Citybuzz

Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) dan Indonesian Society of Female and Functional Urology (INA-SFFU) beberapa hari lalu menyelenggarakan Virtual Press Conference, bertema Gangguan kontrol pengeluaran urin selama tidur pada dewasa (Noktoria) dan pada anak (noktural Enuresis).
Posted on Dec 19, 2020   |   Branding
Sering Beser dan ngompol di malam hari dapat menurunkan Kualitas Hidup

Gangguan berkemih selama tidur, pada orang dewasa dananak-anak memang sangat menganggu. Hal ini kalau terjadi dalam jangka yangpanjang diyakini akan menurunkan kualitas hidup penderitanya. “ Nokturiasangat memengaruhi kualitas hidup, apabila tidak diatasi dengan tepat dapatmenyebabkan masalah sosial, bahkan ekonomi bagi penderitanya. Penyebabpenyakit ini sangat banyak misalnya pada laki-laki karena obstruksi infravesika seperti penyakit prostat, sedangkan pada laki-laki dan perempuan sepertigangguan kontraksi kandung kemih, komplikasi DM, kelainan neurologis,kelainan hormonal dan bisa hanya disebabkan karena pola minum atauberkemih yang salah. Itu sebabnya diagnosis dan tata laksananya memerlukanpenanganan multidisiplin. Mengingat hal ini, pengurus pusat IAUI dananggota INA-SFFU membuat pedoman baru untuk diagnosis dan tatalaksana nokturiaini yang nantinya diharapkan dapat membantu dokter spesialis, dokter umumdan tenaga kesehatan lain untuk melakukan pendekatan, menegakkandiagnosis, dan merencanakan terapi nokturia dari berbagai aspek sehinggadapat tercapai perbaikan gejala dan kualitas hidup,” jelas Dr.dr. Nur Rasyid, SpU (K),Ketua Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI)

Diagnosis
Dalam kesempatan yang sama, dr. Harrina Erlianti Rahardjo,SpU (K), PhD, Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology(INASFFU) memaparkan, “Menurut data pada studi prevalensi dan faktor risikonokturia di Indonesia yang melibatkan 1555 subyek dari 7 kota di Indonesiamenunjukkan prevalensi nokturia sebesar 61,4%, dimana dari totalprevalensi nokturia tersebut 61,4% dilaporkan pada laki-laki dan 38.6%pada perempuan. Rata rata usia pada penelitian tersebut adalah 57 (18-92) tahundan nokturia didapatkan terbanyak pada kelompok umur 55-65 tahun.” 

“Berbagai hal seperti kelainan saluran kemih bagian bawah, gangguan ginjal, hormonal, tidur, jantung  dan pembuluh darah, psikologis dan diet dapat menjadi penyebabnya. Dokter akan melakukan  wawancara (anamnesis) mengenai gejala nokturia, gejala saluran kemih bagian bawah lain dan  berbagai hal yang dapat menyebabkan nokturia. Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi  pemeriksaan berat badan, tinggi badan, tanda vital, jantung, paru-paru, pembesaran liver (hati) dan  kandung kemih yang penuh, pemeriksaan prostat dan organ panggul serta pembengkakkan pada tungkai atau mata kaki. Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan meliputi pemeriksaan protein  spesifik antigen (PSA) untuk prostat, fungsi ginjal, elektrolit darah, gula darah, dan juga analisis urine.  Bila diperlukan pemeriksaan hormon seks, fungsi tiroid, sisa urine pasca berkemih, dan  elektrokardiogram (rekam jantung) dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis nokturia  dan penyebabnya,” lanjutnya.

Tentang terapi perilaku yang dapat dilakukan, ia mengemukakan, ”Intervensi gaya hidup yang dapat  dilakukan yakni pembatasan garam, protein dan kalori untuk pencegahan terhadap obesitas dan diabetes serta membatasi asupan cairan di sore dan malam hari (terutama antara makan malam dan  waktu tidur). Adapun membatasi asupan yang mengandung alkohol dan kafein juga diperlukan serta diet dengan kalori seimbang. Latihan kandung kemih dan otot dasar panggul untuk nokturia yang  disebabkan oleh kandung kemih overaktif dan pembesaran prostat juga terbukti memperbaiki keluhan  pasien.

Penyesuaian waktu konsumsi obat-obatan yang memperbanyak pengeluaran urine (misalnya:  diuretik) dan meninggikan tungkai bawah setelah makan sampai waktu tidur dan menggunakan  stoking kompresi untuk mengurangi bengkak di tungkai bawah dan mata kaki juga dapat mengurangi  gejala. Mengingat penyebab nokturia yang sangat banyak, maka diperlukan terapi terhadap penyakit  atau kebiasaan yang menjadi penyebab: kandung kemih overaktif (OAB), pembesaran prostat,  menopause, gangguan tidur, gangguan psikologis dan diet.”

“Pemberian obat dilakukan jika terapi lini pertama seperti intervensi gaya hidup, latihan kandung  kemih dan otot dasar panggul tidak menghasilkan perbaikan gejala. Keputusan pemberian obat, yaitu desmopresin mempertimbangkan usia, jenis kelamin, fungsi ginjal, kelainan jantung, kadar natrium  (garam) dalam darah, kebiasaan minum, dan pengobatan yang sedang dikonsumsi pasien. Setelah  pemberian desmopresin diperlukan evaluasi berkala gejala klinis dan efek samping obat,” ia  menambahkan.

Dr. dr. Dyah Purnamasari, SpPD, KEMD, Staf Medis Divisi Metabolik Endokrin dan Diabetes, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dalam kesempatan yang sama mengatakan, ”Prevalensi  nokturia pada penyandang DM tipe 2 dilaporkan berkisar 55-80%, sedangkan nokturia berat sebesar  25%. Kejadian dan derajat keparahan nokturia meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan  adanya kandung kemih yang overaktif (OAB). Beberapa faktor lain yang memengaruhi timbulnya  nokturia di antaranya penggunaan obat tekanan darah tinggi tertentu (penghambat kanal kalsium),riwayat stroke, obesitas sentral, kebocoran protein di ginjal, fungsi ginjal, kadar hormon testosteron  rendah dan adanya infeksi. Nokturia berat berhubungan dengan peningkatan angka kematian sebesar  1.93 hingga 3 kali lipat, dan pada laki-laki berkaitan dengan kualitas hidup yang rendah karena  berkaitan dengan kejadian disfungsi ereksi serta gangguan pembuluh darah sistemik, bila  dibandingkan individu tanpa nokturia berat.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan, “Pada penyandang DM, penatalaksanaan nokturia memerlukan  pendekatan komprehensif mulai dari mengatasi penyakit dasar dan evaluasi penyakit penyerta atau  obat-obatan yang memudahkan kejadian nokturia. Kendali glukosa yang tidak baik akan meningkatkan  pengeluaran glukosa lewat urin (glukosuria) dan menyebabkan poliuria (nokturia). Selain itu kendali  glukosa yang buruk akan memudahkan penyandang DM menderita infeksi saluran kemih yang  mencetuskan poliuria (nokturia). Pencapaian kendali glikemik yang optimal menjadi salah satu target  pada penatalaksanaan nokturia pada penyandang DM.”

Juga Terjadi Pada Anak
Dr. dr. Irfan Wahyudi, SpU (K), Kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM pada kesempatan yang sama  mengatakan, ”Nokturnal enuresis adalah ketidakmampuan mengontrol pengeluarin urin selama tidur  yang terjadi pada anak-anak dengan usia lebih dari 5 tahun atau perkembangan yang setara,  setidaknya 3 bulan atau dalam bahasa awam dikenal dengan mengompol pada malam hari. Jika tidak  diikuti dengan gejala berkemih lain, maka disebut sebagai monosimtomatik enuresis (MNE),  sedangkan jika terdapat gejala lainnya, seperti buang air kecil terputus-putus atau nyeri saat berkemih  dan gejala lainnya, maka disebut sebagai non MNE. Adapun istilah MNE primer jika anak mengompol  sejak lahir tanpa adanya periode kering atau bebas dari mengompol. Jika seorang anak kembali  mengompol setelah periode kering sekurang-kurangnya 6 bulan maka disebut sebagai MNE sekunder.  Angka kejadian dari masalah mengompol ini bervariasi, yakni 4%-19% pada populasi anak diseluruh  dunia. Kejadian ini akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia anak.“ “Faktor penyebab nokturnal enuresis bersifat multifaktorial yakni kondisi genetik, konstipasi, infeksi  saluran kemih, kapasitas kandung kemih yang kecil, ansietas, gangguan tidur, dan diabetes,” lanjutnya.

Terapi
Tentang terapi apa yang dapat dilakukan untuk penderita Nokturnal Enuresis, ia menjelaskan, ”Terapi  yang dilakukan perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasari pasien seperti pemantauan  perawatan memainkan peran yang penting untuk keberhasilan terapi. Adapun perbaikan gaya hidup  yang dapat dilakukan yakni menghindari konsumsi cairan berlebih pada malam hari, menghindari  minuman/ makanan mengandung kafein, memastikan konsumsi cairan yang cukup sepanjang hari,  menghindari diet tinggi protein/ garam pada malam hari (menginduksi diuresis), mengingatkan untuk  berkemih sebelum tidur serta memberi penghargaan jika anak tidak mengompol. Selain itu terapi yang  dianjurkan adalah terapi menggunakan obat yakni desmopresin serta terapi alarm.”

“Terapi alarm memiliki tingkat keberhasilan yang hampir sama dengan pemberian obat, dimana saat  celana anak basah akibat mengompol, maka alarm akan berbunyi yang menyebabkan anak akan  terbagun dan harus pergi ke kamar mandi. Tentunya peran orang tua sangat penting pada terapi ini.  Terapi dianggap berhasil jika anak tidak mengompol selama 1 bulan tanpa pemaikaian alarm, dan  kebanyakan akan membuahkan hasil yang baik setelah 3-4 bulan terapi,” tutupnya.(red) 
foto: cambridge-news.co.uk