Citybuzz

Mendidik anak dan memberinya perhatian yang lebih bukanlah hal mudah, terutama pada masa pandemi covid 19 seperti sekarang ini.
Posted on Jul 19, 2021   |   Branding
Optimalkan Tumbuh Kembang Si Kecil di Masa Pandemi

Mendidik anak dan memberinya perhatian yang lebih bukanlah hal mudah, terutama pada masa pandemi covid 19 seperti sekarang ini. Keadaan yang sudah berlangsung hampir 2 tahun ini, membuat kita sebagai orangtua harus taat dengan protokol kesehatan yang ketat, apalagi sekarang anak-anak kita tidak bisa leluasa lagi bermain diluar rumah dan bertemu teman sebayanya. 

Perubahan ini bisa menimbulkan dampak kecemasan dan stress pada anak, sehingga kita sebagai orangtua harus pintar-pintar menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi anak.  

Berikut beberapa tips untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si kecil dimasa pandemi menurut dr Mesty Ariotedjo, Sp.A, saat siaran langsung di Instagram @hansaplast_id, minggu 18/7/2021 : 

1.Orang tua diharapkan jangan stress. Khususnya ibu coba luangkan waktu untuk bisa ‘me time’. Karena kalau orangtua stress, hubungan kita dengan si kecil dapat terganggu dan upaya untuk menstimulasi anak tidak bisa optimal.

2.Pastikan juga kebutuhan nutrisi anak terpenuhi, terutama anak-anak di usia golden age atau usia 1000 hari pertama pertumbuhan mereka. 

3.Berikan stimulasi pada anak sesuai dengan usianya. Misalnya pada usia 2-3 tahun anak gemar mencorat-coret, senang makan sendiri, gemar naik turun tangga, gemar membuat bangunan dan sudah bisa berintaraksi. Nah melihat hal ini kita dapat menstimulasi anak dengan mengajarkan anak makan dari piringnya sendiri, ajari anak menggambar di buku gambar, dan lain sebagainya. 

4.Berikan jadwal kegiatan keluarga agar lebih teratur. Kalau anak sudah bisa berinteraksi, libatkan anak agar mereka merasa memiliki kendali dan tidak tertekan.   

Selain itu menurut dr Mesty dalam menstimulasi anak, kita harus memperhatikan hal-hal berikut seperti; Membiarkan anak bebas bergerak (jangan terlalu membatasi gerak anak, eksplorasi merupakan salah satu bentuk stimulasi bagi anak). Selanjutnya pastikan anak memiliki waktu tidur yang cukup karena saat tidur, hormon perkembangan terstimulasi (setiap kelompok usia anak memiliki kebutuhan waktu tidur yang berbeda-beda) dan yang paling utama pastikan lingkungan aman bagi anak untuk meminimalisir anak terluka. 

Ketika anak melakukan aktivitas fisik dan aktif bergerak, kita tidak bisa menghindari anak untuk tidak terluka, kemungkinan anak untuk cedera ada saja. Nah kalau hal ini terjadi, kita tidak boleh panik dan sebagai orang tua kita harus tau  cara menangani luka anak. dr Mesty menjelaskan, bila dalam aktifitas anak terluka orangtua jangan panik dan tetap tenang. Selanjutnya beritahu anak bahwa semua akan baik-baik saja karena orang tua harus menenangkan mereka dengan cara memeluk atau mengusap-usap mereka. Selain itu kenali jenis luka, apabila tidak terlalu dalam, bersihkan dengan cairan antiseptik dan gunakan plester jika perlu. Jika ada pendarahan, hentikan darahnya terlebih dahulu, misalnya mengangkat lebih tinggi bagian yang berdarah dan kemudian bersihkan luka. Namun jika luka tertancap benda tajam misalnya pisau, jangan cabut sendiri karena bila prosedur tidak steril dapat beresiko infeksi, dan segera ke Rumah Sakit untuk penanganan lebih lanjut.  

“Kita harus menyediakan kebutuhan P3K selama pandemi. Obat luka seperti cairan antiseptik, plester, salep luka wajib kita sediakan. Nah khusus untuk anak pilih yang tidak menimbulkan rasa perih agar anak tidak trauma terhadap penanganan luka. Selain itu sediakan juga Oximeter, termometer dan obat penurun panas”, tambah dr Mesty. (red)