Si Kecil Susah Tidur

Baby & Kids - 04 Jul 2019

Tidak hanya orang dewasa yang mengidap insomnia, anak-anak pun dapat mengalaminya. Meski tidak digolongkan sebagai penyakit, namun jangan remehkan insomnia. Kurang tidur dapat menyebabkan masalah perilaku dan penurunan nilai akademik anak.

 Insomnia adalah gangguan tidur, yakni suatu keadaan seseorang dengan kuantitas dan kualitas tidur yang kurang. Seperti orang dewasa, anak-anak yang menderita insomnia merasa sulit memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik di malam hari. Selain mengantuk di siang hari, gejala insomnia masa kanak-kanak mencakup:

-              Lekas marah

-              Mood swing

-              Hiperaktif

-              Depresi

-              Sifat agresif

-              Rentang perhatian menurun

-              Daya ingat melemah

-              Rentan mengalami kecelakaan

 

Penyebab Anak Insomnia

Ada beberapa penyebab anak insomnia, termasuk:

•             Stres. Sama seperti orang dewasa, anak-anak pun bisa menderita stres. Beri perhatian pada mereka dan bangun kepercayaan, sehingga mereka merasa nyaman berbagi masalah pada orangtuanya. Tanyakan bagaimana hari-hari mereka di sekolah, apakah berjalan lancar atau ada hambatan dan sebagainya.

•             Penggunaan kafein atau stimulan lainnya. Beberapa minuman soda mengandung kafein.

•             Efek samping obat tertentu. Misalnya obat yang digunakan untuk mengobati gangguan Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan hiperaktivitas dan defisit perhatian (GHDP), antidepresan , kortikosteroid , dan antikonvulsan dapat menyebabkan insomnia.

•             Gangguan medis, kejiwaan dan gangguan tidur lainnya. Asma yang kambuh di malam hari, hidung tersumbat, serta alergi (gatal, eksim) dapat mengganggu nyenyaknya tidur anak. Gangguan medis lainnya termasuk fibromyalgia , kram otot, nyeri pertumbuhan, mulas dan penyakit tiroid semua dapat menyebabkan insomnia. Pastikan Anda memeriksa kondisi kesehatan anak, apakah ada kemungkinan menyebabkan insomnia. Gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea (terkait dengan mendengkur) dan sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome) dapat mengganggu tidur anak. Gangguan perkembangan saraf seperti autisme, keterbelakangan mental dan sindrom Asperger juga menyebabkan insomnia. Kondisi kejiwaan seperti depresi dan bipolar disorder juga dikaitkan dengan kesulitan tidur.

•             Faktor lingkungan. Suara bising, hawa panas dan dingin , serta kondisi cahaya di kamar tidur dapat menganggu kualitas  tidur anak.


Treatment untuk Anak Insomnia

Ada sejumlah metode pengobatan untuk anak pengidap insomnia, antara lain:

# Menerapkan kebiasaan tidur yang baik. Ini meliputi jadwal tidur anak yang teratur (tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari termasuk akhir pekan dan hari libur);  menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang (hening) untuk tidur;  biasakan mematikan lampu, atau kalau pun menggunakan penerangan sebaiknya remang-remang saja;  tidak membiarkan anak mengerjakan sesuatu di tempat tidur seperti membuat PR, membaca buku, main game atau nonton tv.

# Hindari produk berkafein 4-6 jam sebelum tidur seperti kopi, teh, soda, minuman berenergi dan cokelat.

 # Ajari anak untuk relaksasi. Perkenalkan padanya teknik menarik napas dalam-dalam dan teknik relaksasi lainnya untuk membantu anak tidur nyenyak.

 # Pindahkan jam dinding dari kamar anak. Melihat jam saat hendak mencoba tidur hanya membuat anak merasa cemas, sehingga membuatnya lebih sulit tertidur. Tetaspkan waktu tidur sehingga anak mendapatkan jumlah tidur yang sesuai usianya. Anak-anak usia 6 hingga 12 tahun membutuhkan waktu tidur 10-11 jam setiap malam, sedangkan remaja membutuhkan  sekitar 9 jam tidur setiap malam.

 # Meminimalisir stres. Perhatikan kondisi mental anak Anda. Tanyakan apakah ada masalah di lingkungan sekolah atau bermain anak. Apakah ia di-bully, dikucilkan dan sebagainya. Jika anak bisa berbagi masalah dengan orangtua, akan meminimalisir stres yang mereka derita.

Penggunaan Obat Tidur

Jika segala treatment sudah dicoba namun tidak membantu, sebaiknya konsultasikan pada dokter anak Anda. Terlebih jika masalah gangguan tidur mempengaruhi perilaku sehari-hari dan prestasi anak di sekolah. Untuk masalah tidur yang sulit, dokter mungkin meresepkan obat tidur seperti melatonin atau obat penenang untuk membantu anak tidur.

-              Obat tidur biasanya digunakan untuk jangka waktu yang pendek, misalnya hari atau bulan dengan  strategi perilaku  untuk meningkatkan kebiasaan tidur anak. Menggunakan strategi pengobatan dan perilaku bersama-sama membantu menjaga kebiasaan tidur yang baik ketika anak berhenti minum obat . Jangan lupa tanyakan kemungkinan efek samping yang ditimbulkan pada pemakaian obat tidur.

-              Penggunaan obat penenang (termasuk obat antihistamin Vallergan dan Phenergan) hanya di bawah pengawasan  dokter Anda. Obat-obatan  ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia tiga tahun. Obat ini menimbulkan efek samping seperti mudah tersinggung, hiperaktif, perilaku menantang pada beberapa anak dan mengantuk pada siang hari.

-              Jika anak Anda memiliki masalah perilaku, misalnya  ADHD atau ASD , atau masalah  seperti cerebral palsy (keterlambatan perkembangan), dan juga menderita gangguan tidur, bicarakan hal ini dengan dokter anak Anda untuk mendapatkan resep obat tambahan. (red)

 foto: workingmother.com