Citybuzz

5 dari 100 perempuan usia produktif di Indonesia serta 1 dari 10 perempuan di Asia, mengalami endometriosis. Sayangnya, sebagian besar pasien endometriosis di Indonesia mengalami keterlambatan penegakan diagnosis 9 sampai 10 tahun.
Posted on Jun 15, 2021   |   Branding
Deteksi Endometrosis Sejak Dini, tingkatkan Kualitas Hidup Penderita.

5 dari 100 perempuan usia produktif di Indonesia serta 1 dari 10 perempuan di Asia, mengalami endometriosis. Sayangnya, sebagian besar pasien endometriosis di Indonesia mengalami keterlambatan penegakan diagnosis 9 sampai 10 tahun.

Untuk diketahui Endometriosis adalah penyakit pada sistem reproduksi wanita. Kondisi ini dapat menyebabkan jaringan dari lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim. Endometriosis terjadi saat jaringan endometrium tumbuh di luar rahim. Seseorang mengidap endometriosis, jaringannya mengalami proses penebalan dan ini sama dengan siklus menstruasi. Namun, darah tersebut jadi mengendap dan tidak bisa keluar karena terletak di luar rahim sehingga dapat mengiritasi jaringan di sekitarnya.

Melihat hal ini PT Ingin Anak (PTIA) bersama dengan Bayer beberapa waktu lalu menyerukan pentingnya kepedulian terhadap endometriosis. Kampanye ENDometriosis ini ditujukan kepada Dokter, pasien dan masyarakat. Endometriosis merupakan penyakit kronis progresif yang diderita oleh perempuan usia produktif yang memerlukan pengobatan jangka panjang dan komitmen tinggi pasien.
 
Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH, Dokter pendiri SMART IVF dan Wakil Direktur Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI) Universitas Indonesia mengatakan, ”Penyakit endometriosis dapat menyebabkan keluhan nyeri haid kronik sehingga menghambat produktivitas perempuan dan bahkan mengganggu keharmonisan keluarga. Studi tentang Endometriosis di berbagai negara menunjukan bahwa penderita Endometriosis cenderung terpaksa ijin atau tidak masuk sekolah maupun tempat bekerja akibat keluhan nyeri yang sangat hebat.” 

Data di Amerika Serikat pada tahun 2002 melaporkan kerugian sebesar 22 milyar USD per tahun yang disebabkan oleh keluhan nyeri serta kekambuhan yang tinggi pada Endometriosis. Endometriosis juga merupakan salah satu penyebab gangguan kesuburan tersering pada pasangan yang belum memiliki keturunan. “Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda Endometriosis sejak dini merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penanganan kasus endometriosis yang sangat kompleks,“ jelas Prof. Budi.

Penting bagi Dokter untuk menerima pelatihan dan bimbingan untuk membantu mereka menemukan tanda-tanda endometriosis serta kondisi menstruasi lainnya. Semakin dini diagnosa, semakin cepat pasien menjalani pengobatan. Tanpa diagnosa, penyakit tidak hanya dapat berkembang, namun akan berdampak pada kualitas kesehatan dan hidup pasien. Selain gejala fisik dan terkadang melumpuhkan aktivitas pasien, endometriosis dapat berdampak pada semua bidang kehidupan perempuan termasuk hubungan, pekerjaan dan pendidikan. Endometriosis menyebabkan tingginya angka morbiditas, ketidakhadiran, dan biaya sosial ekonomi, juga berpengaruh pada kualitas hidup, pendidikan, tingkat kepercayaan diri dan kesuburan pada perempuan (fertilitas). 

Angel-Michael Evangelista, Presiden Direktur Bayer Indonesia mengatakan,”Bayer sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh PTIA dalam meningkatkan kepedulian terhadap endometriosis. Informasi dan komunikasi antara Dokter, pasien dan kelompok pasien merupakan langkah awal untuk membantu mempercepat diagnosis endometriosis yang saat ini rata-rata sekitar 7,5 tahun. Bayer berkomitmen untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien dan keluarganya melalui penelitian dan pengembangan pilihan pengobatan baru untuk penyakit termasuk penyakit endometriosis. Kami percaya bahwa Kampanye ENDometriosis yang informatif menandai langkah maju yang cukup besar dalam menangani penyakit kronis yang membutuhkan perjuangan jangka panjang”. 

Dr. dr. Andon Hestiantoro, SpOG(K), MPH, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Konsultan Fertilitas, Endokrinologi dan Reproduksi serta Dokter Peniliti Utama penelitian ENVISIOeN di Indonesia mengemukakan: “Setidaknya 5 dari 100 perempuan usia produktif di Indonesia serta 1 dari 10 perempuan di Asia, mengalami endometriosis. Sayangnya, sebagian besar pasien endometriosis di Indonesia mengalami keterlambatan penegakan diagnosis 9 sampai 10 tahun. Dapat dikatakan, mereka sudah menderita endometriosis namun tidak mengetahuinya lebih awal.“ Merujuk pada data RSCM tahun 2010 – 2011, sebanyak 43.4% pasien endometriosis merasakan nyeri berat yang berakibat tidak dapat beraktivitas sehari–hari, 36.7% merasa nyeri derajat sedang dengan keterbatasan aktivitas sehari–hari, dan 20% pasien dengan nyeri derajat ringan. 

Dr. Andon menambahkan,“Penatalaksanaan endometriosis hingga kini prinsipnya terdiri dari 2 pilihan yaitu konservatif dan bedah. Setiap tata laksana memiliki indikasi yang berbeda, seperti usia pasien, ada atau tidak nya massa, serta pertimbangan keinginan untuk memiliki anak. Endometriosis dikatakan sebagai penyakit yang bergantung pada estrogen sehingga pengobatan yang diberikan salah satu pilihannya adalah menggunakan obat yang menekan hormon. Pemberian pengobatan yang diberikan kepada pasien pun perlu mempertimbangkan sejumlah aspek seperti efektivitas, biaya, dan preferensi pasien. Pada sejumlah penelitian uji klinis, progestin dinyatakan sebagai terapi lini pertama. Dienogest telah diketahui bermakna mengurangi nyeri pelvis dan nyeri haid terkait endometriosis dengan dosis harian 2 mg. Hal ini juga ditunjukan dari hasil studi ENVISIOeN oleh Pan Asia yang dilaksanakan selama 24 bulan menunjukkan, dienogest 2 mg bekerja efektif dalam mengurangi nyeri panggul akibat endometriosis sekaligus meningkatkan kualitas hidup perempuan Asia dengan endometriosis. Studi ini dilaksanakan pada 887 pasien di 36 lokasi di 6 negara Asia, yaitu Korea Selatan, Thailand, Filipina, Singapura, Malaysia dan Indonesia.” 

Terkait pentingnya pemberdayaan pasien (Patient Empowerment), Wenny Aurelia, pendiri komunitas Endometriosis Indonesia menyatakan, “Endometriosis merupakan penyakit yang butuh kesabaran dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Dalam menjalankan terapinya tersebut, mereka sangat butuh dukungan dari sesama pasien sehingga mereka tidak merasa sendirian dalam berjuang melawan Endometriosis.” 

“Oleh sebab itu, kami berharap dengan berdirinya Endometriosis Indonesia pada 2015, komunitas ini bisa menjadi wadah berdiskusi, saling memberikan informasi yang benar tentang Endometriosis, sharing tentang pengalaman dan Dokter-Dokter yang berpengalaman di bidang ini, dan yang paling penting sebagai wadah untuk saling support antar pasien,” tutupnya.(red)

foto:freepik