Masih Kecil Sudah Bisa Marah-Marah

Baby & Kids - 25 Oct 2019

Setiap orangtua ingin memerlakukan anaknya dengan sikap menghargai dan tenggang rasa, sebagaimana mereka memperlakukan orang dewasa lainnya. Kenyataannya, banyak orangtua yang terbawa emosi ketika menghadapi anak yang tak menurut.

Contoh kasus yang banyak ditemui adalah, saat berada di tempat perbelanjaan, ketika orangtua menolak rengekan anak yang minta dibelikan sesuatu dan menjelaskan dengan baik alasan menolak permintaan anak. Parahnya, rengekan anak semakin menjadi-jadi bahkan bisa berkembang menjadi tantrum. Di saat inilah, orangtua sering lepas kendali dan marah terhadap anak. Orangtua biasanya akan menaikkan nada suaranya dan memberikan ultimatum kepada anak. Bahkan dalam beberapa kasus, orangtua tak dapat menahan diri dan memukul sang anak.

Mengontrol kemarahan memang tantangan yang umum bagi orangtua. Karena itu, berbagai hal terkait kemarahan akan kami kupas dalam pembahasan berikut, agar bisa menolong orangtua untuk lebih memahami dan mengelola kemarahannya dengan lebih baik, serta terdorong untuk mengganti kemarahan dengan teknik disiplin lain yang lebih efektif dalam mendidik anak.

Pemicu Kemarahan

Kemarahan biasanya muncul bila ada harapan atau ekspektasi yang tidak terpenuhi. Dalam konteks ini, respon berupa kemarahan terjadi secara natural. Fenomena tersebut terjadi sejak manusia dilahirkan. Misalnya, bayi yang lapar atau mengantuk, bila kebutuhannya tidak segera terpenuhi, akan bereaksi dengan kemarahan. Karena bayi belum dapat berkata-kata, kemarahannya diekspresikan melalui tangisan atau jeritan yang sering diikuti gerakan kaki dan tangan. Seiring bertambahnya usia, bentuk kemarahan anak semakin bervariasi seiring berkembangnya kemampuan verbal dan motoriknya. Bentuk ekspresi perasan marah batita dan balita umumnya tak hanya pada menangis dan menjerit. Mereka sudah mulai dapat mengekspresikan emosinya dengan kata-kata, gerakan kaki dan tangan yang lebih bervariasi, seperti melempar benda misalnya. Bila sejak masa ini anak tidak mulai diajarkan untuk mengelola perasaan marahnya dengan baik, maka pola ekspresi kemarahannya yang tidak terkendali tersebut akan terbawa terus sampai ia remaja dan dewasa.

 

 Dampak Negatif Kemarahan

Pada orang dewasa, kemarahan tidak hanya muncul karena kurangnya kemampuan mengendalikan emosi. Dalam beberapa kasus, khususnya orangtua, kemarahan sengaja ditunjukkan karena orangtua merasa bahwa hal tersebut adalah satu-satunya cara agar anak dapat melakukan apa yang diinginkan oleh orangtua. Walau dalam jangka pendek mungkin terlihat efektif, karena anak mungkin menuruti apa diinginkan orangtua saat orangtua marah, namun dampak negatif kemarahan terhadap perkembangan anak melebihi dampak lainnya yang seolah-olah positif tadi. Berikut adalah beberapa dampak negatif dari kemarahan orangtua kepada anak.

1. Dalam konteks jangka panjang, kemarahan tidak menolong anak untuk belajar memilih apa yang baik dan benar. Sejak usia tiga tahun, anak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan berdasarkan pemikiran, bukan sekedar berdasarkan intuisi atau refleks semata, seperti ketika mereka masih berusia di bawah tiga tahun. Yang diperlukan anak sejak usia tersebut adalah pengalaman-pengalaman yang melatihnya untuk memutuskan berdasarkan apa yang ia yakini sebagai hal yang baik dan benar, bukan berdasarkan keputusan mana yang tidak membuat orangtua marah. Untuk itu, yang ia butuhkan bukan kemarahan, melainkan kejelasan aturan dan konsekuensi bila ia berhasil atau gagal memenuhi aturan tersebut, serta konsistensi penerapan konsekuensi positif (reward) dan negatif (punishment).

2. Saat orangtua mengekspresikan kemarahan pada anak akibat perilaku anak yang tidak pada tempatnya, orangtua sebenarnya sedang memfokuskan pikiran dan perhatiannya kepada sang anak. Pemberian perhatian yang penuh ini, walau dalam bentuk yang tidak menyenangkan, dalam beberapa kasus, justru dapat mendorong anak untuk terus melakukan perbuatan tersebut. 

 

3. Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa kemarahan mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir. Oleh karena itu, bila orangtua dikuasai perasaan marah, maka kecil kemungkinan ia dapat mengomunikasikan dengan efektif apa yang ia ingin anaknya pelajari. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, dalam kondisi demikian, apa yang disampaikan orangtua kepada anak malah mungkin menimbulkan luka dalam hati anak.

4. Dampak negatif terbesar dari kemarahan terjadi bila orangtua sering tidak dapat mengendalikan perasaan marahnya terhadap anak. Dalam kontes ini, anak justru dicontohkan pengelolaan emosi yang sebenarnya tidak orangtua inginkan untuk ditiru anak. Bila kemarahan orangtua sering tidak terkendali, maka walaupun orangtua berulang-ulang memberikan nasihat kepada anak untuk mengelola perasaan marahnya dengan baik, kemungkinan besar anak akan meniru pola ekspresi kemarahan yang tidak terkendali yang dicontohkan orangtua. Hal ini karena anak belajar terutama dari contoh yang dimodelkan oleh orangtua.

Belajar mengelola kemarahan dengan baik adalah salah satu hal terpenting yang dapat diajarkan orangtua kepada anaknya. Agar anak dapat belajar mengelola perasaan marahnya dengan baik, anak perlu melihat model pengelolaan tersebut pada diri orangtuanya, dimana orangtua dapat bersikap tenang ketika menghadapi berbagai situasi negatif yang dapat memicu kemarahan, termasuk ketika memberikan hukuman kepada anak. Walau tidak mudah, namun hal tersebut sangat mungkin dilakukan karena sebagai orang dewasa, orangtua memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan anak untuk mengelola perasaan marah. Tentu saja, sebagai manusia, pasti akan ada saat di mana orangtua gagal mengelola perasaan marahnya dengan baik. Bila hal ini terjadi, orangtua tidak perlu berkecil hati. Selama kegagalan tersebut tidak sering, kegagalan itu tidak akan menjadi penghalang yang besar bagi anak untuk belajar mengelola perasaan marahnya. (DL)

foto: pro.psychcentral.com