Anak dan Epilepsi

Health - 20 Nov 2019

Epilepsi dapat mengenai siapa saja tanpa batasan usia, termasuk anak-anak, umumnya di bawah usia 5 tahun. Saat Si Kecil didiagnosa epilepsi, muncul kekhawatiran di benak orangtua, apakah anak bisa tumbuh cerdas dan menjalani hidup normal seperti anak-anak lainnya? 

Epilepsi atau dikenal juga dengan sawan merupakan penyakit gangguan saraf di otak yang dapat dapat terjadi pada semua orang tanpa batasan usia dan jenis kelamin. Menurut Dr. Irawaty Hawari, SpS, Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia atau YEI, gangguan neurologi ini berupa aktivitas listrik saraf abnormal yang menyebabkan serangan kejang dan bentuk lain seperti  perubahan tingkah laku, perubahan kesadaran dan perubahan-perubahan lain yang timbul, baik yang terasa atau terlihat. Umumnya, seseorang didiagnosis epilepsi setelah mengalami kejang beberapa kali tanpa sebab tertentu. Anak-anak dengan epilepsi cenderung mengalami kejang selama periode yang cukup lama. Perlu diketahui, epilepsi bukanlah satu-satunya penyebab kejang pada masa kanak-kanak, bukan penyakit mental, tidak selalu mempengaruhi kecerdasan anak dan tidak menular. 

Penyebab Epilepsi

Penyebab epilepsi sangat berbeda-beda. Usia menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk menemukan penyebab epilepsi. Sebab itulah penyebab epilepsi tidak bisa diperkirakan.Berbagai sebab dapat menjadi alasan terjadinya kerusakan pada jaringan saraf otak. Beberapa di antaranya adalah pembentukan otak tak sempurna karena kehamilan yang kurang terjaga dengan baik, penyakit yang menyerang otak (meningitis atau ensefalitis), hingga trauma pada otak (termasuk kekurangan oksigen) karena kecelakaan sebelum, selama, atau setelah lahir atau di masa kanak-kanak. Pada anak-anak, lebih dari setengah kasus epilepsi adalah idiopatik, atau belum dapat terungkap jenis penyebabnya. 

Gejala

Secara umum kejang menjadi salah satu dampak yang ditimbulkan oleh penyakit Epilepsi. Kejang epilepsi pada anak biasanya dimulai antara usia 4 hingga 7 tahun. Anak perempuan biasanya lebih sering mengalami ketimbang anak laki-laki. Kejang bisa terjadi berkali-kali dalam sehari, dari 10 hingga lebih dari 100 kali. Menurut Dr. Irawaty Hawari, SpS, reaksi kejang pada epilepsi terbagi menjadi dua, yakni kejang umum dan kejang fokal (parsial).

1. Kejang Umum:

- Serangan dimulai dengan anak menangis, tubuh tangan dan kaki tampak kaku (berlangsung 30-60  detik) diikuti kaki dan tangan kelojotan (berlangsung 30-60 detik), terkadang disertai trauma (lidah tergigit) dan mengompol.  Napas tampak berat dan dapat berhenti beberapa detik. Biasanya berlangsung selama 1 atau 2 menit, setelah serangan biasanya pada anak tampak bingung, lelah, dan anak kembali tidur.

-  Tubuh, tangan dan kaki tampak kaku.

-  Tubuh, tangan dan kaki kelojotan.

-  Gerakan seperti hentakan pada tangan dan kaki. Jika serangan berlangsung hebat benda apapun yang sedang dipegang anak akan terlempar.

-  Hilang kesadaran beberapa detik, anak tampak bengong, aktivitas seperti menulis,membaca, mengerjakan sesuatu terhenti selama beberapa detik, disertai mata menatap kosong ke satu arah, berkedip-kedip atau mulut mengecap-ngecap.

-   Otot kehilangan kekuatannya selama beberapa detik. Pada saat serangan, anak tiba-tiba jatuh lemas seperti pingsan, kepala dapat membentur sesuatu.

2. Kejang Fokal/parsial

-   Fokal Sederhana:  selama serangan anak tetap sadar dan tahu apa yang terjadi.

-   Fokal Kompleks: selama serangan anak tidak sadar. Serangan berlangsung 1 atau 2 menit. Ciri-cirinya, pandangan mata kosong, mulut mengecap/mengunyah, anak tampak bingung diikuti gerakan repetitif, otomatik, dan tidak bertujuan seperti berulang–ulang memungut dan meletakkan sesuatu, mondar mandir tanpa tujuan, dan tidak dapat mengontrol perubahan perilakunya.

-  Fokal Menjadi Umum:  kejang berasal dari satu bagian otak yang kemudian menyebar ke seluruh otak. Gejala dapat berupa gerakan-gerakan pada jari tangan di satu sisi, menyebar ke lengan dan tubuh di sisi yang sama kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Anak yang besar bisa merasakan dan memberitahu orang lain di sekitarnya jika akan kejang. 

Ketika terjadi serangan kejang pada anak, Anda jangan panik dan harus tetap tenang. Jangan masukkan benda apapun ke dalam mulut anak karena akan membuatnya muntah. Longgarkan pakaian anak dan posisikan anak dengan kepala miring agar mudah bernapas. Jauhkan benda-benda keras dan tajam yang dirasa dapat melukai anak.. Bila keadaan berbahaya segera bawa ke rumah sakit dan hubungi dokter.

Penanganan

70% dari penderita epilepsi dapat mengendalikan bangkitan kejang dengan 

-Obat anti-epilepsi (OAE). OAE bertujuan untuk mencegah bangkitan terjadi, tetapi tidak menyembuhkan epilepsi. 

-Hindari juga faktor yang bisa menjadi pencetus seperti terlalu kelelahan, kurang tidur, terlalu panas atau dingin, pikiran dan stres secara psikis. 

-Tindakan bedah/operasi.

Dukung ODE

Penyakit epilepsi tidak berhubungan dengan IQ, bahkan sebagian besar ODE (Orang Dengan Epilepsi) mempunyai IQ rata-rata bahkan di atas rata-rata. Oleh karena itu, penting bagi para ODE untuk mengenali potensi yang ada pada dirinya, agar mereka bisa menunjukkan kepada keluarga dan masyarakat sekitarnya bahwa mereka juga dapat berprestasi. Untuk para orangtua penyandang epilepsi, sebaiknya jangan terlalu membatasi kegiatan, pergaulan dan kreatifitas anak mereka, agar kelak mereka tidak menjadi anak yang rendah diri. Faktor dukungan dari keluarga dekat atau lingkungan sekitar sangatlah besar. (red)