Citybuzz

Beberapa waktu lalu, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bersama PT.Kalbe Farma, Tbk mengadakan diskusi Nasional tentang ‘Kebijakan Strategis Menuju Pelayanan Berkualitas
Posted on Nov 05, 2021   |   Branding
Layanan Berkualitas Bagi Penderita Kanker Di Indonesia

Beberapa waktu lalu, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bersama PT.Kalbe Farma, Tbk mengadakan diskusi Nasional tentang ‘Kebijakan Strategis Menuju Pelayanan Berkualitas yang diikuti oleh 350 profesional kesehatan, organisasi profesi, bebagai support grup dan perumahsakitan. Hal penting dalam pokok pembahasan Diskusi ini antara lain patient safety, pemerataan pelayanan, prinsip equity (semua pasien mendapat terapi yang optimal) serta standarisasi/evaluasi sistem. 

Untuk menciptakan layanan berkualitas Bagi Penderita Kanker di Indonesia, perlu harmonisasi dan orkestrasi oleh seluruh stakeholders sangat penting dilakukan dalam mewujudkan layanan kanker ini. Dengan terciptanya orkestrasi Tenaga kesehatan, Pemerintah, Media serta Masyarakat maka diharapkan dapat bekerja  sama secara harmonis untuk menanggulangi beberapa masalah dan diharapkan pasien dapat ditempatkan sebagai subyek penting dalam pelayanan kanker yang berkualitas di Indonesia. 

Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM,FACP, Ketua Umum YKI Pusat dalam sambutan nya mengatakan, “Saat ini, kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular dan menjadi beban kesehatan diseluruh dunia, baik dalam hal pembiayaan skrining, beban terapi, dan rehabilitasi akibat kanker yang menyerap dana cukup besar. Sebanyak 25-30% dana terbesar BPJS terserap di penyakit katastropik, kanker merupakan terbesar kedua yaitu 18%. Oleh karena itu, diperlukan konsep pelayanan kanker yang cost-effective dan terstandarisasi mengikuti patient safety.”
 
Ia melanjutkan, “Untuk menanggulangi beban kanker baik finansial dan kesehatan di Indonesia, YKI berpegang pada 4 pilar penanggulangan kanker yang pelaksanaannya perlu didukung oleh kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan agar dapat mempercepat terciptanya perawatan bagi semua orang atau Treatment for All. Keempat pilar penanggulangan kanker tersebut yaitu, peningkatan akurasi data kanker untuk kebutuhan kesehatan publik. Kemudahan akses terhadap deteksi dini dan diagnosis pada stadium awal sehingga angka harapan hidup menjadi lebih baik. Perawatan tepat waktu dan akurat dengan prinsip pengobatan yang akurat, yaitu efektif dan efisien, cost effectiveness yang berdampak pada penghematan pembiayaan, perawatan suportif dan paliatif dengan tujuan peningkatan kualitas hidup pasien kanker,” jelasnya. 

dr. Awal Prasetyo, M.Kes, Sp.THT-KL, MARS, Ketua Panitia Diskusi Nasional YKI yang juga adalah Ketua Bidang Organisasi YKI Jawa Tengah mengatakan, “Tantangan besar dalam penanggulangan 
kanker di Indonesia saat ini adalah semakin meningkatnya jumlah penderita kanker di Indonesia dan tingginya kasus kanker stadium lanjut saat pertama kali terdiagnosis. Rendahnya upaya skrining dan deteksi dini pada pasien kanker menyebabkan tingginya angka mortalitas. Masih tingginya animo masyarakat berobat kanker ke luar negeri dengan keyakinan bahwa hasil pengobatan dan kualitas yang diperoleh bisa lebih baik. Ini harus menjadi tantangan kita semua. Selain itu, belum jelasnya regulasi tentang sistem atau konsep pelayanan kanker yang terstandar atau berkualitas yang sama dengan yang ada di luar negeri, belum meratanya akses dan fasilitas kesehatan yang mampu memberikan layanan kanker serta belum meratanya sebaran dokter ahli kanker di Indonesia. YKI Jawa Tengah telah menyelenggarakan Diskusi Nasional tentang kebijakan strategi menuju pelayanan kanker berkualitas pada tanggal 23 Oktober 2021 lalu dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan health profesional dan masyarakat tentang pelayanan kanker yang baik yang berorientasi pada patient safety, mewujudkan pembiayaan yang cost-effectivenes dalam mengurangi beban finansial pelayanan kanker, meningkatkan pengetahuan pentingnya deteksi dini dan prevensi kanker, meningkatkan pemahaman konsep pengobatan kanker modern yang terstandarisasi dan cost-effectiveness, membentuk tim multidisplin yang bekerja interdispliner dalam penanganan pasien kanker yang lebih baik, merumuskan konsep dan sistem pelayanan kanker yang lebih baik di Indonesia, mengedukasi cara menjadi smart patient sehingga bisa mendapatkan pelayanan kanker yang lebih baik, mendukung program health tourism yang menjadi prioritas kesehatan dan pariwisata pemerintah, mengenalkan 4 pilar penanggulangan kanker dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI),” jelasnya. 

Ia menekankan, “Perlu adanya regulasi yang menekankan integrasi upaya preventif promotif. Upaya kuratif dan rehabilitasi yang dikelola secara komprehensif dalam suatu tata aturan yang orkestrasinya bisa dimainkan dengan indah demi patient safety yang multi dimensi. Diperlukan pengelolaan pasien oleh tim multi disiplin yang berpusat pada pasien sebagai insan yang utuh, serta memerlukan kepemimpinan tim yang berfungsi sebagai konduktor atau dirijen dalam suatu simfoni.
 
Pada kesempatan yang sama, dr. Eko Adhi Pangarsa, Sp.PD-KHOM, Ketua YKI Koord. Jawa Tengah menjabarkan, “Beberapa permasalahan yang ada saat ini, antara lain akses pelayanan kesehatan di Indonesia masih tertinggal di Asia salah satunya dengan jumlah 1.18 tempat tidur per 1.000 penduduk dibandingkan negara lain sebanyak 3.3 tempat tidur per 1000 penduduk. Dari data yang ada terjadi pengeluaran dana sebesar 11,5 miliar USD ke luar negeri untuk pengobatan dan kanker 
merupakan alasan kedua WNI berobat ke LN. Di samping itu, 70 % kasus kanker didapati pada stadium lanjut serta sampai saat ini pelayanan kanker belum memiliki standar kualitas serta 
kuantitas SDM / Faskes pemberi layanan yang belum merata.”
 
Ia mengatakan, ”Peran serta Pemerintah Pusat sangat diperlukan, antara lain dengan membentuk regulasi-regulasi yang mengatur sistem kerja tata kerja organisasi penyelenggara layanan kesehatan 
kanker, tatakerja dalam organisasi profesional pemberi layanan, serta untuk membentuk sebuah badan negara pengendalian kanker nasional sesuai rekomendasi WHO dengan program National Cancer Control. Dimana badan negara bersifat independent serta melibatkan unsur konsumen/pasien, mempunyai tugas memberikan rekomendasi tentang kebijakan dan prioritas negara dalam hal pengendalian kanker serta pelayanan kanker yang berkualitas. Selain itu perlu adanya pengembangan jejaring atau stratifikasi layanan kanker menuju terciptanya sistem jejaring kanker nasional yang optimal, komprehensif, dan cost effectiveness.” 

“Peran serta Pemerintah Daerah juga diperlukan dalam membuat kebijakan dan strategi pengendalian kanker, berupa pencegahan dan penanggulangan penyakit kanker melalui peningkatan upaya skrining dan deteksi dini dan penguatan fasilitas kesehatan yang mampu memberikan layanan kanker. Upaya penguatan deteksi dini ini harus kita pikirkan, sehingga minat masyarakat juga makin tinggi untuk melakiukan screening dan deteksi dini. Penguatan JKN dalam upaya deteksi dini juga sangat diperlukan, sehingga rakyat semakin mudah melakukan screening kanker, apalagi kalau kemudian sistim deteksi dini ini dikaitkan dengan pembiayaan terapi, dalam jangka panjang  diharapkan kanker stadium lanjut akan menurun kejadiannya di Indonesia. Dalam diskusi nasional ini juga diluncurkan suatu aplikasi deteksi dini OncoDoc yang diharapkan mampu bersinergi dengan 
kebutuhan deteksi dini dan kemudahan akses layanan, serta mendukung dengan sistem kesehatan yang sudah ada,” jelasnya. 

“Kita semua harus mendukung upaya health tourism dalam layanan kanker dengan standarisasi layanan mengacu pada standart pelayanan di luar negeri. Upaya akslerasi dengan membuka akses hubungan sister hospital dengan RS diluar negeri yang maju sebagai acuan akan mempercepat upaya menjadi center excellent di tingkat Asia. Dimana Sister hospital /strata teratas ini wajib memberikan mentoring kepada RS dibawahnya (baik mutu SDM dan sistem pelayanannya), sehingga upaya equity dalam pengelolaan kanker dapat tercapai di seluruh wilayah tanah air. 

Pemerintah diharapkan mendukung peran besar komunitas pasien kanker, yang terlibat langsung dalam pengendalian kanker di Indonesia ditingkat masyarakat, dengan 3 area kerjanya yaitu: Pendampingan pasien, Edukasi masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kanker, penyampaian aspirasi untuk perbaikan pelayanan kanker pada pihak yang terkait. Melawan kanker ini perlu kolaborasi banyak pihak, mulai dari penemuan penderita, perbaikin sistim kerja didalamnya, hingga tingkat perawatan paliatif. Orkestasi semua stakeholder ini sangat penting, sehingga kita mampu menurunkan angka kejadian/fatalitas serta memperbaiki angka harapan hidup penderita kanker di negara kita,“ tambahnya. 

Sementara ini, dr. Selvinna, M.Biomed, Marketing General Manager PT. Kalbe Farma, mengatakan, ”PT. Kalbe Farma,Tbk secara berkesinambungan mewujudkan komitmennya terhadap kesehatan masyarakat khususnya terhadap penderita kanker yaitu dengan menyediakan layanan (ekosistem) onkologi terintegrasi, yang memberikan solusi komprehensif kepada pasien kanker, melalui layanan diagnostik terpadu, terapi (pengobatan) hingga komunitas. Selain menjalani pengobatan, di sisi lain pasien harus tetap mendapatkan nutrisi yang baik selama menjalani perawatan. Nutrisi yang tepat menjadi penting karena bisa menghambat penurunan berat 
badan dan infeksi lebih lanjut, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Salah satu pendukung nutrisi bagi pejuang kanker adalah Nutrican. Nutrican merupakan makanan pelengkap maupun pengganti 
sebelum, selama, maupun sesudah menjalani terapi bagi pejuang kanker, yang tinggi energi dan protein serta diformulasikan khusus untuk pejuang kanker. Nutrican dirancang khusus untuk pejuang kanker dan memiliki kandungan penting seperti tinggi kalori, tinggi protein, 12 vitamin dan 8 mineral, Valin, Isoleusin, Leusin, sumber serat FOS, dan Omega 3 untuk memenuhi nutrisi pejuang kanker,” tutupnya. (red)