Anak Gaptek VS Anak Gawai

Baby & Kids - 15 Feb 2019

Sekarang ini sudah menjadi pemandangan umum bila kita melihat anak kecil yang lihai bermain gawai atau gadget Kelihatannya sih keren, hightech, tidak gaptek, namun akan “berbahaya” bila tidak terkontrol karena dapat membawa dampak negatif pada pertumbuhan dan karakter mereka. 

Kemajuan teknologi dan informasi saat ini sebenarnya membawa dampak positif bagi kemajuan peradaban manusia. Karena dengan ini kita dituntut untuk selalu up to date dan sebisa mungkin tidak gagap teknologi alias gaptek. Untuk anak-anak sebenarnya boleh saja dikenalkan teknologi gawai seperti smartphone, tablet, notebook dan videogame, namun harus dalam batas-batas yang wajar, karena bila sudah kecanduan dapat menganggu konsentrasi dan aktivitas mereka sehari-hari.

Pengaruh pada Anak

Sebenarnya semua hal yang berbau teknologi diciptakan demi memudahkan manusia, begitu pula dengan gawai. Banyak manfaat yang terdapat dalam gawai contohnya saja smartphone yang memudahkan kita mengakses berbagai informasi dan juga dapat menghibur kita jika sedang kesepian dengan bermain game atau hanya sekedar memutar musik kesukaan kita. Namun di balik semua itu, sebenarnya para ahli menyarankan kita sebagai orangtua untuk tidak mengenalkan benda ini pada anak-anak terlalu dini. Memang sih, ada dampak positifnya yaitu bisa merangsang perkembangan kognitif anak, tapi dampak negatifnya, gawai tidak bisa mengasah perkembangan motorik dan sosialnya. 

Dampak Negatif

Bermain gawai dengan durasi yang lama dan dilakukan setiap saat bisa membuat perkembangan anak menjadi tidak peka terhadap lingkungan dan ini menjadikan mereka anti sosial. Efek ketagihan gawai bisa membuat anak lupa makan, malas belajar, kurang istirahat dan berperilaku agresif. Untuk anak yang diberikan gawai sejak kecil, anak tidak tertarik untuk beriteraksi dengan dunia nyata, bisa terlambat berkomunikasi (speech delay), gangguan di masalah konsentrasi dan sebagainya. Balita bisa saja diberikan gawai, namun jangan lupa agar mereka dapat bermain dengan anak-anak seusianya dan lebih banyak beraktivitas baik di luar rumah ataupun di dalam rumah.    

Pengawasan

Penggunaan gawai oleh anak boleh-boleh saja, namun harus dalam tahap pengawasan. Jika tidak diawasi akan berdampak buruk dikarenakan banyaknya konten-konten negatif yang bermunculan seperti kekerasan, pornografi dan sebagainya. Hal ini dikarenakan permainan dalam gawai (video game, game online) banyak yang mengandung adegan kekerasan dan ini mudah sekali ditiru oleh anak-anak. Selain itu penggunaan gawai berlebihan akan berdampak pada kesehatan mereka, seperti pusing, gangguan motorik dan penurunan daya pengelihatan. Nah bisa dibayangkan bagaimana kondisi anak yang terus menerus menggunakan gawai. Bila sudah terlanjur memberikan gawai pada anak, kita harus segera mungkin membatasinya. Boleh saja sesekali diberikan, namun harus diperhatikan berapa lama durasi anak bermain dengan benda tersebut. Intinya tidak gaptek namun juga jangan terlalu kecanduan.

Memberi Perhatian

Salah satu kesalahan orangtua terhadap anaknya adalah, kurangnya memberi perhatian yang lebih. Mungkin kita sebagai ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang memperhatikan anak, atau sebagai ibu yang sudah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai. Karena sibuk ini kita beralasan memberikan mereka gawai untuk menemani mereka. Namun sebenarnya anak butuh sentuhan lebih, bukan sekedar gawai yang dapat mengalihkan perhatian mereka. Ajaklah anak dan keluarga untuk berlibur, atau sekedar hanya jalan-jalan ke mall. Ya tentunya kegiatan yang bermanfaat dan lebih membuat anak untuk bergerak dan berinteraksi. Dalam hal ini, kerjasamalah dengan istri untuk mendiskusikan hal-hal yang menarik untuk menciptakan suasana lebih hangat dalam keluarga. Dengan begitu, anak bisa meletakkan sejenak gawai dan memulai aktivitas barunya. (DL)

Mengatasi Anak Kecanduan Gawai:

1. Kurangi dan batasi frekuensi anak bermain gawai secara bertahap. Misalnya seharian 6 jam, selanjutnya batasi hanya 2 jam.

2. Ajak anak bersosialisasi dengan teman sebaya dan usahakan jangan bermain gawai namun permainan lainnya yang memakai fisik misalnya bersepeda, bermain bola dan sebagainya.

3. Orangtua juga harus memberi contoh, bila anaknya dilarang bermain gawai, usahakan orangtua juga mengurangi durasi bermain.

4. Kalau tidak bisa dibatasi, buat aturan khusus dan menyita sementara gawainya.

5. Selalu mendampingi anak ketika sedang bermain gawai, sesekali pantau apa yang mereka tengah buka.

foto: thestatesman.com