Komplikasi Kehamilan yang Berbahaya

Maternity - 11 May 2019

Komplikasi kehamilan adalah masalah kesehatan yang terjadi selama kehamilan. Masalah tersebut bisa melibatkan kesehatan ibu, kesehatan bayi atau keduanya. Beberapa wanita mengalami masalah kesehatan selama kehamilan, dan ada wanita yang sebelum hamil pun sudah memiliki masalah dengan kesehatannya. Penting bagi wanita untuk menerima perawatan kesehatan sebelum dan selama kehamilan untuk mengurangi risiko komplikasi kehamilan atau kehamilan yang berbahaya. Gejala komplikasi kehamilan berkisar dari ringan sampai berat dan kadang-kadang mengancam jiwa. Berikut ini sejumlah komplikasi yang umum menyertai kehamilan. Mengenalinya dan mencari cara untuk mengasinya akan meningkatkan peluang Anda melahirkan bayi yang sehat dengan selamat. 

Anemia

Ini adalah gangguan kesehatan yang sering diderita ibu hamil. Anemia adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari jantung yang diperoleh dari paru-paru, dan kemudian mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Gejalanya antara lain: pucat, nafas pendek atau sesak,sering kelelahan, menurunnya kekebalan tubuh. 

Dampak anemia pada ibu dan janin diantaranya dapat menyebabkan keguguran, pendarahan, mengalami depresi setelah melahirkan, infeksi yang berhubungan dengan intrapartum dan postpartum, serta gangguan pada kehamilan dan persalianan. Mengobati penyebab dasar anemia akan membantu mengembalikan jumlah sel darah merah yang normal. Dokter biasanya akan memberikan suplemen zat besi dan folat untuk wanita hamil yang menderita anemia. Dokter juga akan memeriksa kadar zat besi selama kehamilan untuk memastikan anemia tidak terjadi lagi.

Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang berkembang diluar rahim, biasanya didalam tuba falopi. Situasi ini membahayakan nyawa karena dapat menyebabkan pecahnya tuba falopi jika kehamilan berkembang. Kehamilan ektopik dapat terjadi hingga 50 persen dari  kehamilan yang ada. Gejala kehamilan ektopik bervariasi mulai dari munculnya flek, sakit perut, nyeri bahu, perdarahan vagina, pusing atau pingsan. Umumnya, untuk mengetahui ada-tidaknya kehamilan ektopik, digunakan screening dengan ultrasound. Jika dokter sudah mendiagnosa kehamilan ektopik, berbagai pengobatan akan dilakukan dalam mengatasi kehamilan ektopik seperti obat-obatan dan operasi.

Diabetes Gestasional

Peningkatan gula darah tinggi yang menetap sewaktu kehamilan pada wanita yang sebelumnya tidak menderita diabetes sebelum hamil. Biasanya tidak ada gejala, Jika memang ada, gejala tersebut sangat ringan dan sering dihubungkan dengan situasi selama kehamilan. Gejala yang mungkin timbul: rasa haus, kelaparan dan kelelahan. Dibutuhkan tes skrining untuk mendeteksinya.Ibu hamil dapat mengontrol diabetes gestasional dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga atau jika perlu menggunakan obat. Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko preeklamsia, bayi besar yang dapat mempersulit kelahiran, bayi lahir dengan gula darah rendah, masalah pernafasan dan kuning (jaundice).

Placenta Pervia

Kondisi di mana posisi plasenta terlalu dekat atau bahkan menutupi serviks. Plasenta adalah organ vital yang menjadi jembatan antara ibu dengan bayi dan memberi suplai nutrisi melalui tali pusar janin. Jika kondisi placenta previa terus berlangsung sampai saat kandungan semakin tua, dapat menyebabkan perdarahan dalam trimester ketiga. Bisa juga menyebabkan kelahiran dini yang membuat bayi lahir prematur. Jika plasenta menutupi seluruh serviks atau sebagian dari serviks saat akan melahirkan, maka sulit diharapkan bisa melahirkan dengan normal atau jika terpaksa harus dengan bedah caesar.

Hyperemesis Gravidarum

Mual dan muntah di masa kehamilan dengan frekuensi serta gejala yang jauh lebih parah daripada morning sickness. Gejalanya, mual dan muntah berkepanjangan, tidak nafsu makan, kehilangan berat badan, dehidrasi dan lemah (pingsan). Jika gejala belum begitu parah, kemungkinan dokter akan meresepkan obat-obatan  seperti vitamin B6 dan B12, Obat antiemitik atau antimual. Anda juga bisa meringankan gejala hiperemesis gravidarum dengan menghindari aroma yang memicu mual, banyak istirahat dan mengonsumsi makanan kering seperti biskuit.

Preeklampsia

Merupakan salah satu dari kelainan tekanan darah tinggi yang terjadi pada kehamilan, disebut juga toksemia.Gejala meliputi: tekanan darah tinggi, pembengkakan tangan dan wajah, terlalu banyak protein dalam urin, sakit perut, penglihatan kabur, pusing, sakit kepala. Tata laksana preeklamsia yang paling utama adalah persalinan. Jika usia kehamilan tidak terlalu muda, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan proses kelahiran lebih cepat agar tidak membahayakan kondisi ibu dan bayi dalam kandungan. Tapi, jika usia kandungan masih terlalu muda dan preeklampsia telah terdeteksi sejak dini, dokter akan melakukan beberapa hal untuk mengatasinya, seperti penurunan tekanan darah dan pemberian obat-obatan.

Keguguran (Miscarriage)

Keguguran adalah berakhirnya kehamilan sebelum usia 20 minggu. Sayangnya, keguguran bisa terjadi pada sekitar 20 persen kehamilan. Jika keguguran terjadi secara berturutan (2 kali atau lebih), ini disebut keguguran berulang dan perlu tes khusus untuk mencari penyebab. Tanda-tanda keguguran antara lain: kram atau sakit perut, perdarahan, keluar jaringan lewat vagina. Dalam kebanyakan kasus, keguguran tidak dapat dicegah.Wanita yang mengalami keguguran harus menjalani kuret untuk 

membantu membersihkan rahim dari jaringan janin atau bayi yang sudah meninggal. (red)