Fatherhood

Dulu para ayah lebih banyak bertugas sebagai sumber nafkah keluarga. Zaman sekarang, hal itu sudah berubah.
Posted on Feb 28, 2021   |   Branding
Saat Ayah di Rumah

Tidak bisa dipungkiri bahwa tanggung jawab mengurus anak seringkali berada di pundak ibu. Urusan sekolah anak, belanja bulanan, menyiapkan makanan, membayar tagihan rutin, tetek bengek urusan rumah tangga, dan lainnya, biasa dikerjakan oleh para super mom. 

Lantas, apa dong kerjaan ayah di rumah, kalau begitu? Bila dulu para ayah lebih banyak bertugas sebagai sumber nafkah keluarga, maka jaman sekarang pemikiran tersebut sudah berubah. Karena para ibu masa kini banyak juga yang menjadi wanita karier di luar rumah, meski tidak melupakan tugas-tugas domestiknya. Sebab itu, para ayah di jaman sekarang tak bisa lagi disebut sebagai pencari nafkah keluarga semata. Mereka adalah kepala keluarga yang memiliki peran dan tugas yang sejajar dengan istrinya di rumah. 

Sebuah survey di Amerika Serikat menyebutkan bahwa peran ayah dalam keluarga sekarang ini semakin meningkat. Bahkan mereka tak sungkan-sungkan menyingsingkan lengan untuk membantu istrinya mengurus rumah tangga. Bahkan sampai ada yang sampai mengambil cuti kerja saat menjadi ayah baru, karena ingin memiliki waktu yang lebih banyak bersama bayinya. Lantas apa saja yang bisa dilakukan para ayah bagi keluarga, terutama bagi anak-anaknya?

Emansipasi Pria 

Bahkan ketika anak masih berada dalam kandungan pun, ayah masa kini rajin mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan kehamilan istri, misalnya: ikut menemani istri perika kehamilan, ikut kegiatan istri saat senam hamil, membaca buku cara menyambut kelahiran, berbelanja kebutuhan bayi dan ibu hamil, hingga puncaknya menemani istri saat melahirkan. Keikutsertaan ayah tak berhenti sampai di situ. Bahkan setelah bayi lahir ke dunia, ayah baru jaman sekarang mau membantu mengurus bayi: mulai dari mengganti popok, memandikan bayi, hingga rela berjaga malam hari demi menemani si buah hati. Itulah wujud emansipasi pria masa kini. 

Terus Dilibatkan

Sesuai kultur Timur, saat bayi lahir pasti banyak keluarga dekat yang tiba-tiba ingin melihat Si Kecil yang baru lahir atau malah sekalian mengulurkan bantuan untuk menjaganya. Bila ini yang terjadi, usahakan agar tidak mengganggu porsi sang ayah dalam merawat sang bayi. Terus libatkan ayah dan berikan keleluasaan padanya, agar ia tidak merasa diabaikan. 

Ikut Bermain 

Ketika bayi mulai tumbuh, tuntutan bermain pun jadi semakin besar. Bisa jadi ayah sibuk bekerja dan baru pulang malam hari. Tidak mengapa, namun kalau ada waktu, sebisa mungkin luangkanlah bersama Si Kecil. Daripada membaca koran atau menonton TV atau melihat gadget, misalnya, lebih baik bermain-main bersama buah hati, sebelum ia tertidur. Bacakan ia cerita yang menarik, atau bermain kuda-kudaan misalnya, bisa jadi alternatif kegiatan yang mendidik sekaligus menyenangkan. 

Dengarkan ceritanya

Khusus bagi Anda yang memiliki anak balita, biasakan untuk mendengarkan ceritanya. Karena saat usia 3 tahun ke atas, anak-anak cenderung mulai mengembangkan kemampuan lisan, selain kemampuan motoriknya. Walaupun bahasanya sulit dimengerti, namun tidak ada salahnya menanggapi ucapannya dengan baik. Namun jangan timpali dengan bahasa Si Kecil, katakan saja dengan bahasa normal, agar anak belajar mengatakan sesuatu dengan benar. Misalnya, mengatakan makan untuk mamam, atau tidur untuk bobo, dan lain sebagainya. (Red)