Family Guide Indonesia

Rahasia Jitu Membangun Karakter Anak

Tips & Tricks - 10 Sep 2020

Mengingat investasi jangka panjang tersebut, maka orangtua perlu selalu mengevaluasi pilihan tindakan ataupun perkataannya. Apakah pilihan tersebut hanya berorientasi pada membuat keadaaan sekarang menjadi lebih mudah (jangka pendek), atau ingin membuat keadaaan di masa depan jadi lebih baik (jangka panjang). Terkait membangun karakter anak, sebagian besar orangtua sering menasihati anaknya untuk mempraktekkan karakter-karakter tertentu, seperti mau berbagi ataupun berkomunikasi dengan cara yang positif, serta memarahi anak bila ia gagal mempraktekkan karakter tersebut. Namun sayangnya, orangtua sendiri tidak jarang alpa untuk mempraktekkan karakter-karakter tersebut dalam kehidupan pribadinya. 

Memberikan nasihat memang lebih mudah daripada melakukan dan memarahi juga mungkin lebih efektif dalam jangka pendek. Namun cara yang paling efektif untuk membangun karakter anak adalah dengan memberikan contoh, bukan sekedar menasihati ataupun memarahi. Karena anak-anak sangat dipengaruhi bukan hanya oleh perkataan orangtuanya, tapi lebih pada tindakan orangtua. 

Kebiasaan Berbuah Karakter

Idealnya, untuk membangun karakter anak, orangtua perlu membangun karakter tersebut lebih dulu dalam dirinya. Cara yang paling efektif untuk membangun karakter diri adalah dengan mempraktekkan sebanyak mungkin secara sadar, termasuk di saat anak sedang tidak berada di sekitar orangtua. Dengan demikian, lama-kelamaan hal tersebut akan berakar dalam diri menjadi kebiasaan, dan kemudian berbuah menjadi karakter. Bila karakter tersebut sudah dimiliki oleh orangtua, biasanya akan lebih mudah bagi anak untuk meniru dan memiliki karakter itu juga, sebagaimana peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. 

Bagi para orangtua yang dibesarkan dalam konteks keluarga yang sudah memiliki karakter-karakter positif, kemungkinan akan lebih mudah untuk mencontohkan karakter-karakter tersebut kepada anaknya. Tetapi ada beberapa orangtua yang dibesarkan dalam konteks keluarga yang minim karakter positif. Bagi mereka, tak mudah untuk mencontohkan karakter positif kepada anaknya, karena ia harus lebih dulu membangun karakter tersebut dalam dirinya. Orangtua yang demikian perlu banyak bersabar terhadap dirinya sendiri. Harus menyadari bahwa mengubah karakter perlu waktu dan proses yang panjang. Meski orangtua mungkin akan sangat antusias ketika memutuskan akan mengubah karakternya demi anak, orangtua juga perlu realistis dalam menentukan ekspektasi terhadap perubahan dirinya, agar tidak kecewa dan putus asa di tengah jalan. 

Buat Skenario Situasi 

Sejauh ini, cara paling efektif untuk mengubah karakter adalah mengantisipasi, yaitu dengan membuat skenario-skenario situasi dan membayangkan apa yang sebaiknya dilakukan dalam situasi tersebut. Ini akan membuat orangtua lebih siap ketika situasi tersebut sungguh terjadi. Namun bila terjadi situasi di mana orangtua tidak siap atau bingung meresponnya, lebih baik berdiam diri sejenak sebelum merespon. Tujuannya agar otak punya cukup waktu untuk memproses situasi yang ada. Bila saat itu orangtua terlalu emosional, sebaiknya menyendiri dulu untuk meredakan emosi. 

Tak ada salahnya bila meminta waktu beberapa menit, atau bahkan beberapa jam, sebelum merespon apa yang dikatakan ataupun dilakukan anak. Bila emosi sudah reda, maka orangtua bisa memikirkan respon apa yang akan diberikan kepada anak, termasuk menyusun kata-kata dengan seksama agar tepat sasaran. Yang penting, tak lupa merespon anak bila emosinya sudah reda, agar masalah apapun yang muncul bisa ditangani dan tidak menumpuk, sehingga sulit dibereskan.

Bila orangtua menyadari bahwa responnya tersebut kurang tepat atau tak sesuai dengan karakter yang ingin dicontohkan kepada anak, orangtua tak perlu terlalu menyesali diri. Sudah ada kesadaran tersebut pada anak saja, sudah merupakan suatu kemajuan. Dan umumnya ini akan membuat orangtua lebih  berhati-hati di kemudian hari agar tidak merespon dengan cara serupa. Orangtua juga bisa menyampaikan kepada anak bahwa seandainya bisa mengulang waktu, ia akan merespon dengan ucapan atau tindakan berbeda. Dengan begitu, pengalaman itu bisa dimanfaatkan untuk mencontohkan kepada anak tentang bagaimana menangani suatu kesalahan. Sesungguhnya, setiap situasi atau pengalaman negatif bisa menjadi kesempatan untuk mencontohkan karakter positif.

Sebagai orangtua, mari senantiasa mengevaluasi diri apakah tindakan dan perkataan kita sudah sejalan dengan karakter yang ingin kita bangun dalam diri anak.

Mencontohkan Karakter 

Pada saat anak menunjukkan karakter yang tak diinginkan, ada baiknya orangtua mengevaluasi apakah ada kemiripan antara karakter tersebut dengan karakter yang dimiliki orangtua. Bila ya, maka orangtua perlu memikirkan cara untuk mengubah karakter yang dimilikinya tersebut, agar bisa menjadi contoh yang baik bagi anaknya. Berikut beberapa hal yang bisa dipraktekkan orangtua agar bisa menjadi contoh atau model bagi anak dalam rangka membangun karakter anak:

1. Mencontohkan tanggung jawab: tetap bangun pagi untuk membantu anak bersiap ke sekolah, walau sebelumnya tidur sangat larut karena harus menyelesaikan suatu pekerjaan.

2. Mencontohkan menghargai waktu orang lain: selalu berusaha hadir tepat waktu untuk berbagai hal.

3. Mencontohkan kejujuran: mengembalikan uang kembalian yang berlebih.

4. Mencontohkan empati: menolong anak tetangga yang terjatuh dari sepeda.

5.Mencontohkan demokrasi: mendiskusikan dan menyepakati tentang konsekuensi yang akan diterapkan terhadap suatu perilaku negatif bersama anak. (ES)