Health

Perempuan memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terkena gangguan batu empedu.
Posted on May 24, 2017   |   Branding
Wanita Lebih Rentan Terkena Batu Empedu?

Perempuan memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terkena gangguan batu empedu. Spesialis bedah konsultan digestif dari RSU Bunda Jakarta Arief Setiawan mengatakan, perbandingan kasus batu empedu antara laki-laki dengan perempuan adalah 1 banding 3. Batu empedu merupakan salah satu gangguan empedu yang banyak ditemukan di  masyarakat, selain peradangan akut (kolestasis) dan tumor. 

Umumnya batu empedu terjadi dalam proses yang cukup lama bisa bertahun-tahun. Selain obesitas, kesalahan diet, kehamilan dan mengonsumsi pil pengendali kehamilan (pil kontrasepsi) dari estrogen menjadi pemicu gangguan empedu. Faktor ini dominan terjadi pada perempuan. Dari kasus batu empedu yang dilaporkan, 50 persen kasus tidak mengalami gejala dan dari kasus tersebut 25 persen baru akan menimbulkan gejala setelah 5 tahun kemudian. “Batu empedu bisa terjadi pada kandung empedu maupun saluran empedu (koledokolitiasis). Keduanya sama-sama berisiko terhadap timbulnya peradangan maupun penyumbatan,” kata Arief dalam temu media di RSU Bunda Jakarta, baru-baru ini.

 Batu empedu terjadi karena perubahan komposisi dari kolesterol, fosfolipid, dan asam empedu, kolestasis, maupun peradangan (infeksi). Sekitar 50-70 persen batu empedu adalah batu kolesterol. Faktor predisposisi untuk batu kolesterol, lanjut Erik, di antaranya adalah perempuan, kehamilan, usia tua, maupun berat badan yang turun dengan cepat. Perempuan (termasuk perempuan hamil) menjadi salah satu faktor risiko untuk batu empedu ini, terkait dengan hormon estrogen yang juga berhubungan dengan kolesterol. 

 Di kesempatan yang sama, dokter spesialis penyakit dalam RSU Bunda Jakarta Erik Rohmando Purba, mengatakan untuk mengatasi batu empedu, pasien tidak bisa mengandalkan obat-obatan penghancur batu. Hingga kini dunia medis belum bisa memastikan efektivitas dari obat-obatan penghancur batu yang banyak beredar di masyarakat. Penggunaan obat-obatan ini pada sebagian kasus memang memberikan hasil berupa pengikisan batu hingga 50 persen. “Tetapi ketika batu yang sudah mengecil tersebut bisa keluar dengan sendirinya melalui saluran empedu, maka risiko terjadinya peradangan dan infeksi akan sangat besar,” kata Erik. 

“Solusi paling tepat adalah pengangkatan batu melalui tindakan bedah,” imbuhnya. Kandung empedu adalah organ berbentuk buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu sekitar 7-10 cm dan berwarna hijau gelap. Organ ini terhubungkan dengan hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu. Empedu membantu memecah lemak dari makanan di dalam usus. Kandung empedu menyalurkan empedu ke usus kecil. Hal ini memungkinkan vitamin dan nutrisi larut dalam lemak  (vitamin A, D, E, K) sehingga mudah diserap.

Sumber: DokterDigital
foto: urgentcarefl.com