Roseola Infantum, The Sixth Diseases

Baby & Kids - 17 Sep 2019

Jangan terkecoh mendengar nama roseola infantum. Namanya tidak seindah akibat yang ditinggalkannya. Karena ini adalah nama penyakit yang umum terjadi pada anak balita. 

Jika mendengar nama roseola infantum, mungkin kita akan mengira ini adalah jenis spesies anggrek tertentu. Banyak pula yang salah sangka terhadap penyakit ini dan menyamakannya dengan campak, karena ciri-cirinya yang sama. Karena itulah penyakit ini sering disebut sebagai penyakit ke-6 atau sixth disease, yakni karena gejalanya berupa bercak kemerahan pada kulit seperti lima penyakit lainnya. Ke-lima penyakit itu adalah: campak, penyakit Dukes, campak Jerman, penyakit Scarlet dan eritrema infeksiosum.

Penyakit ini sering diderita bayi dari usia 6 bulan sampai 3 tahun. Banyak para ibu yang merasa khawatir dan cemas berlebihan, karena pada awalnya (fase prodromal) anak-anak yang terkena penyakit ini akan mengalami panas tinggi mendadak 39,4 - 40,6 °Celsius. Bahkan, 5-15% di antara mereka mengalami kejang disebabkan demam. Walaupun tanda petunjuk adalah berupa ruam merah di sekujur tubuh yang menetap hingga beberapa hari, kebanyakan anak yang terinfeksi juga mengalami demam, batuk, dan mungkin diare. “Banyak orangtua yang tidak pernah tahu anaknya mengalami roseola,” kata Philip R. Fischer, MD, di Rochester, Minnesota. “Tanpa ruam, roseola hanya tampak seperti demam atau pilek,” lanjutnya. Nah dengan ruam, roseola malah tampak seperti campak. 

Roseola adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Herpes tipe 6 dan 7. Virus ini disebarkan melalui percikan ludah penderita. Masa inkubasi (mulai terinfeksi sampai timbulnya gejala) adalah sekitar 5-15 hari. Biasanya penyakit ini berlangsung selama 1 minggu.

Gejala-gejala:

• Demam antara 39–40 °C selama 3 hari. Bila ada riwayat kejang dalam keluarga, demam dapat disertai kejang. Bayi seringkali terlihat lemah tidak bertenaga, rewel, dan cepat mengantuk.

• Ruam kemerahan muncul setelah demam turun. Di sinilah yang harus diperhatikan, pada roseola infantum ruam ini muncul setelah demam reda. Sedangkan pada campak, ruam ini muncul saat penderita masih demam. Ruam bisa muncul di seluruh tubuh, atau hanya pada bagian tertentu seperti sekitar wajah, leher dan dada. Bila bercak tersebut ditekan, akan terlihat bekas seperti halo (berbentuk bulat berwarna putih seperti awan). Ruam ini tidak berubah menjadi bernanah atau timbul cairan, dan tidak gatal. Mata bayi biasanya berair dan terlihat kemerahan, bibir pecah-pecah. Umumnya, bercak akan berubah warna menjadi hitam kecokelatan, hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. 

• Lainnya: diare, batuk, pilek dan radang tenggorokan.

• Komplikasi. Selain kejang, komplikasi lain yang mungkin timbul meski sangat jarang terjadi adalah pembengkakan kelenjar limfa di leher dan radang selaput otak (meningitis). Selain itu, dapat pula terjadi komplikasi yang berat seperti radang paru (pneumonia) yang dapat berakibat fatal. 

Cara penanganan:

• Turunkan demamnya. Beri obat penurun demam yang aman untuk anak, seperti asetominofen dan ibuprofen, baik dalam bentuk obat tetes atau sirup. Jangan gunakan aspirin, sebab bila bereaksi dengan virus dapat memicu timbulnya sindroma Reye (menyebabkan pembengkakan hati dan otak).

• Kompres Si kecil. Gunakan handuk atau lap bersih yang dibasahi air hangat. Tidak disarankan mengompres dengan es batu, air dingin, atau alkohol. Juga jangan memandikan Si Kecil dengan air dingin.

• Beri banyak cairan, untuk mencegah dehidrasi akibat demam tinggi dan berkeringat. Cairan yang diberikan bisa berupa ASI, air putih, larutan gula garam, cairan elektrolit (oralit) atau kaldu.

• Bawa ke dokter atau rumah sakit, bila Si Kecil kejang, kesadarannya menurun, sesak napas, atau tidak mau makan dan minum.

• Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 5–15 hari dan umumnya akan sembuh dalam waktu sekitar 1 minggu. 

Karena tidak ada vaksin untuk mencegah roseola, hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk mencegah penyebaran roseola adalah dengan menjaga agar anak Anda tidak terlalu dekat dengan anak yang terinfeksi. Sebaliknya, jika anak Anda sedang mengalami roseola, sebaiknya tidak terlalu dekat dengan anak lain.

Sebagian besar orang memiliki antibodi terhadap roseola saat mereka masuk usia sekolah, hal ini menyebabkan mereka tidak akan terinfeksi ulang terhadap roseola ini (sudah imun). Namun demikian, jika salah satu keluarga terpapar virus, pastikan seluruh anggota keluarga sering mencuci tangan sampai bersih untuk menghindari penyebaran virus kepada seseorang yang belum imun terhadap penyakit ini.

Tak Perlu Antibiotik

Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, maka pengobatan dengan antibiotik tidak diperlukan. Terapi pada kasus ini hanyalah untuk menurunkan demamnya. Pemberian asetaminofen, parasetamol atau ibuprofen relatif aman untuk menurunkan demam. Sedangkan, pemberian aspirin pada anak-anak sangat tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan sindroma Reye. Sebaiknya anak dikompres dengan menggunakan handuk atau lap yang telah dibasahi dengan air hangat (suam-suam kuku). Jangan menggunakan es batu, air dingin, alkohol maupun kipas angin. Usahakan agar anak minum banyak air putih atau susu. Bila anak mengalami kejang demam, segera bawa ke dokter terdekat. Intinya, jangan panik dan tetap tenang. Jika penyakit ini terjadi pada pasien dengan sistem kekebalan rendah, maka dokter sering memberikan obat antiviral agar tidak bertambah parah. (Red)