Family Guide Indonesia

Orangtua Sebaiknya Jangan Bangga Dengan Anak Gemuk?

Baby & Kids - 27 Jun 2020

Pentingnya pemenuhan gizi di awal kehidupan bagi pertumbuhan positif generasi sebuah bangsa sudah terlihat di berbagai negara. Pemenuhan gizi awal kehidupan sebagai modal untuk membangun hidup sehat, cerdas, dan produktif bagi generasi mendatang harus menjadi perhatian semua negara termasuk Indonesia. 

Di Indonesia, pemenuhan gizi dapat difokuskan pada zat gizi yang mana masih ditemukan kondisi defisiensinya yaitu mencakup protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsium,yodium, zinc (seng), vitamin A, vitamin D, dan asam folat. Dr. Martine Alles, Direktur Developmental Physiology & Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition Belanda dalam kunjungannya ke Jakata beberapa waktu lalu mengatakan, seribu hari pertama kehidupan adalah periode penting bagi pertumbuhan anak-anak, karena pada periode ini terjadi pertumbuhan fisik dan penambahan masa otak, serta pengembangan signifikan kemampuan kognitif, tulang, imunitas, sistem pencernaan, dan organ-organ metabolisme. “Kualitas pertumbuhan yang dialami pada periode ini akan mempengaruhi kesehatan mereka di masa depan,” kata Alles dalam diskusi media ‘Nutritalk’ yang diselenggarakan Sarihusada di Jakarta, beberapa waktu lalu. Alles menambahkan, bangsa Belanda telah membuktikan pengaruh kuat gizi terhadap kualitas pertumbuhan di awal kehidupan. 

Pada Perang Dunia II, wanita-wanita Belanda yang mengalami kurang gizi dan gizi buruk akibat kelaparan, melahirkan bayi-bayi dengan berat badan lahir rendah dan memiliki risiko tinggi terhadap obesitas, sindrom metabolisme, dan diabetes pada usia dewasa. Kasus internasional juga menunjukkan vitamin D sebagai salah satu zat gizi yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan anak-anak. Pada abad sembilan belas terjadi insiden penyakit riketsia (pertumbuhan tulang dalam bentuk abnormal) yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, khususnya di daerah perkotaan, yang disebabkan oleh kurang terpaparnya anak-anak pada sinar matahari. 

Pengobatan yang dilakukan kemudian adalah penggunaan minyak ikan pada abad dua puluh dan penetapan vitamin D sebagai fortifikasi mentega sejak 1961. “Meningkatnya penyakit riketsia ternyata menyingkap manfaat lain vitamin D, yakni selain memperbaiki pertumbuhan tulang, vitamin ini juga berpengaruh terhadap imunitas adaptif,” jelas Alles. Asupan rendah vitamin D, kekurangan dan ketidakcukupan vitamin ini tidak hanya terjadi pada anak-anak di Eropa, tetapi juga di Asia. Indonesia termasuk negara yang menunjukkan prevalensi kekurangan vitamin D pada anak yang cukup tinggi. Studi SEANUT Indonesia 2013 menunjukkan prevalensi kekurangan vitamin D pada anak-anak Indonesia berumur 2 - 4,9 tahun adalah sebesar 42,8 persen di desa dan 34,9 persen di kota. 

Di kesempatan sama Prof Hardinsyah, M.S, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Teknologi Bogor, menyoroti mengenai masalah gizi di Indonesia yang masih memprihatinkan. Ini terlihat dari jumlah balita bertumbuh pendek (stunting) akibat kekurangan gizi di Indonesia yang angkanya di kisaran 37,2 persen atau 8,8 juta balita Indonesia pada 2013. “Pemenuhan gizi seimbang terutama bagi calon ibu hamil, ibu menyusui dan balita terus diperlukan,” ujar Hardinsyah. Ini terutama difokuskan pada zat gizi yang masih defisiensi seperti protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsium, yodium, seng, vitamin A, vitamin D dan asam folat. Hardinsyah juga mengingatkan Indonesia menghadapi beban gizi ganda. 

Di sisi lain anak Indonesia kekurangan nutrisi, namun banyak juga kasus obesitas atau kegemukan pada anak-anak. Kegemukan pada anak umumnya akan berlanjut hingga dewasa dan menimbulkan sejumlah risiko penyakit serius di masa mendatang jika tak ditangani dengan baik. “Karena itu, penting sekali untuk membiasakan anak menjalani gaya hidup sehat dengan gizi seimbang sejak dini,” paparnya. Profesor yang rajin memberikan ‘kultwit’ di Twitter terkait masalah gizi ini mengatakan, sebanyak 60 persen anak-anak yang gemuk setelah usia tiga tahun akan kembali gemuk saat dia dewasa. “Tipenya itu bisa gemuk seterusnya, atau bisa juga turun kemudian gemuk lagi," kata dia. Hal ini terjadi karena sel-sel anak obesitas tidak hanya tumbuh menjadi besar, tetapi juga bertambah jumlahnya. "Jika anak terbiasa mengonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat, glukosanya akan tinggi, kemudian tersimpan menjadi cadangan lemak," ujarnya. Melihat dampak negatif yang ditimbulkan, Hardinsyah mengingatkan para orangtua agar tak lagi berpikir kalau anak gemuk itu lucu dan menggemaskan. "Pemahaman itu sangat keliru. Justru obesitas bisa menjadi awal munculnya berbagai macam penyakit serius," tandas Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Sumber: DokterDigital

Foto: inlifehealthcare.com