Citybuzz

Dalam memperingati Hari Kanker Paru Sedunia, Perhimpunan Onkologi Indonesia dan PT. Takeda Indonesia perduli dan menghimbau para pasien kanker paru untuk tetap patuh pada pengobatan dan tetap rutin untuk berkonsultasi dengan dokter mereka ditengah masa pandemi Covid-19.
Posted on Aug 27, 2021   |   Branding
Bagaimana nasib penderita Kanker Paru di masa Pandemi Covid-19?

Dalam memperingati Hari Kanker Paru Sedunia, Perhimpunan Onkologi Indonesia dan PT. Takeda Indonesia perduli dan menghimbau para pasien kanker paru untuk tetap patuh pada pengobatan dan tetap rutin untuk berkonsultasi dengan dokter mereka ditengah masa pandemi Covid-19. Hal ini harus dilakukan mengingat pentingnya untuk tidak menunda pengobatan kanker paru untuk menghindari risiko cepatnya penyebaran sel kanker.  

Dukungan terhadap peringatan Hari Kanker Dunia 2021 merupakan salah satu bentuk komitmen PT Takeda Indonesia terhadap pasien kanker paru di Indonesia, dengan mendukung Perhimpunan 
Onkologi Indonesia melalui kegiatan edukasi media dan melakukan acara webinar. PT Takeda Indonesia terus berupaya menyediakan akses terhadap pengobatan yang dibutuhkan oleh para pasien ALK+ NSCLC di Indonesia, serta bermitra dengan asosiasi medis untuk meningkatkan pengetahuan diagnostik, tatalaksana, dan mendukung pelatihan untuk memberikan pengetahuan terkini terkait ALK+ NSCLC kepada tenaga kesehatan di Indonesia.

Untuk diketahui Pasien kanker paru sangat rentan terhadap virus Covid-19 sehingga memerlukan perhatian khusus. Oleh karena itu, dalam menjalani perawatan dalam masa pandemi, pasien harus tetap memperhatikan keselamatan dirinya dengan melakukan skrining Covid-19, melakukan Prokes ketat serta menjaga imunitas tubuh dengan asupan gizi yang baik. 

Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, MPd.Ked, FINASIM, FACP, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi dan onkologi medik), Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI), mengatakan “Penyakit kanker adalah salah satu penyakit yang dikategorikan dalam kelompok penyakit tidak menular (PTM). Penyakit tidak menular lainnya adalah kelompok penyakit jantung, gangguan metabolik (misalnya diabetes melitus/kencing manis, penyakit darah tinggi, kolesterol, dan asam urat)”. 

Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) telah menetapkan definisi penyakit kanker adalah suatu kumpulan penyakit yang disebabkan oleh kerusakan gen. Penyakit kanker bersifat 
heterogen karena tergantung pada jenis mutasi gen yang terjadi pada sel dalam organ tubuh seseorang. Paru adalah salah satu organ tubuh manusia yang pada pria, merupakan organ tersering terkena penyakit kanker. Kanker paru juga merupakan penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia.
 
Menurut Global Cancer Statistic (Globocan) 2020, terdapat 1.796.144 kematian akibat kanker paru di dunia. Di Indonesia, angka kejadian kanker paru meningkat dari sebelumnya 30.023 pada tahun 2018, 
menjadi 34.783 pada tahun 2020. Angka kematian akibat kanker paru juga meningkat dari sebelumnya 26.069 pada 2018, menjadi 30.843 pada tahun 2020. 

Untuk diketahui sampai saat ini belum ada teknik ataupun sistem yang ditetapkan oleh WHO untuk dapat dipakai dalam skrining ataupun deteksi dini kanker paru. Di beberapa negara maju skrining ataupun deteksi dini adalah menggunakan pemeriksaan paru dengan pemeriksaan radiologi yaitu Low Dose CT Scan (CT Scan dosis rendah). Oleh karena sulitnya mendeteksi kanker paru secara dini, maka penelitian banyak ditujukan pada pengendalian faktor risiko, agar dapat menurunkan angka kejadian maupun kematian kanker paru. Salah satu faktor risiko penyebab kanker paru adalah paparan asap rokok serta polusi lingkungan. “Penting untuk diketahui bahwa setiap orang bisa mengidap kanker paru, sehingga perlu mengambil langkah-langkah untuk mulai mengurangi dan menghindari paparan dari bahan-bahan berbahaya terutama asap rokok serta polusi lingkungan. Oleh karena itu tetap biasakan untuk memeriksakan diri terutama paru secara teratur ke dokter di fasilitas kesehatan setempat terutama bagi perokok aktif maupun pasif, walaupun situasi pandemi Covid-19. Apabila seseorang terdiagnosis kanker paru, maka kami menghimbau agar pasien tersebut tetap semangat dan tidak takut untuk ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan yang memadai karena sudah ada prokes ketat,” jelas Prof. Aru. 

Dalam kesempatan yang sama, dr. Evlina Suzanna Sinuraya, Sp.PA, Spesialis Patologi Anatomi RS Kanker Dharmais menjelaskan, “Kanker paru biasanya dikelompokkan menjadi dua jenis utama yang disebut small cell lung cancer (SCLC/kanker paru sel kecil) dan non-small cell lung cancer (NSCLC/kanker paru bukan sel kecil). Jenis kanker paru ini tumbuh secara berbeda dan diobati secara berbeda pula. Namun pada dasarnya, NSCLC lebih umum terjadi dibandingkan SCLC.” Ia 
menambahkan, gejala kanker paru bisa berbeda pada setiap orang. Bisa jadi berhubungan langsung dengan paru-parunya, namun jika kanker tersebut sudah menyebar, maka gejala akan lebih spesifik 
pada bagian tubuh yang terkena penyebarannya. “Namun baik NSCLC maupun SCLC, gejala umum yang bisa dilihat seperti batuk yang tak kunjung hilang, batuk darah, nyeri dada hingga sesak napas, 
penurunan berat badan yang drastis, sakit kepala, hingga sakit tulang.” jelas dr. Evlina. 

Dalam 15 tahun terakhir telah banyak perkembangan keilmuan dalam hal biologi molekuler dan patologi yang tentu saja hal ini berakselerasi dengan perkembangan pengobatan terhadap kanker 
paru. Namun demikian hasil akhir pengobatan sangat erat kaitannya dengan kondisi pasien saat pertama kali terdiagnosis. Apakah dalam stadium dini, yang artinya tumor dalam diameter yang kecil 
dan belum terjadi penyebaran baik ke kelenjar getah bening maupun ke organ lainnya seperti otak, atau pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. 

Terkait pandemi Covid-19, pada dasarnya pasien kanker sangat rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Hal ini terjadi karena kontak yang sangat sering dengan sistem perawatan kesehatan, keadaan imun 
yang semakin rendah akibat kanker atau terapinya, dan yang paling utama karena terkait usia lanjut dan komorbiditas mereka. Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, M.Epid, FINASIM, FACP dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi medik RSCM menyatakan, “Beberapa penelitian menunjukkan, pasien dengan kanker paru dan mereka yang memiliki penyakit ganas terkait hematologi tampaknya memiliki risiko kematian tertinggi akibat infeksi SARS-CoV-2.” Oleh sebab itu, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini, terkhusus bagi pasien. Apalagi banyak terapi yang mengharuskan pasien menjalaninya langsung di rumah sakit. Namun, pengobatan kanker paru tidak terhalangi dengan adanya Covid-19. Pasien kanker paru, meski pun tergolong immunocompromised, dapat menjalani pengobatan tanpa kendala. Beberapa perkumpulan kanker dunia sama-sama membuat panduan untuk terapi kanker.”
 
Dalam presentasinya ia juga menjelaskan, “Untuk jenis NSCLC mutasi dapat berupa ALK positif NSCLC (ALK+ NSCLC). ALK (anaplastic lymphoma kinase) ada di tubuh saat manusia masih berbentuk embrio 
untuk membantu perkembangan usus dan saraf. Namun, bagi sebagian orang, gen ALK dihidupkan kembali dan menyatu (bergabung) dengan gen lain. Perubahan gen ini disebut fusi ALK atau penataan 
ulang ALK dan akhirnya dapat menyebabkan kanker. Ketika ALK menyatu atau bergabung dengan gen lain dan menyebabkan kanker paru-paru, seorang pasien dikatakan ALK-positif.” 

“Kanker paru sendiri dikendalikan oleh berbagai mutasi gen. Mutasi gen yang telah dikenali dan ditemukan obatnya adalah EGFR, ALK dan ROS-1. Dari ketiga gen ini, mutasi gen ALK merupakan 
sebagian kecil dari mutasi yang terjadi pada kanker paru di seluruh dunia. Obat-obatannya tergolong terbatas sehingga akses terhadap pengobatan ini menjadi sangat penting bagi para pasien, terlebih 
pemeriksaan ALK masih jarang dilakukan mengingat terbatasnya laboratorium yang mampu menjalankannya,” jelas dr. Ikhwan. 

Terkait pengobatan, bagi kanker paru dalam kondisi lanjut, stadium III dan IV misalnya, memang tidak bisa lagi melakukan tindakan operasi. “Pengobatan sistemik menggunakan obat mulai dari 
kemoterapi, imunoterapi, dan terapi target merupakan pilihan utama. Pemilihan dilakukan dengan mengetahui faktor pengendali perkembangan kanker. Sistem imun, mutasi Gen EGFR, ALK dan ROS 
merupakan pengendali tersebut. Pemeriksaan PDL-1 (penghambat sistem imun dalam menghancurkan sel kanker), mutasi gen EGFR, ALK dan ROS harus dilakukan melalui biopsi jaringan sebelum menentukan pengobatan. Jika salah satu mutasi gen positif, akan menentukan obat yang harus diberikan,” tutur Dr. Ikhwan.
 
Beberapa penelitian menunjukkan pemberian terapi yang tepat dapat meningkatkan harapan hidup pasien. Sebagai contoh, pemberian terapi target ALK (ALK inhibitor) dapat meningkatkan harapan 
hidup pasien hingga 89,6 bulan dibandingkan dengan harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi selain ALK inhibitor yaitu 28,2 bulan.5 Hal serupa juga terlihat pada pasien yang mendapatkan terapi 
target EGFR yang menunjukkan harapan hidup hingga 24,3 bulan dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan terapi selain terapi target EGFR yang menunjukkan harapan hidup hingga 10,8 bulan.6 
Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa pemberian terapi yang tepat pada pasien kanker paru dengan jenis NSCLC (stadium III) memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi yaitu hingga 40%.7 
Dari berbagai jenis terapi kanker, terapi target merupakan jenis terapi dalam bentuk tablet/kapsul yang dapat dikonsumsi di rumah. Metode terapi ini dapat memudahkan pasien, terutama dalam 
keadaan pandemi. Terapi dengan metode ini dapat mengurangi jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit, sehingga meminimalkan paparan pasien kanker paru terhadap COVID-19. Selain itu, terapi target 
memiliki efek samping yang cenderung dapat ditoleransi dengan baik seperti mual, muntah, diare, dan gangguan fungsi hati.8 Namun, jumlah tablet/kapsul terapi target yang perlu dikonsumsi pasien sangat bervariasi dari 1 – 8 butir dalam sehari. Oleh karena itu, kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi terapi target harus tetap terjaga untuk mendapatkan hasil pengobatan yang maksimal.9 “Masalah utama penanganan kanker paru sebenarnya pada biaya pengobatan yang luar biasa. Sakit yang berat membuat pasien menjadi sangat disiplin minum obat jika tak ada efek samping yang berarti. Selama ini pasien yang mendapat ALK inhibitor tidak terlalu mendapat efek samping berarti yang membuat mereka intoleran terhadap obat tersebut. Tantangannya ada pada akses serta beban biaya,” tambah dr. Ikhwan. (red)
foto ilustrasi: freepik