Health

Difteri belakangan menjadi topik hangat karena kembali merebak dan termasuk dalam Kejadian Luar Biasa hingga pemerintah perlu melakukan vaksinasi ulang di sejumlah wilayah terdampak.
Posted on Jan 03, 2018   |   Branding
Waspada Difteri, Orang Dewasa Perlu Vaksinasi Ulang?

Difteri belakangan menjadi topik hangat karena kembali merebak dan termasuk dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) hingga pemerintah perlu melakukan vaksinasi ulang di sejumlah wilayah terdampak. Difteri perlu diwaspadai karena sangat menular. Menurut dokter spesialis anak konsultan dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik FKUI-RSCM, Nina Dwi Putri, jika tak ditangani dengan baik, 50 persen mereka yang terkena difteri akan meninggal. "Bahkan diobati pun, ada 10 persen dari pasien difteri bisa meninggal," kata Nina dalam diskusi terkait penyakit difteri di IMERI FKUI Salemba, baru-baru ini.

 Penyakit difteri ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae yang bisa ditularkan melalui droplet atau percikan dan kontak langsung dengan penderita. Gejala difteri sekilas mirip dengan sakit infeksi saluran pernapasan, namun gejala khas dari difteri yang mudah dikenali antara lain munculnya demam yang tidak begitu tinggi sekitar 38 derajat, susah menelan, nyeri tenggorokan, suara serak, dan juga sering kali disertai pembengkakan di leher (bullneck). "Gejala khas lainnya adalah munculnya bercak di tenggorokan berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan," urai Nina. 

Pada tingkat lanjut, pasien difteri bisa kesulitan bernapas dan bernapas mirip suara mengorok. Hal yang perlu diperhatikan dari penyakit difteri, lanjut Nina, adalah bisa menyebabkan komplikasi serius. "Mulai dari gangguan pernapasan atas, lalu bisa menyebar ke bagian jantung, saraf, hingga ginjal," imbuhnya. 

Bila mengalami gejala seperti yang disebutkan tersebut, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat, khususnya jika sebelumnya sempat ada kontak dengan penderita difteri dan memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap. Imunisasi Tidak Lengkap Penyakit difteri merupakan jenis penyakit menular mematikan yang bisa dicegah dengan imunisasi, asalkan imunnisasi dilakukan secara lengkap sesuai usia dan jadwal. "Imunisasi ini perlu diulang bahkan saat dewasa," jelas Nina.

 Namun pada  beberapa kasus, ada pasien yang mengaku sudah pernah diimunisasi, tapi ternyata masih bisa terkena difteri. "Setelah ditelusuri, ternyata imunisasinya tidak lengkap. Padahal pencegahan difteri itu hanya bisa efektif kalau imunisasinya dilakukan secara lengkap sesuai dengan usia atau jadwal," jelas Nina. Lebih lanjut Nina menjelaskan, vaksin untuk imunisasi difteri ada 3 jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi difteri diberikan melalui Imunisasi 

Dasar pada bayi di bawah 1 tahun sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Selanjutnya, diberikan imunisasi lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib. Pada anak SD kelas 1 diberikan 1 dosis vaksin DT, siswa kelas 2 diberikan 1 dosis vaksin Td, murid kelas 5 diberikan 1 dosis vaksin Td. Setelah usia 18 tahun juga masih perlu diberikan vaksin. "Karena kalau hanya vaksinasi sekali saja, belum bisa melindungi tubuh dari difteri," imbuh Nina. 

Terkait dengan merebaknya kasus difteri di sejumlah wilayah di Tanah Air, Nina mengingatkan para orangtua untuk memeriksa status imunisasi anak-anaknya. "Jika belum lengkap, segera lengkapi untuk mencegah dampak buruk yang bisa terjadi akibat tertular kuman difteri," ujarnya. Menyoal perlunya vaksinasi difteri pada orang dewasa, Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, FINASIM dari FKUI RSCM mengatakan meski orang dewasa pernah divaksinasi difteri saat kecil, namun antibodi yang terbentuk akan menurun seiring bertambahnya usia. Makanya orang dewasa perlu melakukan vaksinasi ulang. "Tidak ada antibodi abadi sehingga butuh tambahan vaksin," ujar Iris. 

Pada orang dewasa yang belum pernah divaksin sedari kecil maka bisa melakukan imunisasi Td dengan skema tiga kali penyuntikan yakni 0, 1, 6. Misalnya jika pada Desember orang dewasa mendapatkan vaksin Td untuk kali pertama, maka harus diulang satu bulan kemudian yakni pada Januari dan dilanjutkan pada bulan keenam yakni Juli. Jenis vaksin yang dipilih Td tujuannya untuk mengurangi efek samping lokal. Sedangkan pada orang dewasa yang sudah mendapatkan vaksinasi difteri lengkap saat kecil, direkomendasikan mendapatkan vaksin difteri ulang setiap 10 tahun. Hal ini dilakukan karena orang dewasa juga tetap berisiko terinfeksi difteri terutama jika memiliki kontak dekat dengan penderita. Vaksin difteri untuk orang dewasa harus dibeli sendiri. Sekali vaksinasi di RSCM harganya sekitar Rp159 ribu.

sumber: dokterdigital.com

foto: oncologynews.com.au