Bahaya Asap Tangan Ketiga Mengintai Keluarga

Health - 03 Sep 2019

Paparan asap rokok di dinding, lantai, karpet, sofa, baju dan bahan lainnya yang ada di rumah menjadikan Si Kecil sebagai perokok tangan ketiga. Bahaya yang tak terlihat ini sudah pasti mengancam anak dan anggota keluarga lain yang tidak merokok. 

Apa itu perokok tangan ketiga? Ketika seseorang secara langsung menghisap rokok itu disebut perokok aktif. Sedangkan perokok pasif adalah orang yang tidak secara langsung menghisap rokok, tetapi menghisap asap rokok yang dikeluarkan dari mulut orang yang sedang merokok. 

Perokok atau asap tangan ketiga adalahmereka yang terpapar asap rokok yang menempel dan mengendap pada pakaian, furnitur, karpet, dinding, lantai dan barang-barang lainnya. Misalnya seorang ayah atau ibu merokok di ruang tamu. Beberapa saat kemudian ayah atau ibu menggendong anaknya dan duduk di ruang tamu bekas tempatnya merokok. Anak masih dapat menghirup sisa nikotin asap rokok dari pakaian ayah atau ibu dan juga benda-benda yang ada di ruang tamu meskipun ayah atau ibu sudah tidak merokok. Nah, sang anak lah yang disebut dengan perokok tangan ketiga. 

 Dr. Richard Graffis, wakil presiden eksekutif dan kepala medis di Indiana University Health menggambarkannya sebagai “asap yang tidak terlihat, tapi baunya masih tercium.” Residunya menetap selama berbulan-bulan dan bercampur dengan polutan lain untuk membentuk karsinogen yang amat berbahaya. 


Risiko Terbesar pada Bayi dan Balita

Bayi dan balita berinteraksi erat dengan lingkungannya. Saat mereka merangkak di lantai, bermain di lantai, dan memasukkan benda atau tangan ke mulutnya, mereka bisa menyentuh, menelan atau menghirup senyawa dari asap tangan ketiga. Bayi dan balita lebih rentan terhadap efek bahaya lingkungan dibandingkan orang dewasa.

 Anak-anak juga bisa terkena asap tangan ketiga saat berada di dalam mobil. Bahkan, meskipun orangtua tidak pernah menyalakan rokok di dalam mobil namun residu pada pakaian dan perokok bisa menempel di dashboard dan kursi mobil. 

Perokok tangan ketiga terancam bahaya layaknya perokok aktif dan pasif. Kandungan residu nikotin yang bereaksi dengan nitrogen di udara bebas akan membentuk senyawa tobacco-spesific nitrosamines (TSNAs). Senyawa ini  dapat menyebabkan kanker.

Sebuah studi menunjukkan bahwa asap sisa rokok yang menempel dan sudah mengendap selama setengah tahun mampu merusak DNA manusia. Selain itu, senyawa TSNAs ini juga dapat menyebabkan penurunan tingkat kecerdasan anak, dan menganggu perkembangan paru-paru bayi yang masih dalam kandungan.

Selain itu, menurut Science Daily, asap tangan ketiga juga bisa menyebabkan Diabetes tipe 2, fibrosis, penyakit paru obstruktif kronis, dan asma, serta hiperaktif dan kemampuan tubuh lambat dalam menyembuhkan luka. Penelitian menunjukkan anak-anak yang hidup serumah dengan orang dewasa yang merokok (dimana terdapat perokok aktif dan pasif) di rumah, 40 persen absen ke sekolah karena sakit ketimbang anak-anak yang tidak tinggal serumah dengan orang perokok. 


Meminimalkan Paparan Asap 

Satu-satunya cara untuk melindungi anak-anak dan keluarga kita dari asap tangan ketiga adalah dengan menciptakan lingkungan yang bebas rokok, baik di rumah maupun kendaraan. Namun jika hal tersebut belum dapat diwujudkan, kita bisa meminimalkan dengan cara membuang barang atau benda yang terkena paparan, seperti sofa, karpet, mengecat kembali dinding rumah Anda. Kalau mengganti furnitur dengan yang baru dirasa terlalu mahal, penggunaan vacuum cleaner dan mencuci bersih pakaian, tirai, seprai dan selimut juga akan membantu mengurangi risiko terkena substansi beracun asap tersebut.

 Sebelum menyentuh anak-anak, tegaskan pada orang dewasa (bisa suami atau istri atau kerabat lainnya) yang merokok untuk mencuci tangan dan wajahnya, serta mengganti pakaianAnda juga bisa meminimalkan paparan zat kimia akibat rokok dengan membuka jendela lebar-lebar, gunakan penyejuk udara atau kipas angin. 


Sayangnya, meski saat ini sudah banyak larangan merokok di tempat umum. Namun orang-orang masih tetap bisa merokok di tempat tinggal mereka. Padahal, tindakan mereka itu sebenarnya masih menyebarkan senyawa berbahaya dari rokok kepada orang-orang terdekat. Idealnya adalah berhenti merokok untuk menjaga anak-anak dan anggota keluarga kita lainnya terbebas dari bahaya asap rokok.(red)