Family Guide Indonesia

Deteksi Dini Terhadap Sifilis Si "Pembunuh" Organ

Citybuzz - 12 Feb 2020

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang bulan Juli-September 2019, tercatat sekitar 1.586 pasien Sifilis yang diobati di Indonesia, dari beragam kelompok risiko seperti wanita pekerja seks (WPS), pria pekerja seks (PPS), lelaki seks dengan lelaki (LSL), injection drug user (IDU), waria, pasangan risti, dan pelanggan pekerja seks1. Berdasarkan data distribusi kasus Sifilis baru di RS Dr. Cipto Mangunkusumo, terjadi peningkatan jumlah pasien yang berobat akibat Sifilis. Pada 2016 tercatat 45 pasien, 2017 tercatat 49 pasien, dan 2018 meningkat lagi menjadi 63 pasien.


Jika tidak diobati dengan benar, Sifilis yang merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan bakteri Treponema Pallidum, dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ pada otak, sistem saraf serta jantung bahkan dapat mengancam jiwa. Sifilis bersifat silent, bekerja dengan diam dengan faktor-faktor risiko yang harus diwaspadai, yaitu melakukan hubungan seks tanpa pengaman, lebih dari 1 pasangan serta hubungan seks pria dengan pria.

 

Penting untuk dicatat, bahwa orang dengan HIV lebih rentan terhadap penularan sekaligus dapat menjadi penyebar sifilis. Sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil ke janinnya. WHO menyatakan, Sifilis dalam kehamilan adalah penyebab kedua terbanyak adanya stillbirth, prematuritas, berat lahir rendah, kematian neonatal, dan infeksi pada bayi baru lahir. Oleh karena itu, jika memang merasakan gejala-gejala khas Sifilis, seperti luka pada genital yang tidak sakit dan terdapat ruam di bagian tubuh, maka dianjurkan untuk segera berkonsultasi kepada dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin.


Melihat hal ini, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDSV, CEO Klinik Pramudia, dalam membuka Seminar Media Klinik Pramudia hari ini mengatakan, “Pengetahuan masyarakat terhadap penyakit Sifilis sampai saat ini masih minim, termasuk tentang deteksi dini terhadap penyakit ini. Padahal Sifilis merupakan Penyakit Infeksi Menular Seksual yang dapat menyerang organ lain seperti jantung, otak dan saraf pada tahap lanjut di kemudian hari. Di samping itu, Sifilis dapat berpengaruh terhadap kehamilan dan dapat menyebabkan kecacatan. Dengan demikian, harus dilakukan pemutusan rantai penularan penyakit ini.”


“Klinik Pramudia, sebagai Pionir Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin swasta, yang tahun ini bergiat melakukan kampanye #SembuhGakPerluMalu dapat memberikan kontribusi terhadap kesehatan kulit dan kelamin di Indonesia dengan membagi ilmu dan edukasi mengenai penyakit Sifilis kepada seluruh masyarakat. Kami mendorong agar masyarakat mau melakukan deteksi dini dan meningkatkan kesadaran berobat untuk sembuh tanpa perlu disertai rasa malu,” himbaunya.

 

Dr. dr. Wresti Indriatmi, SpKK(K), M.Epid, Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyatakan pentingnya untuk meningkatkan awareness terhadap penyakit Sifilis. “Sifilis merupakan penyakit sistemik yang gejalanya tergantung pada stadium penyakitnya. Jika tidak segera diobati, penyakit berkembang dalam stadium dengan gambaran klinis yang bervariasi dan tidak khas, kemudian bisa menjadi komplikasi serius. Jika diobati dini, komplikasi sedikit. Seseorang yang menderita penyakit sifilis dapat mempermudah tertular HIV, demikian juga sebaliknya,” jelas dr. Wresti.

 

dr. Wresti menjelaskan, terdapat 4 tahapan stadium atau tingkatan Sifilis: Sifilis primer, Sifilis sekunder, Sifilis laten, dan Sifilis Tersier. Pada Sifilis primer, bakteri memperbanyak diri pada tempat inokulasi dan membentuk chancre (lesi pada kulit yang keras, tidak gatal, biasanya berdiameter antara 1 cm dan 2 cm). Pada Sifilis sekunder, Sifilis menyebar ke kelenjar getah bening setempat, kemudian ke pembuluh darah. Pada Sifilis laten, Sifilis sudah mulai mengenai banyak organ tubuh. Hingga akhirnya pada tingkatan Sifilis tersier, terjadi infeksi/inflamasi pembuluh darah dalam susunan syaraf pusat dan sistem kardiovaskular, atau membentuk lesi gumma. Jika infeksi tidak diobati akan merusak organ-organ tubuh seperti kebutaan, jantung, otak, saraf, pembuluh darah, tulang, kelumpuhan, dimensia, tuli, impotensi, hati bahkan kematian.

 

Berdasarkan penjelasan dr. Wresti, tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan pada gejala sifilis laki-laki atau perempuan. Namun, penderita laki-laki cenderung lebih banyak dibandingkan perempuan. Sifilis menular melalui hubungan seks (genito-genital, ano-genital, oro-genital), menular dari ibu hamil kepada bayi/janin saat dalam kandungan atau ketika melewati jalan lahir yang terdapat lesi sifilis, atau menular melalui darah atau produk darah yang tercemar. “Sifilis paling mudah menular kepada pasangan seksual dalam stadium primer dan sekunder. Perkiraannya, 3-10% tertular dalam satu kali hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi Sifilis. Masa inkubasinya berkisar 10-90 hari, namun umumnya 21 hari,” tambah dr. Wresti.


Tentang tahapan pemeriksaan terhadap Sifilis, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDSV menjelaskan, “Terdapat 4 tahap pemeriksaan terhadap Sifilis. Pertama, pemeriksaan fisik pada selaput lendir dan kulit pada stadium primer dan sekunder. Kedua, pemeriksaan Lab serologi darah (VDRL, TPHA), lazim digunakan untuk skrining awal dan lanjut. Ketiga, pemeriksaan Dark-Field Microscopy dan keempat, pemeriksaan CSF/Carian Serebrospinal pada Neurosifilis.”


Jika sudah diketahui bahwa seseorang terkena Sifilis, maka perlu segera dilaksanakan tatalaksana pengobatan Sifilis. Hingga saat ini Bakteri Treponema Pallidum masih sensitif terhadap antibiotik Penisilin, sehingga obat pilihan utama terapi tetap dengan pemberian antibiotik golongan penisilin. Pemberian penisilin dapat melalui oral atau injeksi intramuskular dengan dosis yang berbeda-beda, tergantung stadium penyakit sifilis dan co-morbidititas (penyakit/kondisi penyerta).


“Di Klinik Pramudia, kami memberikan perhatian pada penyakit Sifilis. Sebelum dilakukan pengobatan maka pasien akan menjalani sesi konsultasi dan pemeriksaan fisik terhadap pasien yang dilakukan oleh dokter spesialis kulit dan kelamin yang berpengalaman dan etis. Bila diperlukan, pasien akan mendapat rujukan pemeriksaan labolatorium sesuai dengan instruksi dokter spesialisnya. Lalu pengobatannya tergantung pada stadium. Beberapa pasien juga dimungkinkan untuk mendapat terapi tambahan jika dibutuhkan,” tutur dr. Anthony.


Namun pada praktiknya, terdapat tantangan dalam tatalaksana pengobatan ini yaitu ketidakpatuhan berobat pada pasien. “Hal ini karena pasien sendiri kurang dalam edukasi dan awareness terhadap penyakitnya. Selain itu, pasien juga mungkin khawatir karena akan timbulnya sedikit nyeri atau kurang nyaman beberapa saat setelah mendapat injeksi intramuscular. Oleh karena itu, pasien harus teredukasi jika tidak ingin Sifilis berlanjut ke stadium yang lebih berat,” tutupnya. (red)