Citybuzz

Penyakit Moluskum Kontagiosum (MK) yang merupakan salah satu jenis penyakit kulit, sampai saat ini belum banyak diketahui masyarakat.
Posted on Nov 05, 2020   |   Branding
Atasi Moluskum Kontagiosum, "Si Jerawat genital" yang mengganggu.

Penyakit Moluskum Kontagiosum (MK) yang merupakan salah satu jenis penyakit kulit, sampai saat ini belum banyak diketahui masyarakat. Mengenali gejala penyakit ini juga tidak mudah, sehingga deteksi dini sulit dilakukan. Namun demikian, penyakit yang sering dikenal dengan istilah ‘jerawat genital’ ini akan mengganggu kenyamanan pasiennya dan dalam jangka panjang dan bahkan menurunkan kualitas hidup mereka.

Untuk diketahui Moluskum Kontagiosum merupakan infeksi pada kulit yang disebabkan oleh poxvirus. MK menimbulkan benjolan dengan ukuran diameter biasanya kurang dari 0,25 inci dan memiliki titik kecil ditengah benjolannya. Penyakit ini merupakan infeksi virus yang sangat menular dan dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak kulit ke kulit, berbagi pakaian, atau hanya dengan menyentuh benda yang disentuh penderita yang terinfeksi. 

dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, CEO Klinik Pramudia mengatakan, ”Hingga saat ini belum terdapat data epidemiologi yang akurat untuk penyakit Moluskum Kontagiosum. Ada penelitian yang menyatakan insiden MK sebesar 1200-1400 kasus per 100,000 penduduk per tahun di seluruh dunia. Berdasarkan kasus MK yang ditemukan di Klinik Pramudia selama 2019 -2020, ditemukan rata-rata sebanyak 2-4 kasus per bulan, baik pada anak maupun dewasa. Ditemukan juga beberapa kasus MK pada penderita HIV selama kurun waktu tersebut. Tidak ditemukan jumlah perbedaan kasus MK pada ras dan jenis kelamin yang berbeda. Penderita MK anak di Klinik Pramudia berusia 2-10 tahun dan usia 20-60 tahun pada kasus dewasa.”

Dalam presentasinya, ia menuturkan, “Penularan MK terjadi karena kontak langsung pada kulit yang erat dan berulang (seksual maupun non-seksual) serta autoinokulasi pada garukan. Pencegahan terbaik adalah menghindari sumber penularan melalui deteksi dini penderita MK, baik pada anak maupun dewasa."

Ia melanjutkan, “Masa inkubasi MK antara 2- 6 bulan. Namun, deteksi dini MK tidaklah mudah. Selain jarang terasa gatal atau hanya gatal ringan, pada umumnya MK tidak memiliki rasa gatal ataupun nyeri. Bentuk klinis dari gejala MK di kulit hampir menyerupai jerawat dan cepat menjadi banyak. Pada anak, MK sering ditemukan di dada, punggung, kaki, tangan, daerah lipatan dan wajah. Sedangkan pada dewasa ditemukan pada genital dan area sekitarnya.” 

MK pada anak merupakan infeksi virus yang menyerang kulit, sedangkan MK pada dewasa dianggap sebagai penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). MK sering ditemukan pada pasien immunocompromise (gangguan sistem imun yang menurun), seperti pada penderita HIV. Untuk mencegah tertularnya dari virus MK, selain menghindari kontak fisik dengan penderita, masyarakat perlu untuk selalu menjaga kesehatan dan imunitas tubuh, serta selalu menjaga kebersihan. 

Ia juga menjelaskan bahwa MK dapat diobati, sehingga butuh kesadaran masyarakat untuk mau memperhatikan dan memeriksakan penyakit ini sedini mungkin sebelum menyebar. Bila diobati dengan benar dan tidak terjadi kontak ulang terhadap sumber penularan, jarang terjadi kekambuhan pada MK. Terdapat beberapa modalitas pengobatan untuk MK. Namun pada dasarnya, cara pengobatan MK pada anak hampir sama dengan dewasa. Hanya saja pada pelaksanaannya, pengobatan pada anak jauh lebih sulit daripada orang dewasa. “Berdasarkan pengalaman praktek di Klinik Pramudia, tingkat kesadaran masyarakat terdapat MK sangatlah rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengenalan penyakit MK di kulit serta kurangnya informasi dan edukasi tentang penyakit ini di masyarakat. Sehingga deteksi dini sulit terjadi,” tutupnya. 

Lembar Fakta :

Moluskum Kontagiosum merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh virus pox. Penyakit ini menyebabkan benjolan kecil pada kulit yang biasanya tidak terasa nyeri tetapi dapat menimbulkan rasa gatal. Penyakit ini dapat menghilang dengan sendirinya serta tidak meninggalkan bekas luka, walaupun tidak diterapi. Moluskum Kontagiosum cukup umum diderita anak-anak (lebih sering anak laki-laki) dan orang dewasa muda. Orang dewasa muda yang menderita moluskum kontagiosum sebagian besar melalui hubungan seks. Kasus lainnya adalah orang dengan sistem imun yang lemah atau penyakit menular lainnya. Sementara pada orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, bintil-bintil infeksi kulit ini dapat menjadi tanda penyakit menular seksual jika muncul di daerah kelamin (sexually transmitted disease/STD). 

Gejala Ketika terinfeksi Moluskum Kontagiosum, bintik-bintik kecil muncul pada kulit di bagian tubuh yang terinfeksi, sering kali muncul pada wajah, kelopak mata, ketiak, dan paha (selangkangan). Biasanya, bintik tidak muncul pada tangan, telapak kaki, atau mulut. Bintik-bintik ini memiliki lebar sekitar 2-5 milimeter dan lesung di bagian tengah. Biasanya tidak terjadi peradangan (pembengkakan dan merah) dan jika menggaruk luka dapat menyebabkan virus menyebar dalam barisan atau kelompok, yang disebut crop. Moluskum Kontagiosum akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu, tapi sebagian mungkin berlangsung selama berbulan-bulan. Penyakit ini biasanya tidak meninggalkan bekas luka. Pada kebanyakan kasus, Moluskum Kontagiosum menyerang orang dengan kekebalan tubuh lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, orang yang menjalani transplantasi organ tubuh atau pasien pengobatan kanker.

Gejala Ketika terinfeksi Moluskum Kontagiosum, bintik-bintik kecil muncul pada kulit di bagian tubuh yang terinfeksi, sering kali muncul pada wajah, kelopak mata, ketiak, dan paha (selangkangan). Biasanya, bintik tidak muncul pada tangan, telapak kaki, atau mulut. Bintik-bintik ini memiliki lebar sekitar 2-5 milimeter dan lesung di bagian tengah. Biasanya tidak terjadi peradangan (pembengkakan dan merah) dan jika menggaruk luka dapat menyebabkan virus menyebar dalam barisan atau kelompok, yang disebut crop. Moluskum Kontagiosum akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu, tapi sebagian mungkin berlangsung selama berbulan-bulan. Penyakit ini biasanya tidak meninggalkan bekas luka. Pada kebanyakan kasus, Moluskum Kontagiosum menyerang orang dengan kekebalan tubuh lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, orang yang menjalani transplantasi organ tubuh atau pasien pengobatan kanker. (red)

foto: dermatologyillinois.com