Health

Beberapa bayi laki-laki dilahirkan dengan kelainan bawaan atau cacat lahir pada alat kelaminnya. Apa sajakah?
Posted on Mar 28, 2016   |   Branding
Bila ‘Burung’ Si Buyung Terganggu

Beberapa bayi dilahirkan dengan kelainan bawaan atau cacat lahir pada alat kelaminnya. Hal itu disebabkan gangguan pada alat kelamin bayi selama masa kehamilan. Umumnya kelainan pada alat kelamin jarang terjad dan bisa diobati dengan operasi. Berikut, sejumlah masalah genital yang umum terjadi pada anak laki-laki:

1. Undescended Testicle (Testis Tidak Turun)

Pada kehamilan normal, testis bayi turun ke dalam skrotum beberapa saat sebelum dilahirkan. Namun, kadang-kadang satu atau kedua testis tetap berada dalam rongga panggul dan tidak turun. Kondisi ini disebut undescended testicle atau kriptokismus. Testis tidak turun dapat mengganggu pembentukan sperma sehingga akan mempengaruhi kesuburan seorang laki-laki di kemudian hari. Penyebab pasti testis tidak turun belum diketahui, namun diperkirakan kombinasi dari faktor-faktor tertentu menyebabkan kelainan tersebut. Ini termasuk faktor genetika, kesehatan ibu, faktor lingkungan semisal paparan pestisida atau asap rokok. Kalangan dokter menganggap kelahiran prematur merupakan faktor risiko kontribusi utama untuk testis tidak turun (biasanya terjadi pada 30 persen anak yang lahir prematur). Undescended testicle bisa didiagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik pada saat lahir atau pada pemeriksaan selanjutnya. Testis yang tidak turun ini akan terasa saat dokter meraba untuk pemeriksaan fisik. 

Kebanyakan testis akan turun dengan sendirinya dalam waktu 6 bulan setelah bayi dilahirkan. Namun bila testis belum juga turun setelah 6 bulan, maka anak mungkin bisa mendapatkan suntikan hormon HCG (Human Chorionic  Gonadotropin) untuk  mencoba membuat testis turun ke dalam skrotum. Bila usia anak sudah di atas 2 tahun, maka harus segera dilakukan operasi. Pembedahan yang dilakukan sejak dini dapat mencegah kerusakan testis. 

2. Mikropenis

Mikropenis didefinisikan sebagai penis berukuran kecil, dibawah ukuran normal untuk bayi. Biasanya panjang penis bayi laki-laki yang  baru lahir minimal berukuran 2,5 cm. Ketika menginjak usia 6 bulan, panjangnya minimal 3 cm, dan akan terus bertambah sesuai umur. Mikropenis biasanya disebabkan oleh masalah hormonal, salah satunya adalah kekurangan hormon androgen pada kehamilan dini. Mikropenis mungkin menyebabkan masalah dengan kesuburan ketika anak tumbuh menjadi dewasa. Tidak ada obat untuk mikropenis, tapi kadang-kadang hormon dapat digunakan untuk merangsang penis untuk tumbuh.


3.Hipospadia

Hipospadia adalah kelainan bawaan yang membuat uretra (lubang kencing) tidak berada di ujung kepala penis. Penis bayi yang menderita hipospadia akan tampak melengkung ke arah bawah. Penyebab hipospadia tidak diketahui. beberapa peneliti mengatakan, faktor keturunan, genetik, endokrin (kelainan kelenjar), dan lingkungan memiliki andil dalam menyebabkan terjadinya Hipospadia. Risiko hipospadia bisa meningkat pada ibu yang usianya agak lanjut ketika hamil, atau pada kehamilan inseminasi buatan.   

Bila terlambat ditangani, hipospadia dapat menimbulkan berbagai keluhan pada anak di masa depan. Yang paling utama adalah terjadinya gangguan fungsi reproduksi. Ada sejumlah cara untuk memperbaiki hipospadia dan semuanya melibatkan operasi. Segera konsultasi dengan dokter bedah urologi (bedah sistem perkemihan) anak. Tindakan operasi harus dilakukan sedini mungkin, idealnya ketika anak berusia 6 – 18 bulan. Jika hipospadia tidak dioperasi, maka setelah dewasa anak akan sulit untuk melakukan penetrasi (coitus). 

4.Inconspicuous Penis

Ukuran penis yang terlihat kecil karena penis tidak muncul atau disebut inconspicuous penis. Ada beberapa jenis inconspicuous, yaitu buried penis, webbed penis, dan trapped penis. Inconspicuous berbeda dengan mikro penis.Kondisi ini disebabkan karena kelainan pada jaringan ikat dan lapisan lemak di bagian bawah perut akibat obesitas. 

Jangan remehkan kelainan genital pada anak laki-laki Anda. Jika dibiarkan dikhawatirkan akan menimbulkan dampak di kemudian hari. Gangguan pada fungsi reproduksi, infertilitas, dan psikologis pada anak merupakan dampak jangka panjang jika dibiarkan tanpa ditangani dengan cepat dan tepat. (YU)