Sugar Rush Membuat Anak Hiperaktif?

Health - 11 Mar 2019

Anak memang cenderung menyukai rasa yang manis. Di masa pertumbuhan, mereka menggunakan banyak kalori dan tubuhnya untuk merespon proses tersebut dengan kecenderungan menyenangi rasa manis. “Anak-anak cenderung mengonsumsi gula, sebab tubuh mudanya secara secara efisien mengubah gula menjadi energi sebagai bahan bakar pertumbuhan,” jelas Susan Susan Coldwel, asisten profesor ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dari Universitas Washington.


Karena anak-anak cenderung bersifat aktif (tak bisa diam) dan gemar mengonsumsi makanan manis, banyak orangtua yang mengaitkan konsumsi gula pada anak dengan perilaku hiperaktif atau overstimuli.  Mereka meyakini istilah sugar rush sebagai penyebab hiperaktif pada perilaku anak.

Sugar rush, menurut Dr. David Ludwig, profesor pediatri di Harvard Medical School, sekaligus direktur program Optimal Weight for Life di Children's Hospital Boston, terjadi ketika anak-anak mengonsumsi makanan berindeks glisemik tinggi. Makanan tersebut dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat, namun tidak akan bertahan lama. Kenaikan gula darah inilah yang akan memberikan dorongan energi pada anak dan membuat mereka kesulitan untuk memfokuskan perhatian.


Istilah atau anggapan tentang adanya sugar rush mulai populer di tahun 1973, ketika Benjamin Feingold, M.D., seorang ahli alergi, menerbitkan Feingold Diet yang merekomendasikan diet bebas pewarna makanan, salisilat, dan pengawet makanan, untuk anak-anak yang hiperaktif. Walau Feingold tidak menyebutkan secara spesifik untuk menghindari gula, namun makanan dan minuman yang mengandung gula yang disuling, perlahan-lahan ikut dimasukkan dalam diet tersebut.

 

Lantas, apakah sugar rush benar-benar mengakibatkan seseorang menjadi hiperaktif?


Melalui berbagai eksperimen selama bertahun-tahun, para ilmuwan menemukan bahwa tidak ada bukti substansial yang menunjukkan adanya hubungan antara mengonsumsi gula berlebihan dan anak-anak hiperaktif.


Salah satu dari sejumlah penelitian tentang keterkaitan gula dan hiperaktivitas dilakukan oleh University of Iowa. Dalam penelitian tersebut, dokter Mark Wolraich, M.D. membagi anak-anak menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang norman dan yang dilaporkan sensitif terhadap gula. Kedua kelompok diberi gula pasir, aspartam, dan sakarin. Hasilnya, tidak ditemukan adanya perbedaan perilaku pada kedua kelompok anak tersebut.


Meskipun mengonsumsi gula tidak akan mempengaruhi perilaku anak menjadi hiperaktif, namun konsumsi gula anak sebaiknya dibatasi, demikian rekomendasi American Dietetic Association (ADA). Ada sejumlah penyakit yang akan timbul dikemudian hari karena konsumsi gula berlebih pada anak, yaitu kerusakan gigi (gigi keropos), obesitas, gizi tak berimbang (anak yang terlalu banyak mengonsumsi gula biasanya menolak makan karena merasa kenyang), meningkatkan risiko diabetes, dan meningkatkan risiko kanker.

 

Jumlah takaran gula yang boleh di konsumsi anak

Badan kesehatan dunia, WHO, merekomendasikan kebutuhan gula anak tidak boleh

lebih dari 10 persen total kebutuhan energi harian mereka. Anak yang berusia 1-3 tahun dengan kebutuhan energi rata-rata 1000 kkal, maka kebutuhan gulanya mencapai 25 gram atau sekitar 5 sendok teh per hari.

Anak usia 3-6 tahun dengan angka kebutuhan energi rata-rata yang mencapai 1550 kkal perhari, maka asupan gula tidak boleh lebih dari 64 gram atau 12 sendok teh per hari. Angka kebutuhan gula di atas merupakan angka maksimal per hari. Sebab itu, selalu cermati kandungan gula dalam setiap makanan yang disantap anak.

 

Tips Membatasi Gula

 

1. Beralihlah ke makanan ringan atau camilan yang tidak mengalami proses pengolahan, seperti buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan.

 

2. Saat membeli makanan, selalu baca label nutrisi yang terkandung di dalamnya dan bandingkan dengan produk lain.  

 

3. Batasi pembelian minuman manis seperti sirup atau softdrink, dan sebagainya. Jangan menyimpan minuman manis berlebihan di rumah. Minuman terbaik untuk anak adalah air putih dan susu rendah lemak.

 

4. Batasi asupan jus buah, sebab banyak  jus buah yang memiliki kadar gula tinggi.

 

5.Jangan jadikan makanan manis menjadi hadiah  untuk anak. Hadiah permen atau cokelat menjadikannya sebagai makanan spesial yang berbeda dengan makanan lain menurut anak.

 

6. Menjadi teladan bagi anak-anak dengan mencontohkan gaya hidup sehat. (red)


foto: thecottoncandymaker.com