Parent Frustration Syndrome

Tips & Tricks - 22 Nov 2019

Orangtua tentu mengasihi anaknya. Namun pada kenyataannya, mengasihi anak tidaklah selalu berarti menyukai ataupun memiliki perasaan yang positif terhadap pikiran ataupun reaksi anak. 

Tidak sedikit orangtua pernah terpikir, “Saya tidak tahan lagi menghadapi anak saya”, atau, “Energi saya sepertinya sudah terkuras habis oleh anak saya”. Terlebih lagi, bila kondisi tersebut diperparah oleh tekanan pekerjaan yang dihadapi orangtua di luar rumah, ataupun tanggung jawab untuk mengurus orangtua yang sudah renta. Kondisi demikian, dalam dunia konseling, dikenal dengan istilah Parent Frustration Syndrome (PFS), yaitu suatu kondisi saat orangtua merasa kewalahan secara emosional menghadapi sikap dan perilaku anak, serta pesimis terhadap hasil usahanya mendidik sang anak.

 Para orangtua yang mengalami Parent Frustration Syndrome tidak banyak yang menyadari, bahwa penyebab dari kelabilan emosi mereka bukanlah sang anak yang sulit ditangani. Dalam membesarkan anak, akan selalu ada masa di mana anak memancing reaksi emosional orangtua. Namun hal itu tidaklah berarti bahwa otomatis orangtua harus terpancing untuk bereaksi secara emosional. Dalam situasi demikian, sesungguhnya penentu dari respon orangtua adalah diri orangtua sendiri, khususnya kemampuan orangtua untuk menenangkan diri (self-soothing). Bila orangtua memiliki kemampuan yang cukup untuk menenangkan diri, maka orangtua tidak akan mudah terpancing secara emosional oleh sikap dan perilaku yang tidak diinginkan, yang dilakukan oleh anak, sehingga mampu untuk secara rasional mencari jalan keluar terhadap kondisi yang ada. Itulah sebabnya, kemampuan menenangkan diri merupakan salah satu dari strategi bertahan hidup (life coping strategy) yang diperlukan, tidak hanya dalam mendidik anak, tetapi juga dalam semua bidang kehidupan. Oleh karena itu, orangtua sangatlah perlu memiliki kemampuan untuk menenangkan diri dalam situasi yang emosional.

 Akan tetapi, bila dalam diri orangtua sudah ada persepsi yang negatif terhadap sikap ataupun perilaku anak, biasanya akan sulit bagi orangtua untuk dapat mendengarkan anak secara efektif, apalagi memahami anak. Hal ini dikarenakan, pikiran merupakan dasar bagi kebanyakan tindakan manusia. Bila orangtua memiliki persepsi negatif terhadap anak, akibatnya orangtua akan condong untuk bersikap menghakimi terhadap anak, serta lebih mudah merasa kewalahan dan frustasi terhadap sikap dan perilaku anak. Akibatnya, orangtua sulit untuk dapat berusaha memahami mengapa anak begitu sulit untuk ditangani, sehingga menjadi lebih rentan terhadap Parent Frustration Syndrome.

 Bila orangtua akhirnya mengalami Parent Frustration Syndrome, ia akan menjadi lebih mudah terpicu untuk bereaksi emosional terhadap anak. Akibatnya, orangtua yang demikian umumnya memiliki perasaan bersalah serta perasaan tidak mampu dan tidak berdaya dalam dirinya. Hal ini menyebabkan mereka menjadi lebih mudah dihinggapi oleh pikiran negatif. Itulah sebabnya, persepsi negatif dalam diri orangtua dengan Parent Frustration Syndrome cenderung mudah menumpuk. Semakin banyak tumpukan persepsi negatif orangtua terhadap anak, semakin mudah orangtua meledak emosinya. Bila kondisi ini terjadi terus-menerus dalam jangka panjang, maka orangtua umumnya menjadi tidak menyukai sang anak, sehingga secara sadar ataupun tidak, cenderung menjauhi anak, dan akibatnya tidak memiliki hubungan emosional yang dekat dengan anak. Kondisi yang demikian menyulitkan orantua untuk keluar dari lingkaran Parent Frustration Syndrome.

 Bila orangtua merasa bahwa ia memiliki gejala Parent Frustration Syndrome, tidak perlu panik. Orangtua dapat mengatasinya dengan mengontrol pikiran dan perasaannya dengan pendekatan alternatif makna. Membangun kemampuan memilih alternatif makna dari sikap atau perilaku anak merupakan salah satu kunci agar orangtua dapat bersikap tenang dalam menghadapi anak. Memaknai perilaku anak dari sudut pandang yang berbeda merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan dilatih, selama ada kemauan dan komitmen. Misalnya, bila anak berbohong, sebagai alternatif pemikiran bahwa "anak adalah pembohong", orangtua dapat melihat kondisi itu sebagai indikasi bahwa "anak belum merasa aman untuk bicara jujur dengan saya". Yang perlu diingat adalah, hal ini bukan sekedar mengganti kata-kata, melainkan mengganti persepsi atau sudut pandang, yang akan berdampak langsung pada emosi yang dirasakan orangtua terhadap anak, dan juga terhadap dirinya sendiri. Untuk itu, orangtua perlu berusaha mendengarkan dan memahami anak, sehingga dapat memandang situasi yang ada bukan hanya dari sudut pandang orangtua, tetapi juga dari sudut pandang anak.

 Hal tersebut sangat mungkin dilakukan, karena setiap manusia sesungguhnya memiliki kapasitas mental yang sangat besar untuk membangun kesadaran dan mengontrol pikirannya. Untuk itu, akan menolong bila orangtua menuliskan pikiran dan perasaannya secara berkala sebagai bentuk akuntabilitas terhadap perubahan yang ingin dicapainya. Orangtua dapat menuliskan kejadian terkait anak yang memicu munculnya emosi negatif dalam dirinya, pikiran negatif yang dimilikinya terkait kejadian tersebut, serta alternatif pemikiran yang lebih positif dan rasional terhadap kejadian tersebut. Dengan demikian, bila kejadian serupa terjadi lagi, orangtua sudah lebih siap dengan alternatif pemaknaan yang lebih positif. Selain itu, akan baik bila orangtua juga menuliskan perubahan-perubahan positif yang terjadi, baik pada anak maupun diri orangtua. Catatan tersebut tidak perlu terlalu formal, yang penting dapat menolong orangtua memonitor pikiran dan perasaannya, serta kemajuan yang terjadi. Bila hal ini sudah dilakukan secara konsisten untuk jangka waktu beberapa bulan, namun orangtua belum melihat ada perubahan atau kemajuan sedikit pun pada diri orangtua ataupun anak, ada baiknya orangtua berkonsultasi kepada konselor atau psikolog. Hal ini penting agar orangtua dapat terlepas dari Parent Frustration Syndrome dan mampu memiliki persepsi yang positif terhadap anak. (red)

foto: schoolingblogs.wordpress.com