Family Guide Indonesia

Dampak Buruk Hipertensi Pada Kehamilan

Maternity - 27 Jun 2020

Waspadai jika selama hamil terjadi kenaikan tekanan darah (hipertensi), karena bisa jadi membawa risiko penyakit jantung di kemudian hari, bahkan untuk perempuan yang tampaknya sehat. Sebuah studi dari Finlandia menunjukkan bahwa perempuan dengan hipertensi selama kehamilan yang lazim disebut hipertensi gestasional (tapi tidak didiagnosis dengan gangguan itu sebelumnya) ternyata 1,4 kali lebih mungkin mengalami gagal jantung.

 Bahkan, mereka dua kali lebih mungkin untuk meninggal akibat serangan jantung di kemudian hari dibandingkan dengan wanita bertekanan darah normal selama kehamilan. Perempuan dengan tekanan darah tinggi setelah 20 minggu kehamilan dalam penelitian itu menunjukkan lebih mungkin mengalami serangan jantung dan stroke dibanding wanita bertekanan darah normal, demikian menurut laporan yang dipublikasikan di jurnal Circulation.   

Temuan serupa juga berlaku bagi wanita yang tidak memiliki risiko penyakit-penyakit itu sebelum kehamilan, seperti tidak merokok, berat badan normal bahkan tidak memiliki riwayat diabetes tipe 2. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa preeklamsia, yaitu kondisi serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan meningkatnya kadar protein dalam urin, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan ginjal di kemudian hari. 

Temuan baru ini menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan mungkin perlu dipantau untuk mencegah risiko penyakit jantung. Studi ini diadakan di Finlandia sehingga peneliti tidak berani memastikan apakah hasilnya berlaku untuk perempuan di negara-negara lain. Penelitian melibatkan lebih dari 10 ribu wanita Finlandia yang melahirkan pada 1966. Tekanan darah mereka diukur sedikitnya tujuh kali selama kehamilan dan dilanjutkan setelahnya sekitar 40 tahun. Sekitar sepertiga dari perempuan ini mengidap tekanan darah tinggi pada saat kehamilan, demikian Live Science.

Sumber: DokterDigital
foto: wisegeek.com