitu: faktor genetik, kulit kering, gangguan imun, dan faktor lingkungan. Keadaan ini seringkali bertambah parah dengan seringnya kita mandi pada masa pandemi ini yang akan membuat kulit akan menjadi lebih kering dan selanjutnya akan terjadi kerusakan pada struktur kulit yang akan menyebabkan proses peradangan lebih lanjut.

Dermatitis lainnya yaitu Dermatitis Kontak terjadi setelah kulit mengalami iritasi/peradangan akibat adanya paparan bahan kimia atau alergen tertentu yang mengenai kulit, seperti: sabun, detergen, cairan pembersih rumah tangga, pewarna, pewangi, nikel, lateks, produk make up, atau perhiasan. Hal ini juga bertambah sering terjadi pada masa pandemi akibat kita sering mencuci tangan dan menggunakan alkohol based hand sanitizer. Beberapa eksim sulit dan butuh waktu lama untuk disembuhkan. Cara terbaik untuk menghindari eksim kambuh kembali adalah dengan mengenali faktor pencetusnya. Apabila gejala terus berlanjut, sebaiknya berkonsultasi ke dokter spesialis dermatologi dan venereologi untuk dievaluasi lebih lanjut.”

“Penggunaan masker untuk aktivitas sehari-hari seringkali menimbulkan masalah jerawat atau maskne di area wajah yang tertutup oleh masker, seperti pada dagu, hidung, dan pipi bagian bawah. Pengunaan masker dalam waktu lama membuat kulit wajah terus bergesekan dengan masker, sehingga kulit wajah mudah berkeringat dan lembap yang menjadi sarana baik bagi kuman penyebab jerawat berkembang biak. Pengobatan maskne sama seperti dengan jerawat pada umumnya. Beberapa tips yang harus diperhatikan dalam menggunakan masker yaitu, harus mengganti masker jika sudah terlalu lembap, cuci masker kain setelah dipakai, membersihkan wajah sebelum dan sesudah pakai masker, selalu menggunakan pelembap untuk mengurangi gesekan kulit dengan masker, selalu menggunakan tabir surya dan menghindari pengunaan makeup yang terlalu tebal,” jelasnya.

Dalam presentasinya, ia mengungkapkan, “Masalah kulit kusam juga sering terjadi akibat cara berjemur yang salah. Beberapa cara berjemur yang benar yaitu saat kisaran UV index 3-5, sekitar 5-15 menit (untuk kulit terang), 15-30 menit (untuk kulit yang lebih gelap). Berjemur dilakukan sebanyak 2-3x seminggu dan hanya diperlukan 15% bagian dari seluruh badan saja dengan pilihan area badan seperti area punggung, kedua lengan bawah, punggung tangan, dan tungkai bawah, hindari daerah wajah dan leher, lindungi anggota tubuh lain dengan penggunaan topi, kacamata, dan tabir surya minimal SPF 30 PA+++ yang tahan air. Apabila sudah terjadi wajah kusam, flek atau bercak kecoklatan pada wajah dapat dikonsultasikan pada dokter spesialis dermatologi dan venereologi”.

Saat ini Bamed telah memiliki layanan Pico laser untuk mengatasi beberapa masalah kulit. Pico laser atau pico second laser merupakan salah satu jenis laser yang mampu menembakan sinar laser dalam waktu yang sangat singkat, yaitu selama 1/10-12 detik. Pico laser mempunyai waktu tembak 1/1000 lebih singkat dari sinar laser nano second yang sudah umum digunakan. Dengan menembakan sinar laser dalam waktu yang sangat singkat dengan energi yang optimal maka hasil nya akan lebih maksimal dan mempunyai downtime serta efek samping yang minimal. Pico laser bekerja dengan sistem ultra short pulse dengan high peak power yang menghasilkan efek foto akustik yang lebih efektif untuk pigmen dan tidak memengaruhi jaringan sekitarnya daripada laser nano second.

“Sebelum melakukan tindakan pico laser, dokter dapat memberikan saran pengunaan beberapa krim selama beberapa minggu yang bertujuan untuk mempersiapkan kulit untuk dapat dilakukan tindakan laser dan meminimalkan efek samping pasca tindakan laser tersebut. Sesudah tindakan laser sebaiknya hindari pemakaian skincare yg bersifat eksfoliatif dan dapat mengiritasi kulit, selalu gunakan tabir surya dan pelembap,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, dr. Nurida Memorisa Siagian, SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan Klinik Bamed Bintaro menjelaskan, ”Selama pandemi COVID-19, mempersiapkan kehamilan maupun sedang menjalani kehamilan tidak berbahaya bagi janin. Hal ini dikarenakan belum ada penelitian yang menunjukkan penularan COVID-19 dari ibu ke janin. Tetapi, ibu hamil merupakan salah satu kategori yang berisiko tinggi terpapar COVID-19 dan memiliki risiko inflamasi yang luas jika ibu hamil sudah terpapar COVID-19. Untuk itu persiapan sebelum hamil, ketika hamil, sampai menjelang persalinan dengan program kehamilan sangatlah penting demi menciptakan kehamilan yang aman dan sehat. Pada dasarnya pemeriksaan pasien untuk calon ibu dan calon ayah masih sama untuk menjalani program kehamilan. Tetapi penilaian kesehatan akan dilakukan lebih terperinci agar risiko penyakit dapat terhindar dan nantinya kehamilan yang sehat dapat terwujud.”

“Dalam melakukan program kehamilan (promil) sepasang suami istri harus melakukan pemeriksaan fisik secara langsung dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Fasilitas yang diberikan Bamed untuk mendukung program kehamilan yang aman dan sehat adalah dengan menyediakan USG 2D/3D/4D, USG transvaginal dan abdominal, pemeriksaan fetomaternal, farmasi di Bamed yang menyediakan vitamin serta obat yang dianjurkan oleh dokter, pemeriksaan lab yang bekerjasama dengan lab terpercaya, prenatal yoga dan senam hamil yang dapat diikuti oleh pasien selama kehamilan setiap minggunya. Bamed telah menyesuaikan fasilitas yang ada dengan keamanan dan kenyamanan pasien ketika melakukan promil di masa pandemi. Mulai dari prokes yang ketat di setiap klinik seperti pintu otomatis yang akan terbuka jika terdeteksi suhu normal dan ketika masker dipakai, hand sanitizer di setiap titik, pemeriksaan Covid-19 rutin untuk semua tenaga kesehatan, disinfektan ruangan secara rutin, alat-alat yang disterilkan setelah pemakaian, sampai proses janji temu yang sudah disesuaikan untuk meminimalisir waktu tatap muka yang terlalu lama,” ujarnya.

“Ketika seorang calon ibu sedang hamil, justru sangat dianjurkan untuk bergerak dan beraktivitas normal untuk menjaga kebugarannya. Bedanya, penerapan protokol kesehatan jauh lebih diperhatikan dan diusahakan agar tidak kelelahan. Aktivitas olahraga juga tetap dijalankan seperti berjalan kaki, yoga, maupun senam hamil. Tetapi sebelum melakukan yoga dan senam hamil, harus melalui persetujuan dokter yang menangani terlebih dahulu,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan, “Selama masa pandemi banyak juga pasangan yang berencana untuk menunda kehamilan. Bamed juga melayani kontrol alat kontrasepsi, pemeriksaan kandungan selama memakai alat kontrasepsi, pemasangan atau melepaskan alat kontrasepsi, dan juga pemberian obat kontrasepsi. Ada berbagai macam metode untuk menunda kehamilan seperti penggunaan kondom, kontrasepsi KB dengan cara diminum maupun dengan suntikan, pemasangan implan, IUD, maupun cara lainnya.”

Tentang kesehatan anak, dr. Melisa Lilisari, SpA, MKes, spesialis Anak di Klinik Bamed Bintaro mengatakan, “Menurut data Riskesdas tahun 2018, selama 5 tahun terakhir ada beberapa masalah kesehatan anak yang sering terjadi sehingga menjadi fokus utama untuk terus ditangani antara lain; Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), gizi buruk atau malnutrisi dan penyakit menular untuk anak dibawah 5 tahun seperti: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Pneumonia, TB Paru dan Diare.”

Ia mengungkapkan, “Terdapat 2 aspek penting yang harus diperhatikan untuk mengetahui ada tidaknya masalah dalam tumbuh kembang anak. Aspek Pertumbuhan (pertambahan ukuran), yang merupakan aspek fisik, yang meliputi angka berat badan anak, tinggi badan anak, dan lingkar kepala anak. Hal ini sangat penting dilakukan rutin setiap bulan terutama pada 2 tahun pertama untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan yang menandakan adanya permasalahan nutrisi sedini mungkin, sehingga dapat dilakukan intervensi. Caranya adalah dengan memasukkan angka berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala pada grafik pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin. Selain itu adalah aspek Perkembangan, yang menilai tentang peningkatan kemampuan atau kepintaran seorang anak yang dapat dikorelasikan dengan penilaian terhadap maturitas fungsi organ atau kualitas organ anak. Ada 4 komponen yang harus dinilai apakah anak berkembang sesuai dengan tahapan pencapaian anak seusianya dengan penilaian: motorik kasar, motorik halus, kemampuan komunikasi atau berbicara, sosial dan kemandirian.”

“Untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai atau tidak dengan anak seumurannya dan untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan, sudah pasti akan dilakukan oleh dokter spesialis anak ketika kunjungan biasa atau kunjungan vaksinasi. Tetapi orangtua juga dapat membantu memantau tumbuh kembang dengan memasukkan penilaian ke dalam aplikasi Primaku dari IDAI yang dapat di download secara bebas. Dengan cara itu, orangtua dapat memastikan apakah pertumbuhan dan perkembangan anaknya sudah baik atau belum. Pemberian nutrisi yang baik untuk anak juga harus diberikan pada masa pertumbuhan. Pada prinsipnya nutrisi anak yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan adalah komponen makronutrien yaitu karbohidrat, protein, lemak, dan komponen mikronutrien (berbagai jenis mineral dan vitamin yang terkandung dalam sayur dan buah yang beragam),” jelasnya.

“Pada masa pandemi seringkali orangtua khawatir untuk membawa buah hatinya ke fasilitas kesehatan untuk melakukan vaksinasi dan kontrol. Hal ini harus dihindari karena vaksin pada anak tetap menjadi prioritas, untuk menghindari munculnya kembali penyakit-penyakit yang seharusnya sudah dieradikasi karena vaksin,” tutupnya. (red)