Health

Tantangan skip challenge oleh para remaja yang viral di media sosial belakangan ini cukup menghebohkan.
Posted on Mar 15, 2017   |   Branding
Jangan Asal Latah, Skip Challenge Berdampak Serius

Tantangan melakukan skip challenge oleh para remaja yang viral di media sosial belakangan ini cukup menghebohkan. Kita tahu, hingga  menteri di bidang kesehatan dan pendidikan pun harus angkat bicara.

Skip challenge, dilihat dari tayangan yang beredar di media sosial, terlihat bagaimana remaja setelah menahan napas dan juga dadanya ditekan selama beberapa menit, kemudian terjadi kejang-kejang dan tidak sadarkan diri, walau pun kemudian bisa bangun lagi.

“Permainan” ini berbahaya karena mengurangi suplai oksigen ke organ tubuh sebenarnya sudah lebih dulu 'mewabah' sekitar 20 tahun lalu di Amerika Serikat. Permainan ini bahkan telah menelan korban mati ratusan remaja di negeri adidaya itu. Sungguh membuat miris kita semua, mengapa anak-anak remaja di negeri kita malah sekarang mencontohnya.

Mengapa Skip Challenge Berbahaya? 

Akibat menahan napas, disertai bagian dada yang ditekan, semua organ tubuh berada dalam ancaman kekurangan oksigen akut.  Organ yang paling rentan terhadap kekurangan oksigen adalah otak. Alasannya karena otak 'sangat rakus' mengonsumsi oksigen. Hal itulah yang menyebabkan mengapa pada skip challenge sampai terjadi pingsan sesaat dan bisa disertai kejang-kejang, karena otak telah mengalami cedera akut akibat kekurangan oksigen.

Kerusakan yang terjadi pada otak bisa diakibatkan oleh kekurangan oksigen (hipoksia) yang  gejalannya ringan, sedang hingga berat. Pada kerusakan otak akibat hipoksia  yang ringan, gejala yang muncul biasanya hanya pusing, rasa berputar, pandangan agak kabur, denyut jantung/nadi meningkat, napas makin cepat, tekanan darah meningkat, atau kepala seperti terasa melayang atau sebaliknya terasa berat. Juga dapat terjadi berkurangnya fungsi indera perasa atau sensorik, dan berkurangnya pendengaran.

Juga bisa terjadi perubahan proses-proses mental seperti gangguan intelektual atau memori dan munculnya tingkah laku aneh seperti euphoria (rasa senang yang berlebihan). Selain itu kemampuan kordinasi psikomotor juga akan berkurang. Pada umumnya, kerusakan ringan pada otak ini, karena hanya sedikit sel otak yang rusak atau terganggu, biasanya bisa pulih kembali tanpa ada gejala yang tersisa. Ini misalnya jika dilakukan oleh orang yang menahan nafas selama 30 detik - 2 menit pada orang biasa (bukan penyelam alam atau yang sudah terlatih) Namun jika menahan napas lebih lama lagi, misalnya sampai 4-6 menit,  bisa terjadi gejala kekurangan oksigen tingkat sedang.

Gejala yang muncul akibat ini yang menyebabkan kerusakan otak tingkat sedang, misalnya sianosis (kulit kebiruan), kejang-kejang hingga hilang kesadaran (LOC/loss of consciousness). Pada kerusakan sedang, sangat berisiko, karena bisa saja gejalanya tidak bisa pulih lagi. Karena dari periode kejang-kejang dan tidak sadar/pingsan sangat mudah tberlanjut menjadi henti napas alias apnea yang jika tidak ditolong oleh tenaga medis/paramedis terlatih akan berlanjut kepada kematian.

Pada kekurangan oksigen tingkat berat akan terjadi gejala kerusakan otak yang berat, misalnya karena menahan napas lebih lama lagi dari 6 menit (pada umumnya), akan sangat banyak sel otak yang mati. Pada orang yang tidak mendapat suplai oksigen sekitar 10 menit, bisa berujung pada risiko henti napas, henti jantung, dan ujungnya adalah kematian. Pada kerusakan otak berat ini, artinya sudah kebablasan, karena otak sudah rusak berat dan tidak bisa tertolong lagi. Jika pun bisa ditolong oleh tenaga terlatih dan alat bantu nafas seperti ventilator, biasanya sudah terjadi mati batang otak (brain death), dan bersifat irreversibel (tidak bisa pulih). Intinya skip challenge sangat berbahaya, karena sudah memasuki tahap kekurangan oksigen tingkat sedang yang menyebabkan kerusakan otak sedang dan sangat dekat batasnya dengan henti napas yang jika tidak ditolong cepat akan berlanjut ke kematian.

Penulis: Kolonel Kes Dr.dr Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP* 

*Kordinator Kelompok Ahli di Lakespra TNI AU dr Saryanto, Jakarta.  Memperoleh gelar Doktor Biomedik dari FKUI dengan disertasi tentang Adaptasi Otak terhadap Hipoksia dengan menggunakan teknik Hipoksia Hipobarik Intermiten di Hypobaric Chamber Lakespra Saryanto sebagai tempat penelitiannya.

Sumber: DokterDigital