Health

Kisah pilu ini beredar di media sosial dan banyak mendapat perhatian dari warganet.
Posted on Sep 11, 2017   |   Branding
Kisah Bayi Debora, Meninggal Akibat Regulasi Rumah Sakit?

Belum lama ini, khalayak dibuat prihatin dengan kasus kematian bayi mungil bernama Tiara Debora Simanjorang atau Debora yang berusia 4 bulan. Kisah pilu ini beredar di media sosial dan banyak mendapat perhatian dari warganet. Disebut-sebut, Debora meninggal dunia lantaran telat mendapatkan perawatan dari rumah sakit gara-gara persoalan administrasi.

 Debora merupakan  putri kelima pasangan Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang, warga Jalan Jaung, Benda, Tangerang. Sebelumnya, Debora sudah menderita flu disertai batuk. Kondisi tersebut telah berlangsung seminggu. Ibunda Debora, Henny sempat membawa Debora ke RSUD Cengkareng untuk pemeriksaan. Di sana Debora mendapatkan obat dan nebulizer untuk mengobati pileknya. Namun Debora tak kunjung sembuh, kondisinya bahkan semakin bertambah parah karena mengalami sesak napas pada Sabtu (2/9). Orangtua Debora segera membawanya ke RS Mitra Keluarga Kalideres, dan setibanya di sana, dokter jaga langsung melakukan pertolongan pertama dengan melakukan penyedotan (suction). 

Karena kondisi Debora yang menurun, dokter menyarankan Debora untuk dirawat di unit PICU. Namun biaya perawatan sebesar 19,8 juta ternyata tidak bisa disanggupi oleh Henny dan suaminya. Mereka hanya memiliki uang sebanyak 5 juta rupiah. Pihak rumah sakit sempat merujuk agar Debora dirawat di rumah sakit lain yang memiliki instalasi PICU dan menerima layanan BPJS. Setelah menghubungi sejumlah rumah sakit, namun pasangan Rudianto dan Henny tak kunjung mendapatkan ruang PICU kosong untuk Debora. Hingga akhirnya, bayi mungil itu tak kuat lagi menahan sakitnya dan  menghembuskan napas terakhir.

Penyakit Jantung Bawaan

Dalam keterangan persnya, pihak manajemen rumah sakit menyampaikan bahwa awalnya Debora diterima instalasi gawat darurat (IGD) sekitar pukul 03.40 WIB dalam keadaan tidak sadar dan tubuh tampak membiru. "Pasien dengan riwayat lahir prematur memiliki riwayat penyakit jantung bawaan (PDA) dan keadaan gizi kurang baik," demikian penjelasan pihak manajemen.

(Sekadar info, PDA merupakan penyakit jantung paling umum yang terjadi pada bayi prematur. PDA didiagnosis dengan menggunakan metode yang berbeda. Sebuah riwayat medis lengkap, fisik, elektrokardiogram, ekokardiogram, X-ray lengkap, atau kateterisasi jantung adalah metode yang paling umum digunakan untuk menentukan PDA. Pengobatan sering dilakukan untuk mengatasi kasus PDA ini , tetapi jika bayi prematur tidak merespon baik terhadap obat, pembedahan adalah jalan yang mesti ditempuh untuk menutup pembukaan katup tadi. Bayi prematur perempuan lebih besar kemungkinannya untuk mengalami PDA dari pada laki-laki dan beberapa gejala  dari penyakit  ini adalah napas cepat (takipnea), denyut jantung cepat (takikardia), pembesaran jantung, berkeringat (diaforesis), kebiruan pada kulit dan membran mukosa (sianosis), suara jantung tidak stabil atau bergemuruh.)

 Berdasarkan pemeriksaan, Debora diterima pihak rumah sakit dalam kondisi napas berat dan banyak dahak, saturasi oksigen sangat rendah, nadi 60 kali per menit, dan suhu badan 39 derajat celcius.

Pihak rumah sakit menyatakan telah melakukan pertolongan pertama berupa penyedotan lendir, pemasangan selang ke lambung dan intubasi (pasang selang napas), lalu dilakukan bagging atau pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang napas, infus, obat suntikan, dan diberikan pengencer dahak (nebulizer).

Selain itu, pemeriksaan laboratorium dan radiologi juga dilakukan. Menurut pihak rumah sakit, setelah itu kebiruan pada Debora  berkurang serta oksigen membaik meski kondisi Debora masih kritis. (YU)

Foto: Instagram/@henny.silalahi