Kenali Kanker Serviks yang Merenggut Nyawa Julia Perez

Health - 13 Jun 2017

Artis Yuli Rachmawati atau Julia Perez alias Jupe meninggal dunia di usia 36 tahun akibat kanker serviks di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Sabtu siang(10/6). Jupe mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RSCM terkait penyakit kanker leher rahim yang diideritanya sejak 3 tahun silam. 

Aktris yang sempat menjadi duta kanker serviks ini meninggal dunia akibat kanker serviks stadium empat. Jupe pertama kali didiagnosis penyakit kanker pada September 2014 di stadium 2B dan sempat menjalani pengobatan di Singapura. Kondisi kesehatan Jupe naik dan turun pasca divonis kanker leher rahim. 

Pada Desember 2016, Jupe mengakui kanker serviksnya telah masuk stadium 4 (stadium lanjut, biasanya kanker sudah mengalami metastasis atau menyebar ke organ lain). Awal 2017 aktris yang terkenal dengan lagunya ‘Belah Duren’ dan ‘Aku Rapopo’ ini sempat melakukan ibadah umrah. Sepulang umrah, kondisi Jupe menurun. Pada Februari 2017, Jupe mulai dirawat secara intensif di RSCM. Pada April 2017 kondisi Jupe terus menurun dan dilaporkan koma. Kondisi yang sama kembali terjadi pada awal Juni 2017. 

Ajal tak dapat ditolak, Jupe akhirnya harus menyerah melawan kanker serviks. Tentang Kanker Serviks Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 

Dilansir laman kesehatan Mayoclinic.org, sebanyak 90% kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Bagaimana kanker serviks terjadi? 

Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. Jika sel serviks terus membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker serviks. Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks, antara lain: 

1. HPV (human papillomavirus) HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56. 

2. Merokok Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. 

3. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini.

4. Berganti-ganti pasangan seksual. 

5. Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun, berganti-ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks. 

6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970). 

7. Gangguan sistem kekebalan. 

8. Pemakaian pil kontrasepsi. 

9. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun. 

10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan pap smear secara rutin) 

Cara mencegah kanker serviks Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks: 

1. Mencegah terjadinya infeksi HPV yaitu dengan melakukan vaksinasi HPV. Vaksinasi untuk kanker serviks sebaiknya dilakukan untuk pencegahan sejak awal karena 70-80 persen kanker serviks disebabkan adanya infeksi virus HPV tipe 16 dan 18. HPV dibagi menjadi 2 macam yaitu, HPV yang berisiko tinggi penyebab kanker dan HPV yang berisiko rendah yang tidak menyebabkan kanker. Memberikan vaksinasi secara rutin sangat dianjurkan bagi anak perempuan yang berusia 11 atau 12 tahun. Vaksin sebaiknya diberikan sejak usia dini. Anak perempuan disarankan mendapatkan vaksin sebelum hubungan seksual pertama. Jika dilakukan vaksin sebelum melakukan hubungan seksual, vaksinasi HPV dapat mencegah kanker serviks hamper 100%. 

2. Melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur. Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal). Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa. Dalam 24 jam sebelum menjalani pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon. Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prakanker pada serviks. 

Jika hasil pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kolposkopi dan biopsy. Kapan harus melakukan pap smear? Anjuran untuk melakukan pap smear secara teratur: - Setiap tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun. - Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin. - Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB. - Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun jika 3 kali pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker. - Sesering mungkin jika hasil pap smear menunjukkan abnormal. - Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prakanker maupun kanker serviks. 

Bagaimana meminimalkan kemungkinan kanker serviks? Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks, ada sejumlah hal yang dapat dilakukan, yaitu: 

1. Anak perempuan yang berusia di bawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual. 

2. Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin Jangan berganti-ganti pasangan seksual. 

3. Berhenti merokok. 

4. Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi.  

Sumber :dokterdigital

foto: showbiz-liputan6.com