Citybuzz

Hipertensi tercatat merupakan penyakit penyerta atau komorbid tertinggi dan berbahaya bagi pasien terinfeksi virus Covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia.
Posted on Feb 28, 2021   |   Branding
Waspadai Hipertensi sebagai Penyakit Penyerta Tertinggi Covid-19

Hipertensi tercatat merupakan penyakit penyerta atau komorbid tertinggi dan berbahaya bagi pasien terinfeksi virus Covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia.

Untuk diketahui Hipertensi dapat memperburuk perjalanan Covid-19 sehingga diperlukan suatu kewaspadaan khusus tentang hal ini.

Sehubungan dengan itu, dalam masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat dianjurkan dan dihimbau untuk memantau tekanan darahnya sendiri secara teratur di rumah. Di samping itu, masyarakat juga diingatkan untuk menggunakan fasilitas telemedicine yang telah tersedia dengan berbagai pendekatan.

Menanggapi hal ini dr. Frits Reinier Wantian Suling, Sp.JP(K), FIHA, Chairman of Organizing Committee 15 th Annual Scientific meeting of InaSH, dalam sambutannya secara virtual meeting dengan beberapa peserta dari Indonesia dan luar negeri, seperti Jepang,Amerika Serikat, Australia, mengatakan “Dalam event kali ini diselenggarakan Joint Symposium with International Society of Hypertension (ISH), Joint Symposium with Korean Society of Hypertension serta 4 workshop. Di samping itu, akan dilakukan pula peluncuran Konsensus 2021, yaitu ‘Konsensus Penata laksanaan Hipertensi 2021 serta Update Konsensus PERHI 2019.Kami berterima kasih saat ini sekitar 2.000 peserta telah mendaftar, yang walaupun di tengah pandemi, tetap antusias mengikuti acara ini,” tambahnya.

Sementara itu dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, President of Indonesian Society of Hypertension (InaSH) mengatakan, “Riskesdas tahun 2018 mencatat sebanyak 63 juta orang atau sebesar 34,1% penduduk di Indonesia menderita hipertensi. Dari populasi hipertensi tersebut, hanya sebesar 8,8% terdiagnosis hipertensi dan
hanya 54,4% dari yang terdiagnosis hipertensi rutin minum obat.”

Ia menambahkan, “Data terkini menyebutkan bahwa hipertensi merupakan komorbid tertingi Covid-19, di dunia termasuk di Indonesia, dengan perbandingan di AS sebanyak 56,6 %, China 58,3%, Italia 49 % serta Indonesia 50,5 %. Penting diingat bahwa angka kematian akibat hipertensi di dunia termasuk di Indonesia sampai saat ini masih stagnan. Angka kematian hipertensi seluruh dunia dilaporkan lebih dari
9,4 juta/tahun dan merupakan yang tertinggi dibandingkan penyakit-penyakit lainnya, baik di negara-negara maju maupun yang sedang berkembang bahkan di negara-negara tertinggal sekalipun.”

Dalam presentasinya, ia juga memaparkan, bahwa pengelolaan hipertensi di masa Covid-19 apabila ditinjau dari segi regimen terapi sebenarnya sama dengan era non Covid. “Masalah yang dihadapi yaitu enggannya pasien hipertensi untuk follow-up ke RS/Puskesmas karena adanya batasan-batasan dan untuk menghindari paparan Covid-19. Dalam situasi seperti ini, maka pengukuran tekanan darah sendiri di rumah menjadi  penting dan harus digalakkan di samping penggunaan telemedicine dengan multi disiplin approach menjadi
pilihan yang baik .”

dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH lebih lanjut mengatakan, “Penggunaan obat-obatan anti hipertensi pada masa Covid-19 oleh asosiasi profesi terkait hipertensi diseluruh dunia menekankan bahwa pada pasien-pasien hipertensi yang terkena Covid-19, maka obat anti hipertensi yang digunakan sebelumnya harus dilanjutkan. Karena hipertensi memperburuk perjalanan Covid19, maka perlu perhatian dan kewaspadaan khusus menghadapinya. Namun sayangnya, sampai saat ini kepedulian terhadap hipertensi dan kesadaran akan pencegahan sekaligus pengobatannya di Indonesia masih rendah. Sebagian besar penderita hipertensi tidak menyadari bahwa dirinya telah menderita hipertensi sehingga tidak mendapatkan pengobatan.

Pada kesempatan yang sama, dr. Eka Harmeiwaty, SpS, Sekretaris Jendral InaSH, mengatakan, ”Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi perlu dilakukan deteksi dini pada kelompok usia dewasa yang berumur 18 tahun ke atas. Di lapangan kadangkala terdapat kendala dalam menegakkan diagnosis pasti hipertensi karena dari dari hasil pengukuran ada kategori lain yaitu white coat hypertension (hipertensi jas putih) dan masked hypertension (hipertensi terselubung).”

“Hipertensi jas putih sering ditemukan pada pasien hipertensi derajat 1 (tekanan darah siatolik 140-159 dan atau tekanan sistolik 90-99 mmHg) pada pemeriksaan di klinik namun pada pengukuran di rumah tekanan
darah normal. Pada individu ini tidak perlu diberikan pengobatan namun perlu pemantauan jangka panjang karena berisiko terjadi hipertensi di kemudian hari. Prevalensi diperkirakan 2,2 – 50 % dan sangat di
pengaruhi oleh cara pengukuran di klinik,” lanjutnya.


Ia menambahkan, “Sebaliknya, hipertensi terselubung menunjukkan tekanan darah normal saat diperiksa di klinik, namun pengukuran di luar klinik hasilnya menunjukkan tekanan darah yang meningkat. Dari berbagai studi prevalensi adalah 9-48 %. Hipertensi terselubung ini mempunyai risiko tinggi kerusakan organ. Untuk mengetahui hipertensi jas putih dan hipertensi terselubung dibutuhkan pemeriksaan tekanan darah di rumah yang selanjutnya disingkat dengan PTDR.”
“Di tengah pandemi PTDR ini sangat bermanfaat , karena sebagian pasien enggan ke rumah sakit terutama pasien lansia. Hasil PTDR bisa dikonsultasikan kepada dokter yang merawat secara online baik dengan
chatting via medsos atau telemedicine. PTDR ini disarankan pada pasien hipertensi terutama bagi pasien hipertensi dengan gangguan ginjal, diabetes, dan wanita hamil dan juga pasien dengan kepatuhan
pengobatan yang buruk,” jelasnya.

Selain itu  dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), Ketua Kelompok Kerja Penelitian dan Registri mengatakan, “InaSH selalu berupaya untuk memberikan informasi terkini bagi para dokter seluruh Indonesia dalam hal tata laksana hipertensi. InaSH juga sangat konsisten untuk menerbitkan panduan tata laksana hipertensi setiap tahunnya bersamaan dengan acara ilmiah tahunan Inash. Di tahun 2021 ini , InaSH memberikan “update” terhadap panduan tahun 2020 dalam hal tata laksana terkini hipertensi. Panduan ini meliputi penambahan
dalam hal klasifikasi tekanan darah, ratifikasi risiko kardiovaskular, inisiasi pengobatan tekanan darah, target tekanan darah serta peran telemedicine di era pandemi untuk manajemen hipertensi.” (red)