Saat membuat perencanaan keuangan, apakah Anda dan pasangan memasukkan pos dana darurat di sana? Diakui atau tidak, pos ini sering terlewat begitu saja. Padahal kalau tak ada dana darurat, bisa-bisa seluruh rencana keuangan keluarga berantakan.

Sesuai namanya, dana darurat berarti dana yang disiapkan untuk keadaan darurat atau tak terduga, misalnya: kehilangan pekerjaan, kecelakaan atau sakit mendadak yang membutuhkan biaya besar dan lain sebagainya. Dana darurat menjadi tameng dan melindungi financial planning keluarga agar tetap stabil dari peristiwa kepepet tadi. Bayangkan bila tak ada pos ini, bisa jadi Anda harus menguras pos-pos keuangan lain atau bahkan berhutang. Idealnya semua keluarga harus memiliki pos yang satu ini. Tak mudah memang, apalagi bagi yang berpenghasilan pas-pasan. Tapi dengan tekad dan kemauan yang kuat, kita bisa memulainya kok. Ikuti tips singkat berikut:

1. Pos yang Penting

Anggap dana darurat sebagai pos penting yang harus dimasukkan dalam perencanaan keuangan keluarga. Jika perlu, masukkan dalam daftar pertama, sehingga Anda dan keluarga tidak menyepelekan keberadaannya lagi.  

2. Membuat Rekening Khusus

Ada baiknya membuka satu rekening khusus di bank yang tidak akan diutak-atik. Dengan begitu, dana darurat aman tersimpan, tanpa tercampur dengan pos-pos pengeluaran lainnya. Untuk keperluan mendadak yang tak butuh dana terlalu besar, Anda bisa memanfaatkan amplop khusus bertuliskan ‘Dana Darurat’. Jadi Anda bisa mengambilnya sewaktu-waktu tanpa repot. 

3. Mulai Sisihkan Dana

Ini adalah langkah terberat. Tapi ingat, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Untuk pos ini, tak perlu menabung dalam jumlah banyak, asal rutin dan konsisten. Misalnya, menyisihkan Rp. 10.000 sehari, dalam sebulan Anda sudah memiliki Rp. 300.000 ribu, kalikan dengan 12, maka dana darurat kini berjumlah Rp. 3.600.000 dalam setahun. Lumayan ‘kan?

4. Simpan Berapa?

Tentunya jumlah Rp. 3.600.000, masih jauh dari cukup. Perencana keuangan Ligwina Hananto berkata bahwa dana darurat bagi sebuah keluarga dengan 1 atau 2 anak, sebaiknya berjumlah 6-12 kali gaji atau pengeluaranan bulanan keluarga. Tapi begitu angka ini sudah berhasil dipenuhi, bukan berarti berhenti di titik ini. Makin banyak yang disisihkan, semakin aman dan kuat posisi Anda dalam menghadapi kejadian tak terduga. Jadi teruslah menabung untuk pos dana darurat.  

5. Hindari Berhutang 

Demi mengamankan dana darurat, kita pun berhutang. Bisa dengan meminjam ke orang lain atau menggunakan kartu kredit. Benarkah tindakan ini? Salah! Fungsi dana darurat justru untuk melindungi kita dari hutang. Jadi manfaatkan dana darurat sebaik dan semaksimal mungkin. Dan yang pasti, prioritas finansial keluarga yang utama adalah mengendalikan belanja dan memangkas hutang!

6. Menginvestasikannya

Kalau mau Anda bisa menaruh sebagian dana darurat dalam bentuk deposito, reksadana pasar uang atau dalam bentuk emas yang sedang trend sekarang ini. Ini berguna, jika misalnya Anda sudah menguras dana darurat di tabungan untuk keperluan mendesak, namun  ternyata masih belum cukup juga. Maka tak ada salahnya bila mencairkan dana darurat dalam bentuk investasi tadi.  

Mudah bukan? Ingat, tak ada rahasia super dalam mengatur dana darurat. Kita hanya butuh tekad kuat untuk rajin menabung dan menahan godaan untuk mengambil dan menggunakannya demi hal tak perlu. Dan yang lebih penting, mulai SEKARANG! (Red)

Foto: okezone.com