Family Guide Indonesia

Layanan Transplantasi Ginjal di Era New Normal

Citybuzz - 11 Sep 2020

Rumah sakit Dr.Cipto Mangunkusumo hari ini melakukan re-launching Unit Layanan Transplantasi Ginjal yang selaras dengan era kebiasaan baru yaitu dengan pemberlakuan protokol kesehatan terkait pandemi Covid-19 tanpa mengurangi kualitas layanannya. Masyarakat dihimbau untuk tidak khawatir karena layanan yang diberikan aman, nyaman dan tentunya didukung oleh SDM yang handal, sarana prasarana lengkap serta teknologi terdepan. Untuk diketahui RSCM memulai transplantasi ginjal yang pertama di Indonesia pada tahun 1977. Dalam perkembangannya telah banyak teknologi yang diadopsi untuk memajukan transplantasi ginjal di Indonesia, salah satunya adalah tindakan pengambilan ginjal donor dengan operasi invasif minimal, laparoskopi, yang diperkenalkan pada tahun 2011. Hal ini menandai dimulainya era laparoskopi dalam transplantasi ginjal di Indonesia, dan sejak saat itu RSCM telah melakukan sekitar 800 prosedur transplantasi ginjal dan terus berupaya untuk memberikan yang terbaik, termasuk mengembangkan pendidikan dan penyebarluasan informasi tentang hal ini untuk masyarakat luas.

dr.Lies Dina Liastuti, SpJP (K), MARS, Direktur Utama RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo dalam sambutannya pada Virtual Media Briefing hari ini mengatakan, “Sejak kasus pertama COVID-19 diketahui di Indonesia, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo telah menerima dan merawat pasien COVID-19. RSCM telah menambah kapasitas 37 tempat tidur gawat darurat melalui IGD Ultimate. Per April 2020, RSCM menyediakan zona khusus COVID-19 bernama Kiara Ultimate, yang dilengkapi dengan 102 tempat tidur bertekanan negatif, dimana 33 diantaranya merupakan kamar rawat intensif (ICU, HCU, PICU, dan NICU), kamar operasi tersendiri, Poliklinik Infeksi Saluran Nafas Akut(ISPA) khusus pasien COVID-19,serta layanan pemeriksaan penunjang, seperti laboraorium dan radiologi. RSCM memberlakukan sistem zonasi yang ketat guna mengurangi potensi penularan antara pasien, tenaga kesehatan, dan karyawan. Terdapat 3 zona yang diberlakukan, yaitu zona merah yang merupakan tempat dimana potensi penularan sangat tinggi, zona kuning, dimana potensi penularan sedang-tinggi serta hijau, dimana potensi penularan rendah. Terkait dengan imbauan Kementerian Kesehatan untuk mengurangi praktik rawat jalan, layanan transplantasi ginjal menjadi salah satu program unggulan RSCM yang cukup terdampak. Pada tahun 2020 RSCM telah melaksanakan 14 prosedur transplantasi ginjal, baik di RSCM maupun di RSCM Kencana. Melalui acara ‘Re-launching Layanan Transplantasi Ginjal’, RSCM berharap, dengan pemberlakuan protokol kesehatan baru ini, potensi penularan risiko COVID ke pasien dapat dikurangiseminimal mungkin, tanpamengurangi kualitaslayanan. Dengan demikian, masyarakat yang membutuhkan prosedur transplantasi ginjal dapat kembali berobat ke RSCM tanpa dipenuhi rasa gelisah dan khawatir.”

Pada saat yang sama Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, Ketua Indonesian Transplantation Society mengemukakan, “Masalah universal dalam bidang transplantasi organ adalah kurangnya jumlah donor. Transplantasi ginjal di Indonesia baru dilaksanakan dari donor hidup, sedangkan transplantasi dari donor jenazah belum terlaksana. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum mengenal transplantasi organ sehingga masih apatis terhadap kegiatan transplantasi organ. Upaya penyuluhan tentang donasi ginjal kepada masyarakat sudah sering dilakukan tetapi masih sedikit yang bersedia menyumbangkan ginjalnya untuk pasien yang membutuhkan. Dengan terbentuknya Komite Transplantasi Nasional yang disertai dukungan oleh Fatwa Majelis Ulama Indonesia, diharapkan masalah kekurangan donor ginjal akan dapat diatasi dengan upaya peningkatan jumlah donor hidup dan pelaksanaan transplantasi dengan donor jenazah. Berbagai metode pemeriksaan untuk persiapan operasi dan obat imunosupresan terbaru untuk mengurangi angka rejeksi dan untuk meningkatkan harapan hidup ginjal transplan sudah dilakukan di RSCM. Dalam bidang bedah, teknik operasi yang terbaru juga sudah dilakukan sehingga baik dari segi medis maupun bedah tidak berbeda dengan yang dilakukan di luar negeri.”

Di era pandemi COVID-19 ini, setiap individu donor atau resipien harus mengikuti protokol baru yang berlaku. Khusus pada individu resipien yang memiliki kerentanan akibat konsumsi obat jangka panjang dan kondisi medis lain, wajib menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Hasil beberapa studi kecil di New York menunjukkan angka morbiditas dan mortalitas akibat COVID-19 yang lebih tinggi dibandingkan populasi normal.  Berbicara tentang kesiapan perawatan intensif dalam pelayanan transplantasi ginjal di era kebiasaan baru, Dr. dr. Dita Aditianingsih, Sp.An-KIC, Pokja Transplantasi Ginjal RSCM, Departemen Intensive Care FKUI-RSCM mengatakan, “Perawatan pasca prosedur transplantasi ginjal memegang peranan penting dalam menjamin keberhasilan tindakan dan mengurangi risiko komplikasi. RSCM memiliki ICU dengan sarana dan prasarana yang memadai untuk pemantauan pasien, serta tindakan emergensi bila diperlukan. Salah satunya adalah mesin pengganti ginjal berkelanjutan/continuous renal replacement therapy (CRRT) yang berperan menggantikan fungsi ginjal bila ginjal baru tidak bekerja sesuai harapan. ICU RSCM juga memiliki alat untuk memberikan obat nyeri secara kontinyu bagi pasien yang memiliki keluhan nyeri hebat di area operasi serta diisi oleh dokter dan perawat yang kompeten dan terlatih di bidang transplantasi ginjal. (red)