Anemia Saat Hamil Berisiko Bagi Janin

Maternity - 12 Nov 2019

Anemia atau kurang darah saat hamil hal yang biasa terjadi. Meski demikian, harus segera ditangani karena akan berdampak pada kehamilan. 

Anemia akan membuat proses kehamilan menjadi tidak nyaman. Calon ibu akan cepat lelah, lemah, serta lesu. Keluhan seperti pusing, jantung berdebar, susah bernapas  dan mudah pingsan acapkali menyertai penderita anemia. 

Tidak hanya berpengaruh pada ibu hamil, anemia juga berisiko pada bayi dalam kandungan. Pertumbuhan dan perkembangan janin akan terganggu  yang dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, persalinan prematur, hingga kematian janin. 

Kecenderungan wanita hamil mengalami anemia disebabkan sejumlah faktor:

- Janin mengambil cadangan protein, besi dan asam folat ibu untuk membentuk sel-sel tubuh dan sel darah janin padahal ibu juga membutuhkannya untuk membentuk sel darah merahya sendiri.

- Kehamilan membuat tubuh calon ibu perlu meningkatkan produksi sel darah merah dan plasma 50% lebih banyak, karena janin plus plasentanya juga perlu disuplai zat besi.

- Diet rendah zat besi. 

- Kekurangan asam folat dan vitamin B12.

- Kehilangan darah karena terkena haemorrhoids.

Untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil, sebaiknya periksakan kesehatan saat mulai mempersiapkan kehamilan dan berkonsultasi dengan dokter.

 Selain itu, wanita hamil juga disarankan memperbanyak konsumsi vitamin C dari buah-buahan seperti kiwi, jeruk, stroberi, pepaya, dan brokoli untuk membantu  penyerapan zat besi dalam tubuh.

 Sebaiknya ibu hamil menghindari makanan yang mengandung fitat, fosfat, tanin seperti teh sebaiknya dihindari karena dapat menghambat penyerapan zat besi.  (red)

Foto: MediMetry