Citybuzz

Gejala Hipospadia dan kelainan genital pada anak dapat disembuhkan. Bila hal ini ditangani secara tepat akan membuat si penderita memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Posted on Jun 05, 2021   |   Branding
Hipospadia, Kelainan Organ Intim Anak Laki-Laki Bisa di Sembuhkan

Gejala Hipospadia dan kelainan genital pada anak dapat disembuhkan. Bila hal ini ditangani secara tepat akan membuat si penderita memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Namun sayangnya, masih terdapat beberapa hambatan dalam tatalaksana penyakit ini, antara lain karena sebagian besar masyarakat Indonesia relatif tidak terbuka untuk mendiskusikan kelainan genitalia pada keluarga mereka. Di samping itu terdapat beberapa faktor lain seperti pengetahuan masyarakat tentang kasus ini yang masih rendah, jumlah dokter urologi anak yang berpengalaman tidak banyak, serta adanya kekhawatiran orang tua jika anak harus menjalani operasi di era pandemi saat ini. 

Kelainan Bawaan
dr. Arry Rodjani, Sp.U (K), Dokter Spesialis Urologi Siloam Hospitals ASRI menjelaskan, “Hipospadia merupakan kelainan bawaan lahir pada genitalia pria yang ditandai dengan letak lubang saluran kemih yang tidak terletak pada ujung penis akan tetapi terletak pada bagian bawah batang penis. Kulit kulup yang tidak terbentuk sempurna dan tampak berkumpul dibagian atas penis sedangkan bagian bawahnya tidak tertutup (seperti hoodie) dan penis akan tampak bengkok saat ereksi. Hipospadia merupakan kasus kelainan genital yang sering ditemukan. Hipospadia tidak menimbulkan rasa sakit namun menyebabkan gangguan saat berkemih.Kelainan ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang yaitu gangguan pada fungsi reproduksi,  infertilitas, dan psikologi jika tidak diterapi dengan benar.” 

Untuk diketahui angka kejadianHipospadia ini berkisar 1 dari 200-300 kelahiran bayi laki-laki dan akhir-akhir ini disinyalir angka kejadian lebih kerap terjadi yang diduga karena faktor polusi udara, penggunaan insektisida pada bahan-bahan makanan, penggunaan kosmetik saat kehamilan dan zat-zat lain yang dapat mengganggu sistem endokrin saat kehamilan sebagai penyebab terjadinya hipospadia. Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena hipospadia. 

dr. Arry Rodjani, Sp.U (K) kembali menjelaskan, “Gradasi Hipospadia pada umumnya berdasarkan lokasi anatomis dari ujung lubang saluran kemih. Secara sederhana dapat dibagi ringan, sedang dan berat. Meskipun demikian lokasi anatomi dari ujung lubang saluran kemih mungkin tidak selalu cukup untuk menjelaskan tingkat keparahan dan sifat komplek dari penyakit ini. Perlu juga mempertimbangkan panjang penis, ukuran, bentuk, kualitas lempeng saluran kemih dan derajat kelengkungan penis. Diagnostik penderita Hipospadia dapat dengan mudah ditegakkan. Namun demikian, Hipospadia berat dengan testis yang tidak teraba baik satu sisi maupun keduanya, atau dengan kelamin ambigu, membutuhkan pemeriksaan genetik dan endokrin segera setelah lahir untuk menyingkirkan Disorder Sexual Development (DSD),” 

Ia menekankan, “Indikasi operasi rekonstruksi pada penderita Hipospadia bertujuan untuk fungsional dan kosmetik. Fungsional, artinya diharapkan penis lurus saat ereksi dan lubang saluran kemih 
dibuatkan sampai mendekati ujung penis sehingga pasien bisa berkemih dengan aliran urine yang lurus kedepan saat posisi berdiri, sedangkan tujuan kosmetik adalah penampilan penis seperti penis yang sudah disunat. Penting disadari oleh orang tua untuk tidak mengkhitan anak dengan Hipospadia karena kulit kulup yang ada akan digunakan untuk jaringan pembuatan saluran kemih.” 

Pembentukan Genital Tidak Sempurna
Sementara itu, tentang kelainan genital lainnya, Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U (K), Dokter Spesialis Urologi Siloam Hospitals ASRI menjelaskan, “Kasus kelainan genital karena bawaan lahir umumnya terjadi akibat pembentukan organ genitalia yang tidak sempurna selama bayi di dalam kandungan. Proses pembentukan organ genitalia ini melibatkan banyak faktor, mulai dari faktor genetik (kromosom seks), gonad, hormon, hingga reseptor hormon. Gangguan pada salah satu atau beberapa faktor dalam proses pembentukan ini akan dapat menyebabkan kelainan genital.” 

Ia memaparkan, “Kelainan bawaan genitalia merupakan kelainan yang cukup sering terjadi. Kejadian testis yang tidak turun (undescensus testis) sebagai contoh, terjadi pada 1% kelahiran anak laki-laki. 
Kelainan genital pada anak laki-laki umumnya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu kelainan pada penis dan buah zakar. Untuk kelainan pada penis, variasi kelainannya meliputi kulit penis menutupi lubang 
kencing (fimosis), ukuran penis kecil (mikropenis), penis tidak muncul (buried penis), serta lubang penis tidak pada tempatnya (hipospadia). Sedangkan kelainan pada buah zakar kasusnya seperti buah zakar yang tidak turun dan retraktil testis,” lanjutnya.”Lebih jauh ia menjelaskan, “Kasus kulit penis menutupi lubang kencing atau fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir masih dianggap sebagai kasus normal sampai usia anak 3 tahun. Seiring perkembangan usia, pada 90% anak laki-laki dengan fimosis, lubang kencing tersebut akan terbuka dan terlihat. Orang tua tidak perlu terlalu khawatir, tetapi terus melakukan pemeriksaan genital anak. Namun jika pada fase tersebut timbul infeksi, sulit kencing, sampai membentuk balon gelembung saat anak buang air kecil, orang tua harus segera membawa anaknya ke dokter. Pengobatannya dengan cara memaparkan lubang kencing dari penempelan kulit penis dan memberikan salep. Jika upaya ini tidak efektif, perlu dilakukan sunat.” 

“Kasus berikutnya penis yang tenggelam (buried penis). Kasus tersebut biasanya diamati pada lapisan lemak perut bawah yang agak tebal, dekat kelamin. Pada kasus itu, penis tertarik masuk ke dalam 
perut. Orang tua biasanya menduga penis anaknya kecil, padahal sebenarnya tenggelam atau tertarik oleh jaringan di bawah kulit. Pengobatannya bisa dengan sunat, tetapi berbeda dengan sunat pada 
umumnya, karena memerlukan teknik rekonstruksi khusus dengan cara membebaskan bagian yang menarik penis agar lepas. Kasus lainnya adalah lubang kencing tidak berada di ujung penis (hipospadia), bisa sedikit di bawah ujung dari glans penis, di batang penis atau di daerah kantung zakar (skrotum),” ia melanjutkan. 

Ia juga mengemukakan, “Adapun kelainan genital pada buah zakar ada dua jenis. Pertama, testisnya tidak turun (undescensus testis atau kriptorkismus). Sejak dalam kandungan, testis berada di dalam 
perut. Seiring perjalanan waktu, testis akan turun ke dalam kantong menjelang minggu-minggu kelahiran. Jika prosesnya terganggu, testis akan tertahan di posisi yang tidak seharusnya. Kantong 
zakar kanan dan kiri berbeda kerena satu terisi dan satunya kosong. Sementara itu, pada retraktil testis, testis dapat naik turun, kadang berada di dalam kantong zakar, kadang naik. Kondisi itu biasanya membaik dengan sendirinya. Meski begitu, volume dan ukuran testis perlu dipantau setahun sekali. Dengan bertambahnya usia, diharapkan volume testis juga bertambah.” 

Lakukan Observasi 

“Kelainan genital pada anak merupakan sesuatu yang mudah dilihat, diraba, dan diobservasi dengan kedua mata. Orang tua mempunyai peran penting untuk ikut mengenali kelainan genitalia anaknya, khususnya di awal 2 tahun pertama kehidupan saat mereka membantu memandikan, mengganti popok hingga mengajari toilet training. Meskipun kasus seperti itu lebih banyak terjadi pada anak laki laki, tidak tertutup kemungkinan anak perempuan pun bisa mengalaminya. Jika ada kecurigaan, segera periksakan ke dokter agar mendapat tindakan segera dan tepat. Jangan sampai telat sehingga berakibat anak mulai mengalami kebingungan akan identitas gendernya ataupun mengalami gangguan psikologis,” himbau dr.Irfan. 

DIlain sisi Dr. dr. Nur Rasyid, SpU (K), Ketua Asri Urology Center (AUC) mengatakan, “Melengkapi layanan yang sudah ada sebelumnya, Siloam Hospitals ASRI meluncurkan layanan terbarunya yaitu Hipospadia Center. Layanan ini diharapkan dapat memberikan layanan terbaik untuk masalah  Hipospadia dan kelainan genital lainnya pada anak. Di layanan ini, orang tua dapat melakukan layanan telekonsultasi, sehingga informasi yang tepat dan sahih langsung didapatkan dari ahlinya. Telekonsultasi juga dapat membantu memberikan informasi menengenai persiapan apa saja yang diperlukan sebelum melakukan operasi, serta informasi mengenai pasca-operasi yang sangat 
membantu bagi para pasien dari luar kota. “Jaringan rumah sakit Siloam yang luas juga memungkinkan dilakukannya sistem rujukan langsung yang berkelanjutan, khususnya pada pasien yang tinggal di daerah. Di Siloam Hospitals ASRI juga terdapat pilihan-pilihan paket pelayanan bagi pasien Hipospadia, termasuk bagi pasien JKN.” 

Protokol Kesehatan
dr. Lily Arianti Widya Winata, M.Kes, CEO Siloam Hospitals ASRI  mengatakan, “Siloam Hospitals ASRI berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal, terutama di masa pandemi. Salah satu upaya kami adalah implementasi clean & safe hospital dengan menerapkan protokol kesehatan ketat demi keamanan dan keselamatan pasien dan pengunjung yang berobat ke Siloam Hospitals ASRI. Implementasi clean and safe hospital yang dilakukan secara internal antara lain dengan menyediakan dan mewajibkan seluruh tenaga kesehatan serta karyawan rumah sakit melakukan pemeriksaan tes COVID-19 (swab antigen, RT-PCR, dan antibodi kuantitatif) secara berkala, menggunakan alat  pelindung diri (APD) berdasarkan zona yang sesuai dengan protokol kesehatan COVID 19, dan mendapatkan vaksinasi. Kami juga melakukan proses disinfeksi rutin terhadap seluruh fasilitas RS.” 

“Bagi pasien dan pengunjung yang akan masuk ke dalam RS, selain wajib memakai masker dan mencuci tangan, kami juga melakukan skrining (baik berupa form deklarasi kesehatan maupun pengukuran suhu) dan bagi pasien yang akan dirawat dan pendampingnya juga wajib melakukan tes COVID-19. Semua hal yang dilakukan Siloam Hospitals ASRI ini untuk menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan seluruh pasien, pengunjung, tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit. Pada akhirnya, di situasi pandemi ini kami berharap tidak ada lagi pasien yang khawatir atau takut untuk berobat ke Siloam Hospitals ASRI,” jelasnya. (red)