Citybuzz

Saat ini masih banyak masyarakat yang memiliki presepsi bahwa setiap penyakit harus menggunakan obat atau antibiotik, padahal banyak penyakit infeksi khususnya yang disebabkan oleh virus bersifat self-limiting disease.
Posted on Jun 11, 2021   |   Branding
Penggunaan Antibiotik Yang Baik dan Tepat Kurangi Resiko Ancaman Kesehatan

Saat ini masih banyak masyarakat yang memiliki presepsi bahwa setiap penyakit harus menggunakan obat atau antibiotik, padahal banyak penyakit infeksi khususnya yang disebabkan oleh virus bersifat self-limiting disease. 

Dilain sisi penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter merupakan salah satu penyumbang terbesar angka AMR (Resistensi Antimikroba) atau dengan kata lainkebalnya mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit dan jamur terhadap obat antimikroba yang sebelumnya efektif untuk pengobatan infeksi menjadi tidak efektif. 

Berdasarkan data WHO, penggunaan antibiotik meningkat 91% secara global dan meningkat 165% di negara-negara berkembang pada periode 2000 – 2015 sehingga menjadikan AMR salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global yang paling berbahaya di dunia. Meskipun situasi  AMR di masing-masing kawasan berbeda, tetapi Asia merupakan kawasan yang memiliki prevalensi AMR yang tinggi sehingga dalam KTT Menteri Luar Negeri ASEAN plus Tiga ke- 21 di Vietnam beberapa waktu lalu, disepakati perlunya upaya bersama mengatasi AMR.

Menanggapi hal ini dukungan sektor swata dan kesadaran masyarakat berperan penting dalam pengendalian Resistensi Antimikroba (AMR) di Indonesia. Diperlukan kontribusi dari seluruh stakeholder kesehatan terkait dalam menerapkan tata laksana penggunaan antibiotik yang lebih baik di fasilitas kesehatan. Dukungan komunitas pasien yang berjalan sinergis dan saling melengkapi juga sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan AMR yang kian kompleks di era pandemi. 

Mengendalikan Penggunaan
Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD, K-PTI, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUD Dr. Soetomo mengemukakan, “Masih perlu upaya bersama untuk mengendalikan penggunaan antibiotik. Budaya menggunakan antibiotik yang bijak perlu ditunjang sistem promosi dan edukasi yang berkelanjutan. Jumlah tenaga ahli mikrobiologi atau patologi klinik perlu ditambah dan didistribusi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Kelengkapan alat-alat mikrobiologi dan standarisasi nasional serta keteraturan melakukan update pola resistensi kuman sangat diperlukan. Revisi tata laksana penggunaan antibiotik juga perlu dilakukan secara berkala.” 

dr. Erwin menambahkan, “Dari sisi masyarakat, masih terdapat persepsi bahwa setiap penyakit harus menggunakan obat atau antibiotik, padahal banyak penyakit infeksi khususnya yang disebakan oleh virus sebenarnya bersifat self-limiting disease, sehingga lebih banyak 
memerlukan istirahat dan nutrisi yang baik. Banyak pasien berusaha mengobati penyakitnya sendiri dan bahkan membeli obat termasuk antibiotik di apotek dan setelah penyakitnya memburuk, baru berkonsultasi ke dokter atau layanan kesehatan. Hal ini yang sering 
menyebabkan kuman menjadi resisten dan menimbulkan beban biaya menjadi lebih besar. Masyarakat perlu menggunakan antibiotik secara bijak, rasional dan tuntas supaya angka kesembuhan meningkat serta mengurangi lama rawat inap, angka kesakitan dan kematian, 
pembiayaan, penularan kepada orang lain dan mencegah resistensi. Selain meningkatkan peran semua pihak, termasuk pemerintah (dalam hal ini lintas kementerian) serta swasta untuk mendukung program pengendalian resistensi antibiotik, peningkatan implementasi program di semua fasilitas kesehatan juga penting untuk dilakukan,”

Silent Pandemic
Dalam kesempatan yang sama Vida Parady, mewakili Yayasan Orangtua Peduli (YOP), mengatakan, “Resistensi antibiotik merupakan krisis kesehatan dunia, bahkan disebut sebagai silent pandemic. Namun, banyak pihak belum peduli akan dampak resistensi antibiotik. Masih sering ditemukan tenaga kesehatan yang meresepkan antibiotik pada penyakit karena infeksi virus. Di sisi lain, masyarakat berpikir antibiotik dapat mencegah sakit menjadi lebih berat. Semua pihak 
bertanggung jawab untuk menekan laju resistensi antimikroba. Kami berharap pemerintah menerapkan peraturan dengan lebih tegas, misalnya melarang  toko obat atau apotek menjual antibiotik tanpa resep. Penyedia layanan kesehatan kami harap dapat menekan peresepan antibiotik broad spectrum yang tidak rasional. Pasien pun dapat meredam peresepan antibiotik yang tidak rasional dengan memahami strategi berdiskusi dengan tenaga kesehatan yang meresepkan antibiotik untuk penyakit akibat infeksi virus. Perusahaan farmasi juga perlu mendorong tenaga kesehatan dan konsumen untuk menggunakan antibiotik secara tepat guna sambil terus meningkatkan upaya R&D untuk mencegah kita semua kembali ke era pra-antibiotik,”

Untuk diketahui Sejak 2003, YOP telah berupaya meningkatkan literasi konsumen mengenai penggunaan  antibiotik yang bijak melalui berbagai strategi. Salah satunya dengan kegiatan edukasi rutin  yang disebut Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orang Tua (PESAT). PESAT telah dilaksanakan di Jakarta maupun di banyak kota lain, dari Aceh hingga Papua. Sejak tahun 2012, YOP bekerja sama dengan ReAct - Action on Antibiotic Resistance untuk melaksanakan 
program Bijak Antibiotik (Smart Use of Antibiotics/SUA) di Indonesia dengan, antara lain, meminta konsumen kesehatan tidak menggunakan antibiotik untuk 2 penyakit akibat infeksi virus, yaitu batuk pilek dan diare tanpa darah. 

Mengenai hal ini Handoko Santoso, Medical Director Pfizer Indonesia, Cluster Medical Lead – Indonesia, Singapura dan Pakistan, menjelaskan bahwa Pfizer mendukung program dan strategi One 
Health yang disuarakan komunitas kesehatan Indonesia dan dunia internasional. “Pfizer secara konsisten berupaya untuk memberikan kontribusi nyata dalam upaya mengatasi Resistensi Antimikroba melalui dukungan terhadap tatalaksana pemberian antibiotik yang tepat bagi para tenaga kesehatan profesional dan manajemen rumah sakit melalui program program penguatan kapasitas dan aktivitas edukasi yang bersifat ilmiah dan non promosional,” ungkapnya. 

Selama beberapa tahun terakhir, Pfizer menyadari peran serta sektor swasta termasuk pelaku industri farmasi diperlukan untuk menyukseskan Antibiotic Stewardship Program (ASP) di 
Indonesia. Pada tahun 2018, Pfizer berkontribusi pada peluncuran Panduan Praktik Klinis tentang Complicated Intra-Abdominal Infection dari Perspektif Indonesia. Ini merupakan pedoman klinis yang dikembangkan melalui kemitraan dengan perhimpunan medis terkait. 
Pada tahun 2019, Pfizer menyelenggarakan forum diskusi multi stakeholder yang dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan, ahli kesehatan terkemuka dari berbagai institusi untuk 
membahas AMR sebagai masalah kesehatan global serta implikasinya bagi Indonesia. Selain melaksanakan program edukasi publik tentang bahaya AMR melalui media massa, 

Pfizer tahun lalu bekerjasama dengan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), Kementerian Kesehatan dan asosiasi kesehatan terkait dalam mendukung pelatihan dan lokakarya-lokakarya tentang implementasi program penatagunaan antibiotik di lebih dari 70 
Rumah Sakit swasta di seluruh Indonesia. Kemitraan ini dilanjutkan tahun ini dengan memberikan pelatihan lanjutan tentang implementasi ASP di rumah sakit-rumah sakit swasta 
di Indonesia.” 

Hendra Wijaya, Category Lead Pfizer Indonesia, mengatakan bahwa selain terus membantu stakeholder kesehatan dalam menerapkan ASP, tahun ini pihaknya menginisiasi peluncuran program bantuan pasien bagi sejumlah rumah sakit pemerintah dan secara intensif akan 
melaksanakan program kerjasama penguatan tata laksana ASP di salah satu grup rumah sakit swasta terkemuka di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, kata Hendra, Pfizer Indonesia menginisisasi program Victory: Menang itu Tuntas, melalui Gerakan 2T: Tuntas Menentukan – bagi para tenaga kesehatan profesional dan fasilitas kesehatan agar menuntaskan penilaian penggunaan serta implementasi ASP dan Tuntas Menggunakan dan bagi para pasien agar mengonsumsi antibiotik secara tuntas sesuai dengan anjuran dokter. 

Melalui program ini, Hendra menambahkan, selain mendukung upaya tenaga kesehatan profesional dan rumah sakit mitra melalui rangkaian lokakarya edukatif virtual untuk membantu penguatan kapasitas tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) 
rumah sakit, Pfizer mendukung program edukasi masyarakat untuk mengkonsumi antibiotik dengan tepat, bijak dan rasional sesuai anjuran dokter. Selain itu, perusahaan juga menawarkan program bantuan dan keringanan bagi pasien yang memerlukan antibiotik Pfizer untuk dapat mengkonsumsi antibiotik mereka hingga tuntas (1 siklus penuh). Menurut rencana, program ini akan didukung oleh 20 apotek mitra di 17 kota di seluruh Indonesia. (red)