Menjalani Ramadan Bersama Balita

Baby & Kids - 11 May 2019

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan ke sembilan dalam penanggalan Islam. Di bulan inilah, umat Muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa dan melakukan sahur sebelum matahari terbit dan berbuka puasa setelah matahari terbenam.

Puasa merupakan bentuk ibadah yang dimaksudkan untuk membangun disiplin diri dan melatih diri menahan hawa nafsu. Selain itu, puasa juga membangun nilai kebajikan karena menolong untuk membangun empati terhadap mereka yang kurang mampu untuk menikmati makanan yang cukup dan baik. Ibadah puasa merupakan ibadah yang diwajibkan bagi kaum dewasa dan remaja yang sudah memasuki usia pubertas. Sedangkan anak-anak tidak diwajibkan untuk melakukan ibadah puasa. 

Akan tetapi, di banyak keluarga, tidak sedikit anak-anak yang belum memasuki usia pubertas ingin turut melakukan ibadah puasa, karena ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan spesial yang berlangsung di keluarga dan komunitasnya. Selain itu, anak-anak pada umumnya senang untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya.

Tentunya kegiatan berpuasa bagi anak-anak yang belum cukup umur perlu disikapi dengan bijak, berdasarkan kondisi kesehatan anak tersebut serta budaya keluarga dimana anak itu berada. Secara umum, dari sudut pandang medis, berpuasa penuh tidaklah disarankan bagi anak yang belum melewati usia balita. Bila anak masih berusia balita dan ingin turut melakukan ibadah puasa, lebih disarankan untuk mulai berlatih berpuasa selama beberapa jam dalam sehari dahulu. 

Di saat awal berpuasa, anak umumnya akan merasakan lapar. Bila anak masih kecil, biasanya tidak mudah baginya untuk membedakan perasaan lapar dengan sakit perut. Agar anak dapat melewati jam-jam berpuasanya dengan baik, akan menolong bila orangtua dapat membekali anak dengan cara mengetahui apakah sakit perut yang dirasakannya itu adalah karena lapar ataukah karena penyebab lain yang memerlukan perhatian lebih. 

Misalnya, orangtua dapat mengajarkan anak untuk berjalan-jalan saat perutnya mulai terasa sakit, untuk melihat apakah hal itu menyebabkan seluruh tubuhnya terasa tidak enak ataukah tetap hanya perutnya saja yang terasa sakit. Bila dengan berjalan-jalan seluruh tubuhnya terasa tidak enak, orangtua perlu mengajarkan anak untuk segera memberitahu orang dewasa di sekitarnya dan tidak meneruskan berpuasa. Namun bila dengan berjalan-jalan hanya perutnya saja yang terasa sakit karena lapar, ada baiknya orangtua menyemangati anak untuk tetap berpuasa. Misalnya, orangtua dapat memberitahu anak bahwa di saat demikian perutnya sedang melakukan penyesuaian terhadap kegiatan berpuasa yang sedang ia latih, sehingga bila usianya cukup, ia dapat berpuasa penuh dengan baik. 

Dalam konteks demikian, orangtua perlu memberikan perhatian lebih terhadap hal-hal berikut terkait asupan anak di masa tersebut untuk memastikan agar kesehatan anak tetap terjaga. 

1.  Asupan Karbohidrat yang Cukup

Asupan karbohidrat diperlukan oleh tubuh anak untuk menghasilkan energi bagi aktivitas fisik dan kognitifnya. Karbohidrat dapat ditemukan dalam nasi, roti, sereal, ataupun oatmeal. Asupan karbohidrat anak balita biasanya berkisar antara empat sampai lima takaran penyajian per hari. Dimana satu takaran penyajian biasanya berupa sepotong roti, setengah mangkuk serela atau oatmeal, atau setengah mangkuk nasi. Yang perlu diperhatikan orangtua adalah sedapat mungkin karbohidrat diberikan dalam bentuk karbohidta kompleks, seperti nasi merah atau roti gandum.

2. Asupan Protein yang Cukup

Asupan protein secara umum terbagi menjadi protein hewani yang dapat ditemukan dalam berbagai jenis daging hewan (sapi, ikan, ayam, dll) dan telur, serta protein nabati yang banyak terkandung dalam kacang-kacangan serta olahannya seperti tahu dan tempe. Jenis-jenis makanan yang banyak mengandung protein hewani biasanya juga kaya zat besi. Secara umum, setiap harinya seorang balita membutuhkan sekitar 3-4 ukuran penyajian protein. Adapun satu ukuran penyajian protein dapat berupa 1 ons daging, sebutir telur atau 1 sendok makan selai kacang.

3. Asupan Serat yang Cukup

Asupan serat dapat diperoleh tubuh melalui sayuran dan buah-buahan. Sayuran dan buah-buahan juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh anak. Sebaiknya orangtua mengusahakan agar anak sedapat mungkin memakan sayuran dan buah dengan berbagai warna, agar vitamin dan mineral yang diperolehnya relatif lengkap. Dari segi jumlah, umumnya setiap hari seorang anak balita membutuhkan 1,5 mangkuk sayuran dan 1,5 mangkuk buah-buahan.

4. Asupan Kalsium yang Cukup

Kalsium merupakan nutrisi yang sangat diperlukan oleh tubuh untuk membantu kerja jantung, syaraf dan otot. Kalsium juga sangat penting bagi kesehatan tulang, karena 90% persediaan kalsium dalam tubuh disimpan di tulang. Balita sangat memerlukan asupan kalsium yang cukup, agar dapat memaksimalkan pertumbuhan tulangnya dan mencegah tulang keropos dan mudah patah. Asupan kalsium biasanya dapat ditemukan pada susu hewan dan produk olahannya, seperti smoothies, yogurt, milkshake, keju dan es krim. Setiap hari, seorang balita biasanya membutuhkan sekitar satu sampai dua mangkuk susu atau produk olahannya.

Selain memberikan tantangan lebih bagi orangtua terkait asupan anak, sesungguhnya masa di mana balita mulai ingin berpartisipasi dalam kegiatan berpuasa merupakan momen yang bisa dimanfaatkan orangtua untuk menjelaskan ibadah puasa; bahwa berpuasa tidaklah sekedar berlatih menahan lapar, tetapi juga berlatih membangun kebajikan dalam hidup, membuang kebiasaan lama yang buruk dan membangun kebiasaan baru yang baik. Untuk itu, selama bulan puasa, orangtua dapat mengajak anak untuk membiasakan menyisihkan uang sakunya untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan, mengajak anak membantu menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, membangun kebiasaan makan bersama dengan anak dan pasangan saat berbuka puasa, ataupun membiasakan membaca kitab suci Al-Quran bersama setiap malam. (ES)